Keju di Makanan Cepat Saji: Manfaat, Bahaya, dan Cara Sehat
Gambar atau konten salah?
Keju seringkali menjadi bahan tambahan yang membuat makanan terasa lebih lezat. Dari mi instan, burger, hingga kentang goreng, hampir semua menu menawarkan ekstra keju. Namun, di balik rasa gurih dan creamy, keju tetap menambah kalori, lemak jenuh, dan natrium. Karena itu, menambahkan keju ke berbagai hidangan sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama bila porsinya berlebihan atau dikombinasikan dengan makanan yang sudah tinggi kalori dan garam.
Keju memang dapat menjadi sumber protein dan kalsium. Tetapi penggunaannya sering kali tidak ideal ketika ditambahkan ke makanan yang sudah tinggi kalori, lemak, dan garam, seperti kentang goreng, burger, pizza, atau mi instan. Ada beberapa alasan mengapa kebiasaan ini perlu diwaspadai:
1. Menambah kalori dan mempermudah makan berlebihan
Menambahkan keju berarti menambah kalori pada makanan. Menurut publikasi oleh Barbara J. Rolls dalam jurnal Nutrition Reviews, makanan dengan kepadatan energi (energy density) yang tinggi cenderung membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum merasa kenyang. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.
2. Menambah asupan lemak jenuh dan natrium
Banyak jenis keju mengandung lemak jenuh dan natrium. Ketika ditambahkan ke makanan cepat saji atau makanan ultra-proses yang kandungannya sudah tinggi, jumlah lemak jenuh dan natrium yang dikonsumsi pun ikut bertambah. WHO merekomendasikan agar asupan lemak jenuh dibatasi hingga kurang dari 10 persen total energi harian. WHO juga menganjurkan pembatasan konsumsi natrium untuk membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Selain itu, pola makan yang tinggi lemak jenuh dan natrium juga telah lama dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL (low‑density lipoprotein) atau “kolesterol jahat” serta tekanan darah pada sebagian orang. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah keju yang dikonsumsi, tetapi juga makanan yang menjadi pasangannya.
Dengan kata lain, menambahkan keju ke burger, kentang goreng, atau mi instan sesekali tentu tidak akan langsung menimbulkan masalah kesehatan. Namun jika kebiasaan tersebut dilakukan terus‑terus dan menjadi bagian dari pola makan sehari‑hari, total asupan energi, lemak jenuh, dan natrium dapat meningkat melebihi kebutuhan tubuh. Lebih baik dipadukan dengan sumber serat.
Keju dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang ketika dikonsumsi bersama makanan kaya serat, seperti sayuran, buah‑buah, kacang‑kacangan, maupun biji‑biji utuh. Beberapa contoh kombinasi yang bisa dicoba antara lain salad sayur dengan taburan keju, roti gandum isi sayuran dan keju, omelet sayur dengan sedikit keju, atau keju yang dipadukan dengan buah segar seperti apel dan pir. Di Indonesia, keju juga bisa dipadukan dengan jagung rebus, kentang kukus, sandwich sayuran, atau tumisan sayur sebagai penambah rasa, tanpa harus selalu menjadi pelengkap makanan cepat saji.
Dalam publikasi The Lancet pada 2019 dijelaskan, asupan serat yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal. Salah satu alasannya, serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat membantu mengontrol asupan makanan secara keseluruhan.
Keju dan sayur atau buah juga memiliki kandungan gizi yang saling melengkapi. Keju merupakan sumber protein, kalsium, fosfor, dan vitamin B12, sementara sayur dan buah menyediakan serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam menjaga kesehatan. Karena itu, mengombinasikan keju dengan sayur atau buah dapat membantu menciptakan hidangan dengan profil gizi yang lebih beragam. Seseorang tidak hanya memperoleh protein dan kalsium dari keju, tetapi juga mendapatkan serat dan berbagai mikronutrien yang tidak banyak ditemukan dalam keju.
Meskipun demikian, keju tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar. Sebagai gambaran, satu porsi keju umumnya sekitar 30 gram atau setara dengan satu potong kecil keju keras seperti cheddar. Konsep ini sejalan dengan pendekatan gizi modern yang menekankan pentingnya pola makan secara keseluruhan dibandingkan berfokus pada satu jenis makanan. Artinya, manfaat kesehatan tidak ditentukan oleh keju saja, melainkan oleh kombinasi makanan yang dikonsumsi bersama serta pola makan sehari‑hari secara keseluruhan.
Dengan memperhatikan porsi, pasangan makanan, dan asupan serat, keju dapat tetap menjadi tambahan yang nikmat tanpa mengorbankan kesehatan. Menyelaraskan keju dengan sayuran, buah, atau biji‑biji utuh membantu menyeimbangkan kalori, lemak jenuh, dan natrium, sekaligus menambah nutrisi penting bagi tubuh. Sehingga, menikmati keju tidak harus menjadi kebiasaan yang berlebihan, melainkan bagian dari pola makan yang terkontrol dan beragam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warna Keju Tak Menentukan Kualitas, Perhatikan Nutrisi
Keju setelah dessert: Manfaat bagi pH mulut, tapi tak cukup
Keju Sehari-hari: Manfaat Protein, Kalsium & Vitamin B12
Probiotik vs Gula: Pilihan Cerdas untuk Usus Sehat Mudah
Probiotik vs Prebiotik: Pilih Produk Tanpa Gula untuk Usus
Cheese Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi: Penelitian Baru
Berita Terbaru
Keju di Makanan Cepat Saji: Manfaat, Bahaya, dan Cara Sehat
BBM Pertamax Naik Rp16.250, Pertalite Tetap Rp10.000
Maroko Hadapi Brasil 14 Juni 2026 di Piala Dunia
Marquinhos: Brazil Bakal Menang Piala Dunia 2026, Harapan Baru
Zulkifli Hasan Kunjungi Petani Aceh, Fokus Distribusi Pupuk
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Indonesia vs Kamboja Imbang 0-0, Bertarung Ketiga AFF U-19
Pawai Pesta Kesenian Bali ke-48 di Renon, 13 Juni 2026
185 Posisi PPPK Tendik Sekolah Rakyat 2026 untuk SMA/SMK
Maroko Hadapi Brasil di Piala Dunia 2026: Titik Awal Baru