Peta Risiko Likuefaksi Sulawesi Tengah Dirilis, Empat Wilayah Waspada

Eko P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Peta Risiko Likuefaksi Sulawesi Tengah Dirilis, Empat Wilayah Waspada

Gambar atau konten salah?

Badan Geologi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral baru saja merilis peta yang menunjukkan daerah-daerah rawan likuefaksi di Sulawesi Tengah. Ini terjadi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu.

Likuefaksi, atau yang sering disebut tanah kehilangan kekuatannya, adalah fenomena saat tanah berpasir yang basah berubah seperti lumpur cair karena guncangan keras. Empat wilayah di Sulawesi Tengah disebut-sebut paling berisiko.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Sari, menjelaskan bahwa peta ini bukan sekadar gambar biasa. "Peta potensi likuefaksi menunjukkan beberapa wilayah memiliki peluang mengalami likuefaksi. Wilayah yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong dan juga sebagian Kabupaten Poso," ujarnya dalam pernyataan resmi pada Minggu, 21 Juni 2026.

Di Kabupaten Sigi, potensi likuefaksi menyebar di beberapa titik. Daerah-daerah seperti Nokilalaki, Danau Lindu, Gumbasa, Tanambulava, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Barat, Dolo Selatan, dan Marawola masuk dalam zona waspada.

Sementara itu, Kota Palu memiliki area rawan di Palu Selatan, Tatangan, Palu Timur, Palu Barat, dan Ulujadi. Untuk Parigi Moutong, wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Parigi Selatan, Torue, Balinggi, dan Sausu. Sedangkan di Poso, daerah yang disebut adalah pesisir utara Poso.

Lana Sari menambahkan bahwa likuefaksi bukanlah kejadian yang bisa diprediksi dengan mudah. Fenomena ini sangat bergantung pada jenis tanah tertentu. "Potensi bukan berarti pasti terjadi, tetapi menunjukkan perlunya kewaspadaan dan mitigasi. Kajian lebih rinci tetap diperlukan untuk menentukan tingkat risiko pada lokasi yang spesifik," tegasnya.

Tanah berpasir yang jenuh air menjadi faktor utama. Ketika gempa mengguncang, butiran-butiran pasir yang tadinya rapat mulai kehilangan ikatan. Air di antaranya ikut bergerak, membuat tanah kehilangan kemampuan menahan beban di atasnya.

Hingga saat ini, Badan Geologi belum menerima laporan tentang likuefaksi yang benar-benar terjadi setelah gempa M 6,7. Namun, peta potensi ini dianggap penting sebagai panduan awal. "Informasi potensi likuefaksi menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam upaya mitigasi dan penataan ruang ke depannya," ungkap Lana.

Badan Geologi juga menyoroti kondisi geologi yang rumit di wilayah terdampak. Struktur batuan yang beragam, baik keras maupun lunak, ditambah dengan banyaknya patahan, membuat dampak gempa terasa lebih parah. "Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," kata Lana.

Tanah yang lunak di beberapa lokasi disebut memperkuat guncangan. Ini menyebabkan kerusakan bangunan lebih parah dari yang seharusnya. Lokasi episenter yang dekat dengan pemukiman penduduk juga menjadi faktor yang memperburuk situasi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberikan pandangan berbeda. Ia memastikan bahwa potensi likuefaksi sudah berlalu. "Untuk potensi likuefaksi saat ini itu sudah lewat. Karena likuefaksi itu biasanya terjadi secara fisis itu pada saat gempa utama terjadi atau gempa dengan kekuatan cukup besar," kata Abdul Muhari dalam konferensi pers pada Rabu, 17 Juni 2026.

Ia mengakui bahwa gempa susulan masih terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa ancaman likuefaksi sudah tidak ada lagi. "Karena gempa utama sudah lewat dan saat ini gempa susulan memiliki tren kekuatan baik itu intensitas dan frekuensi yang mulai meluruh, kami bisa sampaikan bahwa potensi terjadinya likuefaksi waktunya sudah lewat," jelasnya.

Peta potensi likuefaksi ini menjadi alat bagi pemerintah daerah untuk merencanakan tata ruang yang lebih aman. Meski belum ada laporan kejadian nyata, kewaspadaan tetap diperlukan. Wilayah-wilayah yang disebutkan dalam peta perlu mendapat perhatian khusus dalam pembangunan infrastruktur ke depannya.

likuefaksiSulawesi TengahPalugempaBadan GeologiSigiParigi MoutongPoso

Komentar

Memuat komentar...