Pesulap Merah: Gunung Kawi, Situs Budaya, Bukan Pesugihan

Dedi S. · 3 min baca · 12 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Pesulap Merah: Gunung Kawi, Situs Budaya, Bukan Pesugihan

Gambar atau konten salah?

Marcel Radhival, yang dikenal sebagai Pesulap Merah, memutuskan untuk menyelidiki Gunung Kawi, sebuah tempat yang selama ini sering dikaitkan dengan pesugihan.

Ia melakukan perjalanan ke Keraton Gunung Kawi di Kabupaten Malang, tempat yang dianggap sebagai salah satu lokasi ritual paling populer di Indonesia.

Di sana, Marcel bertemu dengan juru kunci setempat, yang menjadi kunci utama untuk memahami aktivitas yang terjadi di sana.

"Banyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya. Setelah saya ngobrol-ngobrol sama kuncen juru kunci, dan luar biasanya juru kunci ini ngomong tidak pakai inisial-inisial ketika ditanya, dia ceplas-ceplos saja sebut nama," ujar Marcel menceritakan awal penelusurannya itu.

Menurut juru kunci, setiap peziarah di Keraton Gunung Kawi diwajibkan membawa bunga dan dupa sebagai sarana menyampaikan doa serta harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Marcel menegaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari tradisi Kejawen dan bukan ritual pemanggilan makhluk gaib seperti yang banyak dibayangkan publik.

Ia juga mendengar pengakuan juru kunci bahwa sejumlah tokoh publik pernah datang ke lokasi tersebut. Namun Marcel mengaku tidak bisa memastikan kebenaran seluruh klaim tersebut.

"Setelah saya upload (video eksplore Keraton Gunung Kawi), ternyata kuncen berbicara seperti itu bukan kali ini saja. Nama-nama yang disebutkan, di video teman saya yang juga meminta wawancara kuncen, juga menyebutkan nama-nama yang sama. Jadi sudah disebutkan jauh-jauh hari sama si kuncen ini," jelas Marcel.

Karena itu, Marcel lebih tertarik membahas substansi ritual yang berlangsung di lokasi dibanding memperdebatkan daftar nama tokoh yang disebut pernah datang ke Gunung Kawi.

Pada akhirnya, Marcel menyimpulkan bahwa Keraton Gunung Kawi bukan tempat pemujaan setan ataupun sarang jin. Namun ia tetap mengingatkan masyarakat untuk menjalankan keyakinan sesuai ajaran agama masing-masing.

"Karena sebenarnya itu bukan ritual jin-jin, bukan, tapi itu ritual kepercayaan Kejawen. Kalau kita yang muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu, karena itu merupakan kepercayaan kejawen," tandasnya.

Ia menegaskan bahwa kehadirannya di Gunung Kawi tidak bertujuan merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat. "Saya datang ke sini bukan untuk merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana tempat bersejarah yang harus dihormati dan mana oknum yang memanfaatkan tempat ini untuk penipuan mistis atau pesugihan abal-abal. Berpikir logis itu perlu agar kita tidak mudah tertipu," kata Pesulap Merah.

Marcel menemukan bahwa banyak praktik ritual di lokasi tersebut yang sudah keluar dari ajaran agama, khususnya Islam. "Kalau kita dengarkan dari juru kuncinya, pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib. Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kita berdoa?" cetus Marcel.

Ia menambahkan, masyarakat lokal Malang sendiri sebenarnya banyak yang tidak memercayai adanya pesugihan di Keraton Gunung Kawi. "Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan. Yang katanya berhasil, karena nasib mereka. Bukan karena faktor dari Gunung Kawi," tandasnya.

Setelah melakukan perjalanan panjang di Keraton Gunung Kawi, Marcel menyarankan masyarakat untuk tidak perlu menguras tenaga, waktu, dan biaya demi melakukan ritual yang melenceng dari agama. Ia pun mengimbau agar semua orang memanjatkan doa sesuai dengan ajaran kepercayaan masing-masing.

Meskipun demikian, Marcel tetap merekomendasikan Keraton Gunung Kawi untuk dikunjungi. "Kalau datang ke sini, sangat rekomendasi untuk belajar sejarah dan budayanya," pungkas Marcel.

Dengan begitu, Marcel menegaskan bahwa Gunung Kawi lebih baik dijadikan tempat edukasi budaya daripada arena pesugihan.

Pesulap MerahGunung KawiKeraton Gunung KawipesugihanKejawenKuncenMalang

Komentar

Memuat komentar...