Pertandingan ke-1.000 Piala Dunia: Jepang Hajar Tunisia

Ani R. · 4 min baca · 6 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Pertandingan ke-1.000 Piala Dunia: Jepang Hajar Tunisia

Gambar atau konten salah?

FIFA menggelar promosi besar-besaran di media sosial untuk pertandingan Jepang melawan Tunisia. Bukan tanpa alasan. Laga yang berlangsung di Stadion Monterrey, Meksiko, pada Sabtu, 20 Juni 2026 waktu setempat — atau Minggu, 21 Juni 2026 WIB — itu menjadi pertandingan ke-1.000 sepanjang sejarah Piala Dunia.

Sejak turnamen pertama digelar pada 1930, belum ada laga lain yang mendapat kehormatan seperti ini. FIFA menempelkan emblem khusus di seragam pemain dan wasit untuk menandai momen tersebut. Jepang dan Tunisia kebetulan menjadi dua tim yang memainkan pertandingan yang akan dikenang selamanya.

Bagi Jepang, hasilnya terasa makin istimewa. Daichi Kamada, Ayase Ueda (dengan dua gol), dan Junya Ito menjadi pencetak gol. Sebaliknya, Tunisia mungkin lebih memilih melupakan kekalahan telak 0-4 di laga spesial ini.

Kenangan 2002 yang Kembali Hidup

Timnas Jepang sekarang sudah terbiasa menang di Piala Dunia. Tapi 24 tahun lalu, ceritanya sangat berbeda. Saat itu Jepang baru dua kali ikut Piala Dunia.

Edisi 1998 adalah pertama kalinya Jepang lolos. Hasilnya menyakitkan. Masami Ihara dan kawan-kawan kalah tiga kali: dari Argentina (0-1), Kroasia (0-1), dan Jamaika (1-2).

Empat tahun kemudian, Jepang bersama Korea Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002. Bermain di depan pendukung sendiri, tim asuhan Philippe Troussier akhirnya meraih poin pertama. Mereka bermain imbang 2-2 dengan Belgia di laga perdana.

Kemenangan pertama di Piala Dunia datang saat Jepang mengalahkan Rusia 1-0. Gol tunggal Junichi Inamoto menjadi penentu. Tiga poin tambahan diraih lagi di laga terakhir grup — saat Jepang mengalahkan Tunisia 2-0.

Gol pembuka kemenangan itu dicetak Hiroaki Morishima pada menit ke-48. Tepat tiga menit setelah babak kedua dimulai. Keputusan Troussier menurunkan Morishima di awal babak kedua terbukti tepat. Itu menjadi gol pertama bagi timnya.

Hidetoshi Nakata kemudian menambah pesta tuan rumah di Nagai Stadium, Osaka. Golnya datang pada menit ke-75. Dua kemenangan dan satu imbang membuat Jepang mengumpulkan 7 poin. Untuk pertama kalinya, mereka lolos ke babak gugur.

Bagi Morishima, gol itu punya makna khusus. Bukan cuma karena jadi awal kemenangan atas Tunisia. Golnya juga meloloskan tim ke babak penyisihan untuk kali pertama — di stadion yang merupakan kandang klubnya.

Sepanjang karier bermain, Morishima cuma membela satu klub: Yanmar Diesel, yang kini bernama Cerezo Osaka. Klub itu merupakan rival Gamba Osaka. Morishima memperkuat tim dari 1991 hingga pensiun pada 2008.

Pertemuan dengan Sang Legenda

detikSport pernah bertemu Morishima pada 4 Juli 2023. Pria asal Hiroshima itu datang ke Jakarta sebagai Presiden klub Cerezo Osaka. Saat itu ia menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan SSB Asiana Soccer School.

Melihat legenda berstatus one-club man di depan mata, kesempatan itu tidak dilewatkan. "Morishima Sachou, futari o sashin idesu ka," begitu sapa detikSport — ajakan berfoto dengan bahasa Jepang seadanya.

Kira-kira artinya: "Presiden Morishima, boleh saya berfoto berdua dengan Anda?" Morishima menjawab, "Oh, hai," — yang berarti "Oh, boleh."

Kenangan Indah di Meksiko

Kembali ke pertandingan Jepang vs Tunisia di Piala Dunia 2026. Laga ini digelar di Meksiko. Negara yang akan dikenang selamanya oleh publik sepakbola Jepang.

Tapi bukan cuma soal kemenangan atas Tunisia. Di negeri Amerika Latin itulah Jepang pernah meraih prestasi membanggakan. Pada Olimpiade 1968, Jepang mendapatkan medali perunggu di cabang sepakbola.

Di bawah asuhan pelatih asal Jerman Barat, Dettmar Cramer, Jepang secara mengejutkan melaju hingga semifinal. Mereka mengakhiri fase grup sebagai runner-up. Kemudian mengalahkan Prancis 3-1 di perempatfinal. Lalu takluk 0-5 dari Hungaria.

Di partai perebutan posisi ketiga, Jepang menghadapi tuan rumah Meksiko. Mereka menang 2-0 berkat dua gol Kunishige Kamamoto. Kemenangan itu membuat Jepang berhak atas medali perunggu. Ini menjadi prestasi besar pertama Timnas Jepang di pentas internasional.

Keberhasilan itu membangkitkan minat sepakbola di kalangan masyarakat Jepang. Selama bertahun-tahun, mereka lebih menggilai bisbol. Bagi JFA (Federasi Sepakbola Jepang), momen ini menjadi momentum positif untuk terus mempromosikan permainan.

Saat itu JFA memang sedang gencar mempromosikan sepakbola. Tiga tahun sebelumnya, pada 1965, Jepang baru meluncurkan Japan Soccer League (JSL). Itu kompetisi sepakbola level nasional pertama di dalam negeri — meski levelnya masih amatir.

Sayangnya, momentum medali perunggu Olimpiade 1968 tidak bisa dimaksimalkan. Lalu menguap begitu saja. Tapi para pemangku kepentingan sepakbola Negeri Matahari Terbit terus berusaha mengembangkan olahraga ini.

Kondisi itu membuat Saburo Kawabuchi gerah. Ia dianggap sebagai orang paling berjasa dalam lahirnya J.League — kompetisi profesional sepakbola Jepang. Berbekal pengetahuan sebagai mantan pemain dan pengalaman manajerial di klub-klub, ia berhasil menggalang dukungan. Ia meyakinkan banyak pihak tentang betapa pentingnya Jepang memiliki kompetisi profesional.

Akhirnya J.League resmi kickoff pada 15 Mei 1993. Selebihnya, tinggal sejarah. Tidak salah jika mengatakan keberhasilan sepakbola Jepang saat ini berawal dari momentum Olimpiade Meksiko 1968 — tempat yang kini menjadi lokasi kemenangan kedua Jepang atas Tunisia, dalam partai bersejarah Piala Dunia.

Kontekstual: Laga ke-1.000 Piala Dunia ini menjadi pengingat perjalanan panjang sepakbola Jepang. Dari kekalahan di debut 1998, kemenangan pertama di 2002, hingga medali perunggu Olimpiade 1968. Semua itu membentuk fondasi yang membuat Jepang kini bisa menang di panggung terbesar sepakbola dunia — di tempat yang sama dengan kenangan indah 58 tahun lalu.

FIFAPiala DuniaJepangTunisiapertandingan ke-1000sejarahMeksiko

Komentar

Memuat komentar...