Perbedaan Hukum Sholat Idul Adha di Empat Mazhab Besar
Gambar atau konten salah?
Hari Raya Idul Adha merupakan momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain dirayakan dengan kurban, ibadah sholat Idul Adha biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka.
Menurut Ringkasan Ihya' Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, mayoritas ulama menilai sholat Idul Adha sebagai sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan. Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan mazhab besar Islam mengenai hukum pelaksanaannya.
Beberapa mazhab menganggap sholat Idul Adha sebagai sunnah, sementara yang lain menilai sebagai fardhu kifayah atau bahkan wajib. Berikut ulasan lengkap mengenai hukum sholat Idul Adha menurut empat mazhab besar.
Syafi'i dan Maliki menyatakan bahwa shalat Idul Adha termasuk sunnah muakkadah. Imam Asy-Syairazi menulis bahwa shalat Id termasuk ibadah sunnah. Kitab At-Taj wal Iklil juga menyebutkan bahwa sholat Id hukumnya sunnah muakkadah.
Alasan ini didukung oleh hadits Nabi Muhammad SAW kepada Arab Badui: فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَ اللَّيْلَةِ، فَقَالَ : هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُنَّ؟ قَالَ : لَا، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ (HR Muslim No. 11). Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Ada lima salat dalam sehari semalam.’ Lalu orang itu bertanya, ‘Apakah ada kewajiban lain bagiku selain itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali jika kamu ingin melakukan salat sunnah.’”
Hanbali berpendapat bahwa sholat Idul Adha adalah fardhu kifayah. Dalam Al-Mughni, Ibnu Qudamah menyatakan bahwa sholat Idul Adha merupakan fardhu kifayah menurut pendapat kuat mazhab Hanbali. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Kausar ayat 2: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ artinya “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Selain itu, mazhab Hanbali menekankan kebiasaan Rasulullah SAW yang selalu melaksanakan shalat Id secara terus-menerus. Menurut mereka, hal tersebut menunjukkan bahwa sholat Id termasuk syiar Islam yang penting.
Hanafi menganggap shalat Idul Adha sebagai wajib atau fardhu 'ain bagi setiap muslim. Imam Al-Kasani menulis bahwa pendapat yang benar dalam mazhab Hanafi adalah wajib. Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama Hanafi.
Alasan ini didasarkan pada kebiasaan Rasulullah SAW yang tidak pernah meninggalkan shalat Id, meski shalat sunnah lainnya seperti shalat malam Ramadan, shalat Kunuf, shalat Idul Fitri, dan Idul Adha biasanya dilakukan secara berjamaah.
Berikut tata cara sholat Idul Adha lengkap, mulai dari niat hingga salam, dirangkum dari buku Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet oleh Ibnu Watiniyah dan buku Fiqih Islam Terjemahan Matan Al-Ghayah Wa At-Taqrib oleh Jauharul Eka Mawahib dan Siti Sulaikho.
Niat Sholat Idul Adha berbeda antara imam dan makmum. Berikut niatnya:
• Imam: أُصَلَّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ (Arab Latin: Ushalli sunnatal li'idil adha rakataini mustaqbilal qiblati imåman lillahi ta'ala. Allahu Akbar.). Artinya: “Saya berniat sholat sunah Idul Adha dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai makmum/imam karena Allah Taala.” Allah Mahabesar.
• Makmum: أُصَلَّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ (Arab Latin: Ushalli sunnatal li'idil adha rakataini mustaqbilal qiblati ma'mûman lillahi ta'ala. Allahu Akbar.). Artinya: “Saya berniat sholat sunah Idul Adha dua rakaat dengan menghadap kiblat sebagai makmum/imam karena Allah Taala.” Allah Mahabesar.
Setelah niat, dilanjutkan dengan Takbiratul ihram dan doa iftitah. Selanjutnya, takbir tambahan sebanyak 7 kali dilakukan. Pada setiap jeda takbir, umat muslim membaca doa berikut ini:
سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (Arab Latin: Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar.). Artinya: “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar.”
Atau bisa membaca takbir di bawah ini:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (Arab Latin: Allâhu akbar kabîrâ, wal hamdu lillâhi katsîrâ, wa subhanallâhi bukrataw wa ashîlâ.). Artinya: “Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Mahasuci Allah, pada pagi dan petang.”
Selanjutnya, bacalah Surah Al-Fatihah:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ٧ (Arab Latin: Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm. Al-ḫamdu lillâhi rabbil-'âlamîn. Ar-raḫmânir-raḫîm. Mâliki yaumid-dîn. Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în. Ihdinash-shirâthal-mustaqîm. Shirâthalladzîna an'amta 'alaihim ghairil-maghdlûbi 'alaihim wa ladl-dlâllîn.). Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”
Setelah Al-Fatihah, bacalah Surah Al-A'la:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَىۙ ١الَّذِيْ خَلَقَ فَسَوّٰىۙ ٢وَالَّذِيْ قَدَّرَ فَهَدٰىۙ ٣وَالَّذِيْٓ اَخْرَجَ الْمَرْعٰىۙ ٤ فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۙ ٥ سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓۙ ٦ اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُۗ اِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ ٧ وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰىۙ ٨ فَذَكِّرْ اِنْ نَّفَعَتِ الذِّكْرٰىۗ ٩ سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَّخْشٰىۙ ١٠ وَيَتَجَنَّبُهَا الْاَشْقَىۙ ١١ الْلَّذِيْ يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرٰىۚ ١٢ ثُمَّ لَا يَمُوْتُ فِيْهَا وَلَا يَحْيٰىۗ ١٣ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ ١٤ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۙ ١٥ بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ ١٦ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ ١٧ اِنَّ هٰذَا لَفِى الصُّحُفِ الْاُوْلٰىۙ ١٨ صُحُفِ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰىࣖ ١٩ (Arab Latin: Sabbiḫisma rabbikal-a'lâ. Alladzî khalaqa fa sawwâ. Walladzî qaddara fa hadâ. Walladzî akhrajal-mar'â. Fa ja'alahû ghutsâ'an aḫwâ. Sanuqri'uka fa lâ tansâ. Illâ mâ syâ'allâh, innahû ya'lamul-jahra wa mâ yakhfâ. Wa nuyassiruka lil-yusrâ. Fa dzakkir in nafa'atidz-dzikrâ. Sayadzdzakkaru may yakhsyâ. Wa yatajannabuhal-asyqâ. Alladzî yashlan-nâral-kubrâ. Tsumma lâ yamûtu fîhâ wa lâ yaḫyâ. Qad aflaḫa man tazakkâ. Wa dzakarasma rabbihî fa shallâ. Bal tu'tsirûnal-ḫayâtad-dun-yâ. Wal-âkhiratu khairuw wa abqâ. Inna hâdzâ lafish-shuḫufil-ûlâ. Shuḫufi ibrâhîma wa mûsâ.). Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan, lalu menyempurnakan (ciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, dan yang menumbuhkan (rerumputan) padang gembala, lalu menjadikannya kering kehitam-hitaman. Kami akan membacakan (Al-Qur'an) kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa. Kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Kami akan melapangkan bagimu jalan kemudahan (dalam segala urusan). Maka, sampaikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran, sedangkan orang-orang kafir akan menjauhinya, (yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar. Selanjutnya, dia tidak mati dan tidak (pula) hidup di sana. Sungguh, beruntung orang yang menyucikan diri (dari kekafiran) dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. Adapun kamu (orang kafir) mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya (penjelasan) ini terdapat dalam suhuf (lembaran-lembaran) yang terdahulu, (yaitu) suhuf (yang diturunkan kepada) Ibrahim dan Musa.”
Setelah membaca Surah Al-A'la, lakukan rukuk, i'tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, dan takbir intiqal ketika bangun dari posisi duduk.
Berikut tata cara Rakaat Kedua sholat Idul Adha:
1. Takbir tambahan sebanyak 5 kali, sama seperti rakaat pertama. Pada setiap jeda takbir, bacalah doa yang sama.
2. Bacalah Surah Al-Fatihah lagi.
3. Bacalah Surah Al-Ghasiyah:
هَلْ أَتٰىكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِۗ ١ وَجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌۙ ٢ عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌۙ ٣ تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةًۙ ٤ تُسْقٰى مِنْ عَيْنٍ اٰنِيَةٍۗ ٥ لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ اِلَّا مِنْ ضَرِيْعٍۙ ٦ لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِيْ مِنْ جُوْعٍۗ ٧ وَجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاعِمَةٌۙ ٨ لِّسَعْيِهَا رَاضِيَةٌۙ ٩ فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ ١٠ لَّا تَسْمَعُ فِيْهَا لَاغِيَةًۗ ١١ فِيْهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌۘ ١٢ فِيْهَا سُرُرٌ مَّرْفُوْعَةٌۙ ١٣ وَأَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌۙ ١٤ وَنَمَارِقُ مَصْفُوْفَةٌۙ ١٥ وَزَرَابِيُّ مَبْثُوْثَةٌۗ ١٦ أَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ ١٧ وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ ١٨ وَاِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْۗ ١٩ وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ ٢٠ فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ ٢١ لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ ٢٢ اِلَّا مَنْ تَوَلّٰى وَكَفَرَۙ ٢٣ فَيُعَذِّبُهُ اللّٰهُ الْعَذَابَ الْاَكْبَرَۗ ٢٤ اِنَّ اِلَيْنَآ اِيَابَهُمْ ٢٥ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْࣖ ٢٦ (Arab Latin: Tashlâ nâran ḫâmiyah. Tusqâ min 'ainin âniyah. Laisa lahum tha'âmun illâ min dlarî'. Lâ yusminu wa lâ yughnî min jû'. Wujûhuy yauma'idzin nâ'imah. Lisa'yihâ râdliyah. Fî jannatin 'âliyah. Lâ tasma'u fîhâ lâghiyah. Fîhâ 'ainun jâriyah. Fîhâ sururum marfû'ah. Wa akwâbum maudlû'ah. Wa namâriqu mashfûfah. Wa zarâbiyyu mabtsûtsah. A fa lâ yandhurûna ilal-ibili kaifa khuliqat. Wa ilas-samâ'i kaifa rufi'at. Wa ilal-jibâli kaifa nushibat. Wa ilal-ardli kaifa suthiḫat. Fa dzakkir, innamâ anta mudzakkir. Lasta 'alaihim bimushaithir. Illâ man tawallâ wa kafar. Fa yu'adzdzibuhullâhul-'adzâbal-akbar. Inna ilainâ iyâbahum. Tsumma inna 'alainâ ḫisâbahum.). Artinya: “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang al-Gāsyiyah (hari Kiamat yang menutupi kesadaran manusia dengan kedahsyatannya)? Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk hina (karena berusaha keras menghindari azab neraka) lagi kepayahan. Mereka memasuki api (neraka) yang sangat panas. Pada hari itu banyak wajah yang berseri-seri, merasa puas karena usahanya. Mereka dalam surga yang tinggi. Di sana kamu tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna. Di sana ada mata air yang mengalir. Di sana ada dipan-dipan yang ditinggikan, gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya), bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar. Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Bagaimana langit ditinggikan? Bagaimana gunung-gunung ditegakkan? Bagaimana pula bumi dihamparkan? Maka, berilah peringatan karena sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. Akan tetapi, orang yang berpaling dan kufur, Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar. Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali. Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang berhak melakukan hisab (perhitungan) atas mereka.”
Setelah membaca Surah Al-Ghasiyah, lakukan rukuk, i'tidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, duduk tasyahud akhir, dan salam.
FAQ Seputar Sholat Idul Adha
Q: Apakah wanita haid boleh datang ke tempat sholat Idul Adha?
A: Iya. Menurut laman resmi Muhammadiyah, perempuan yang sedang haid dan tidak bisa mengerjakan sholat diperintahkan oleh Nabi Muhammad untuk tetap datang ke tempat sholat Idul Adha. Tujuannya agar semua orang bisa merasakan suasana kebaikan dan mendengarkan nasihat dari khatib.
Hal ini dijelaskan dalam hadis dari Ummu 'Athiyyah RA: عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى الْعَوَاتقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَة الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا. Artinya: “Diriwayatkan dari Ummu 'Athiyyah bahwa ia berkata: Rasulullah Saw memerintahkan kami supaya menyuruh mereka keluar pada hari Idulfitri dan Iduladha: yaitu semua gadis remaja, wanita sedang haid, dan wanita pingitan. Adapun wanita-wanita sedang haid supaya tidak memasuki lapangan tempat salat, tetapi menyaksikan kebaikan hari raya itu dan panggilan kaum Muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang kami yang tidak mempunyai baju jilbab? Rasulullah menjawab: Hendaklah temannya meminjaminya baju kurungnya.” (HR. al-Jama'ah, lafal Muslim)
Q: Bolehkah sholat Idul Adha dilakukan sendiri di rumah?
A: Boleh. Menurut laman Nahdlatul Ulama, sholat Idul Adha sangat dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Meski begitu, sholat Idul Adha tetap boleh dikerjakan sendiri atau munfarid di rumah, baik karena sengaja memilih melaksanakannya sendiri maupun karena tertinggal jamaah di masjid. Pelaksanaannya tetap harus dilakukan sebelum masuk waktu Zuhur pada 10 Dzulhijjah.
Itulah hukum sholat Idul Adha menurut empat mazhab beserta tata cara lengkap, bacaan niat, hingga surah yang dianjurkan. Semoga bermanfaat ya,
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luwu Utara Cetak 2,960 Ha Lahan Sawah Baru, Target 20,000 Ha
Daftar Isi Doa Rosario 6 Mei 2026: Renungan dan Pengharapan
Umat Katolik Renungkan Hati Tersuci Maria pada 13 Juni 2026
Sabtu 13 Juni 2026: Jadwal Piala Dunia & Cara Menonton
13 Juni 2026: 27 Dzulhijjah 1447 H, Dua Bulan Hijriah di Juni
Jadwal Puasa Muharram 2026: Tanggal dan Niat Penting
Berita Terbaru
Keju di Makanan Cepat Saji: Manfaat, Bahaya, dan Cara Sehat
BBM Pertamax Naik Rp16.250, Pertalite Tetap Rp10.000
Maroko Hadapi Brasil 14 Juni 2026 di Piala Dunia
Marquinhos: Brazil Bakal Menang Piala Dunia 2026, Harapan Baru
Zulkifli Hasan Kunjungi Petani Aceh, Fokus Distribusi Pupuk
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Indonesia vs Kamboja Imbang 0-0, Bertarung Ketiga AFF U-19
Pawai Pesta Kesenian Bali ke-48 di Renon, 13 Juni 2026
185 Posisi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2026 untuk SMA/SMK
Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026: Titik Awal Baru
