Pimrypie Jual Durian Murah Online, Kerugian Rp4,4 Miliar
Gambar atau konten salah?
Di Thailand, durian dianggap raja buah. Musim panen biasanya menampakkan pasokan berlebih, membuat petani kesulitan menjual buahnya. Seorang konten kreator bernama Pimradaporn Benjawattanapat, lebih dikenal sebagai Pimrypie, mengusung ide untuk membantu petani dengan menjual durian secara online.
Pimrypie memulai aksi lewat siaran langsung di media sosial. Ia menawar durian hanya 100 baht, setara dengan Rp45 ribu per buah—jauh di bawah harga pasar. Ia membeli buah langsung dari kebun di Chanthaburi, tanpa memeriksa ukuran atau kualitas. Tujuannya: memberi petani kesempatan menjual stok berlebih sebelum buah busuk.
“Tujuan saya bukan merusak harga pasar, tapi membantu petani menghabiskan stok yang berlebih,” kata Pimrypie dalam siaran. Ia menjelaskan bahwa durian yang dijual seharga 100 baht sebagian besar merupakan jenis Monthong grade lebih rendah untuk pasar domestik. Sementara durian premium, dengan ukuran lebih besar, tetap dijual 480 baht atau sekitar Rp215 ribu per buah.
Siaran tersebut menarik perhatian lebih dari 800 ribu penonton sekaligus di TikTok dan Facebook. Dalam semalam, sekitar 200 ribu durian diklaim terjual. Namun, aksi ini berujung pada kerugian yang luar biasa bagi Pimrypie. Ia menanggung kerugian lebih dari 10 juta baht, setara dengan Rp4,4 miliar.
Petani dan distributor durian di pasar menganggap tindakan Pimrypie merusak harga. Mereka menilai bahwa penjualan murah dapat menurunkan nilai pasar, memberi dampak negatif bagi penjual lain. Meskipun Pimrypie berpendapat sebaliknya, ia tidak dapat menghindari konsekuensi finansialnya.
Dalam siaran, Pimrypie menegaskan bahwa jika buah tetap dibiarkan di kebun, kerugian bagi petani akan lebih besar. Ia berharap aksi ini dapat mengurangi risiko kerusakan buah dan membantu petani mengurangi beban finansial.
Keputusan untuk menurunkan harga secara drastis menimbulkan kontroversi. Beberapa pihak menilai bahwa langkah tersebut tidak realistis, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya sosial. Meskipun niatnya baik, hasilnya menunjukkan bahwa pasar memiliki mekanisme yang kompleks.
Setelah kerugian tersebut, Pimrypie menjadi sorotan publik. Ia kini harus mempertimbangkan cara lain untuk membantu petani tanpa menurunkan harga pasar secara drastis. Aksi ini menunjukkan betapa sulitnya menyeimbangkan kepedulian sosial dengan stabilitas ekonomi di industri buah.
Kesimpulan: Aksi penjualan durian murah oleh Pimrypie, meski dimaksudkan membantu petani, mengakibatkan kerugian besar dan menimbulkan kritik. Keputusan ini menyoroti tantangan dalam mengelola pasokan berlebih tanpa merusak harga pasar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kopi Selai Kacang: Minuman Sehat, Creamy, Mudah Dibuat
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Jagakarsa: 7 Tempat Kuliner Tradisional yang Harus Dicoba
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Jennifer Coppen nikah Justin Hubner di Bali, tradisi Jawa
Rahasia Tempura Jepang: Adonan Ringan dan Minyak Tepat
Berita Terbaru
Bersihkan Karpet di Rumah dengan Cuka dan Baking Soda Efektif
1 Muharram 1448 H: Hari Libur Nasional 16 Juni 2026
Jalur Non Tes Rapor 2026 Unesa Buka Kembali, 1.800 Kuota
BI Rate 5,5%: Dampak Suku Bunga Kredit Kendaraan di Indonesia
Swiss Juara Grup B Piala Dunia 2026, Fair Play Menentukan
Kunjungan DPR ke Tol Ciawi‑Sukabumi, Seksi 3 81% Pembangunan
Cuaca 14 Juni: Sebagian Jawa Tengah Hujan Ringan, Cerah
Probiotik: Manfaat, Gula, Risiko Minuman Fermentasi
Usia Messi 38 Tahun Tidak Menghalangi Argentina 2026
