Gempa Palu-Sigi: Tanah Lunak dan Sesar Aktif Memperparah Kerusakan

Iwan D. · 2 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Gempa Palu-Sigi: Tanah Lunak dan Sesar Aktif Memperparah Kerusakan

Gambar atau konten salah?

Badan Geologi telah merampungkan kajiannya mengenai gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Hasilnya menunjukkan bahwa struktur geologi yang rumit di kawasan itu justru memperburuk dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa tektonik tersebut.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Sari, menjelaskan bahwa gempa utama yang diikuti oleh banyak gempa susulan menandakan kondisi geologi yang sangat kompleks. "Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa susulan, menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," ujarnya dalam pernyataan resmi pada Minggu, 21 Juni 2026.

Menurut Lana, perubahan tegangan atau stress yang terjadi akibat gempa bumi utama bisa mempengaruhi sesar-sesar aktif lainnya yang ada di wilayah terdampak. Ia menambahkan bahwa gempa susulan bisa saja berasal dari sesar yang berbeda. "Kumpulan bumi susulan menyerupai gempa bumi swarm yang menjadi karakteristik gempa bumi yang terjadi di wilayah ini," tuturnya.

Gempa tersebut menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada bangunan. Lana mengungkapkan bahwa lokasi episenter berada dekat dengan pemukiman penduduk. "Disertai dengan kondisi tanah yang lunak, sehingga meningkatkan efek guncangan gempa bumi yang menimbulkan dampak kerusakan tersebut," tambah Lana.

Fenomena retakan permukaan tanah dan amblasan juga terlihat di jalan akses Napu. Hal ini menunjukkan bahwa jenis tanah di sana lunak dan posisi topografi memiliki kemiringan lereng, sehingga mengalami gerakan tanah atau lebih tepatnya disebut penurunan lahan.

Gempa M 6,7 juga memicu longsor di berbagai titik di Sigi. Longsor terjadi akibat ketidakstabilan lereng di Gunung Kamaro saat diguncang gempa. Selain itu, fenomena surutnya air laut di Teluk Palu juga mendapat perhatian. "Fenomena surutnya air laut di Teluk Palu, kemungkinan berasal dari penurunan lahan yang menyebabkan sebagian dataran pantai amblas ke dalam laut saat mendapat guncangan gempa bumi," kata Lana.

Sementara itu, BMKG mencatat sebanyak 1.163 gempa susulan terjadi setelah gempa utama M 6,7. Gempa terbaru berkekuatan M 4,1 mengguncang Sigi pada Minggu, 21 Juni 2026, sekitar pukul 14.41 WIB. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini termasuk jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Palolo.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipti Kuncoro, menyatakan bahwa gempa M 4,1 merupakan rangkaian susulan dari gempa M 6,7 yang terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026. "Hingga tanggal 21 Juni 2026 pukul 14.55.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 1.163 gempa bumi susulan dengan kekuatan terbesar M 5,3," jelas Djati. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan dari gempa susulan tersebut.

Secara keseluruhan, gempa di Palu dan Sigi ini menunjukkan bagaimana interaksi antara aktivitas tektonik dan kondisi geologi lokal bisa memperbesar dampak bencana. Tanah lunak, lereng curam, dan sesar aktif menjadi faktor yang memperparah kerusakan yang terjadi.

gempa bumistruktur geologikerusakantanah lunaklongsorsesar aktifPalu

Komentar

Memuat komentar...