Pankreatitis Akut pada Wanita 25 Tahun karena Diet Ekstrem
Gambar atau konten salah?
Qingqing, seorang wanita berusia 25 tahun dari Hangzhou, Zhejiang, China, dilarikan ke ruang gawat darurat pada 13 Juni 2026 setelah mengalami Pankreatitis Akut. Penyakit ini terjadi setelah ia menjalani pola diet ekstrem yang menggabungkan periode kelaparan dengan satu hari makan berlebihan setiap minggu.
Awalnya, Qingqing memiliki berat badan 55 kilogram dan tinggi badan 1,5 meter. Untuk menurunkan berat badan, ia merancang rencana diet yang menahan lapar selama 6 hari berturut-turut, lalu pada hari terakhir ia mengonsumsi makanan apa pun yang diinginkannya. Selama periode kelaparan, asupan energinya dibatasi di bawah 800 kalori per hari.
Selama masa kelaparan, ia tidak mengonsumsi makanan pokok. Dietnya hanya terdiri dari sayuran rebus, dada ayam, dan buah-buahan rendah gula. Metode ini seolah‑olah berhasil secara instan, karena berat badan Qingqing turun drastis menjadi 47,5 kilogram dalam satu bulan, menurunkan 7,5 kilogram dari berat awalnya.
Masalah muncul ketika ia memasuki hari bebas makan, atau cheat day. Setelah menahan lapar selama enam hari, ia memutuskan untuk “balas dendam” dengan memakan satu ember besar ayam goreng di siang hari, lalu dua bungkus mi instan super pedas pada malam hari. Pola makan ini menambah beban tinggi lemak dan kalori pada tubuhnya.
Menjelang larut malam, Qingqing mendadak merasakan nyeri tajam yang menusuk perut, pinggang, hingga punggung. Ia juga mengalami muntah-muntah hebat yang tidak kunjung reda. Kondisi ini memaksa ia dilarikan ke The First Affiliated Hospital of Zhejiang University School of Medicine untuk penanganan lebih lanjut.
Tim dokter yang menangani kasus ini menyatakan bahwa kejadian seperti ini semakin marak di kalangan usia muda, akibat tren diet ketat yang disertai pola makan balas dendam. Mereka menjelaskan bahwa pola makan ekstrem memaksa organ pankreas bekerja melebihi batas, sehingga berada di ambang kehancuran.
Secara biologis, ketika seseorang melakukan diet ketat atau kelaparan dalam jangka panjang, pankreas akan menyesuaikan diri menjadi mode siaga dengan beban kerja sangat rendah. Selama masa ini, produksi enzim pencernaan berkurang drastis karena tidak ada makanan berat yang perlu diolah. Namun, ketika tiba‑tiba tubuh menerima makanan tinggi minyak, lemak, dan kalori dalam jumlah besar pada cheat day, pankreas dipaksa “kaget” dan harus sekresi enzim pencernaan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Dokter menjelaskan, “Enzim-enzim pencernaan ini akhirnya meluap dan justru berbalik menghancurkan serta merusak organ pankreas itu sendiri,” menegaskan bahwa kelebihan enzim ini dapat merusak jaringan pankreas.
Kasus ini menyoroti risiko diet ekstrem dan pola makan balas dendam. Meskipun penurunan berat badan tampak cepat, metode ini dapat menimbulkan komplikasi serius pada organ vital. Kesadaran akan dampak pola makan ekstrem penting bagi semua orang, terutama generasi muda yang sering terpengaruh oleh tren diet cepat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anne Hathaway Ungkap Katarak Dini Setelah Usia 30-an
Anne Hathaway Ungkap Katarak Dini, Mata Kiri Hampir Buta
Tantangan Teka‑Teki Matematika: Uji Pola dan Logika Anda
Air Putih Lebih Menarik: Tambah Lemon, Mint, Chia, Garam
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Berita Terbaru
