Pikiran Berulang: Kenangan Memalukan Sekolah Jadi Masalah

Ayu W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Pikiran Berulang: Kenangan Memalukan Sekolah Jadi Masalah

Gambar atau konten salah?

Setiap malam, ketika tubuh sudah lelah dan siap tidur, pikiran kadang saja kembali ke kenangan memalukan yang pernah dialami di sekolah. Momen itu membuat badan gemetar, bahkan membuat orang merasa cringe sendiri. Fenomena ini sebenarnya normal, dan ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Dikutip dari Forbes, para psikolog menggunakan istilah perseverative thinking untuk menggambarkan pola pikir berulang yang sulit dikendalikan. Pola ini terus berputar di sekitar hal-hal yang menimbulkan stres, seperti merenungkan masa lalu, misalnya “kenapa aku bilang begitu?”, atau mengkhawatirkan masa depan, misalnya “bagaimana kalau aku mempermalukan diri lagi?”. Evaluasi diri yang berulang juga termasuk dalam pola ini.

Dalam ulasan tahun 2025 yang dipublikasikan di Dialogues in Clinical Neuroscience, para ahli saraf menjelaskan bahwa proses ini muncul dari interaksi yang tidak berfungsi dengan baik antara beberapa sistem psikologis yang terlibat dalam pengaturan diri. Penulis studi menekankan bahwa pikiran manusia secara alami menghabiskan banyak waktu terlepas dari realitas saat ini. Bahkan ketika sedang berjalan, mandi, atau duduk bekerja, kita secara mental mengunjungi kembali masa lalu, membayangkan kemungkinan masa depan, memutar ulang percakapan, atau menciptakan skenario fiktif sepenuhnya.

Di satu sisi, kemampuan ini berguna secara psikologis. Ia membantu seseorang merencanakan masa depan, memecahkan masalah, dan membangun identitas diri yang utuh. Namun, masalah muncul ketika pikiran mulai memperlakukan pikiran yang mengganggu sebagai ancaman yang belum selesai dan harus terus dipantau. Perseverative thinking sebagian dipicu oleh apa yang disebut peneliti sebagai discrepancy monitoring, yakni kecenderungan otak untuk terus membandingkan kenyataan dengan bagaimana sesuatu “seharusnya” terjadi.

Itulah sebabnya kenangan memalukan terasa begitu melekat. Otak terus menandainya sebagai urusan yang belum selesai. Kesalahan sosial terasa belum terselesaikan, sehingga pikiran terus menariknya kembali ke kesadaran dalam upaya untuk memproses atau memperbaikinya secara retrospektif. Ironisnya, latihan mental yang berulang ini justru memperkuat kenangan tersebut alih-alih menyelesaikannya. Para peneliti mencatat bahwa perseverative thinking dapat secara perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Jika kenangan negatif tertentu terus “dipanggil” kembali, maka kenangan itu menjadi semakin mudah diakses seiring waktu. Akibatnya, ancaman sosial terasa lebih sering terjadi, lebih penting, dan lebih mungkin menyebabkan penolakan dibanding kenyataannya. (avk/kna)

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pikiran seringkali tidak berhenti ketika tubuh sudah lelap. Mengakui bahwa pola pikir berulang ini normal dapat membantu kita memahami diri sendiri lebih baik, serta mengurangi beban emosional yang tidak perlu.

pikir berulangkenangan memalukanstres psikologisotaksistem psikologismonitoring ketidaksesuaianmemori sosialbeban emosional

Komentar

Memuat komentar...