Polisi Investigasi Pembongkaran Situs Makam di Pasar Wonocolo

Fandi R. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Polisi Investigasi Pembongkaran Situs Makam di Pasar Wonocolo

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Pasar Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo, sebuah situs yang diyakini sebagai makam waliyullah menjadi sorotan setelah seorang pria bernama SA memulai proses pembongkaran. Video aksi tersebut cepat menyebar di media sosial, menimbulkan kebingungan karena status situs masih belum jelas.

Polisi segera menindaklanjuti laporan masyarakat. Iptu Adri Tri Sasongko mengonfirmasi kejadian tersebut dan menegaskan bahwa mereka sedang menelusuri kasus ini. "Iya, kami menindaklanjuti adanya pengaduan masyarakat terkait dugaan pembongkaran makam di kawasan Pasar Wonocolo yang viral di media sosial," ujar Adri kepada detikJatim, Senin (20/4/2026).

Setelah melakukan pemeriksaan di lokasi, polisi menemukan kerusakan pada struktur makam. Beberapa potongan kayu dan puing-puing hasil bongkaran diambil sebagai barang bukti.

Menurut saksi, aksi pembongkaran dimulai pada 15 April 2026 sekitar pukul 22.00 WIB dan berlangsung hingga 17 April 2026. Polisi juga telah meminta keterangan lebih lanjut dari SA.

SA mengaku bahwa ia menerima informasi dari orang tuanya bahwa situs tersebut bukanlah makam asli. Ia menyebutkan bahwa makam tersebut berisi kitab suci Al-Qur'an dan kerangka mainan. "Ia mengaku mendapat informasi dari orang tuanya bahwa makam tersebut merupakan buatan dan berisi kitab suci Al-Qur'an serta kerangka mainan," jelas Adri.

Polisi masih menunggu laporan resmi dari pihak yang mengaku sebagai ahli waris makam. "Sampai saat ini kami masih menunggu adanya laporan resmi dari pihak yang merasa sebagai ahli waris makam. Karena asal-usul makam tersebut juga belum diketahui secara pasti," tambahnya.

Video pembongkaran tersebut menimbulkan keresahan di kalangan warga. Untuk menenangkan situasi, anggota Komisi C DPRD Sidoarjo, Muh Zakaria Dimas Pratama, turun langsung ke lokasi.

Dalam pernyataannya, Dimas menekankan pentingnya mediasi. "Ya, kita mediasi saja karena ini sudah viral di medsos. Banyak komentar dan tanya ke pemerintah terkait pembongkaran yang disebut sebagai makam wali," ujar Dimas kepada wartawan, Senin (20/4/2026).

Dimas menegaskan langkah awal adalah meredam polemik, bukan langsung mengambil kesimpulan. Ia mengajak tokoh agama, ulama, dan sesepuh wilayah untuk memberikan keterangan historis. "Kita perlu investigasi lebih dalam secara historis. Harus menghadirkan tokoh agama, ulama, dan sesepuh wilayah sini untuk dimintai keterangan terkait makam ini," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa lokasi tersebut dulunya merupakan area pemakaman Tionghoa, sehingga klaim sebagai makam wali masih perlu diuji. "Kalau ditarik historis, ini disebut makam wali, apakah iya atau tidak, ini yang perlu diinvestigasi lebih dalam," tegasnya.

DPRD Sidoarjo menyatakan kesiapan untuk memfasilitasi pembangunan kembali makam jika ada kesepakatan, namun tetap menekankan proses investigasi. "Kalau memang nanti banyak yang mendorong untuk dibangun kembali, kami akan fasilitasi. Tapi tetap harus melalui investigasi dulu," imbuhnya.

Dimas mendorong penyelesaian secara kekeluargaan, mengingat belum ada kerugian yang jelas. Ia menegaskan bahwa proses ini harus melibatkan semua pihak.

SA mengaku bahwa pembongkaran dilakukan berdasarkan wasiat almarhum ayahnya. Ia menegaskan bahwa situs tersebut bukan makam wali. "Saya mendapat pesan dari almarhum bapak sebelum meninggal, kalau nanti ini ramai dikunjungi, dibongkar saja. Karena ini bukan makam wali," ungkapnya.

Farid Makruf, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Wonocolo, mengaku belum mengetahui kronologi kejadian secara detail. Ia menjelaskan bahwa ia berada di Malang saat kejadian berlangsung. "Saya kemarin di Malang, jadi tidak tahu persis kapan dibongkar, apakah sore atau malam. Sampai sekarang ini masih dalam proses pencarian informasi," ujar Farid.

Farid juga mengingat bahwa lokasi tersebut dikenal sebagai area makam sebelum pasar dibangun. Ia menyebutkan bahwa pernah ada atap atau payon di tempat tersebut. "Setahu saya, sebelum ada pasar itu sudah ada makam di situ. Dari kecil saya sudah lihat. Bahkan sempat dibuatkan semacam atap atau payon," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa belum pernah ada kajian mendalam tentang sejarah situs tersebut. Tidak ada penggalian atau penelitian untuk memverifikasi keberadaan jenazah. "Sejarahnya belum pernah ditelusuri secara mendalam. Belum ada penggalian atau penelitian apakah benar ada jenazah di situ atau tidak," katanya.

Farid menegaskan tidak ada koordinasi dengan warga atau pihak kelurahan. Ia menyatakan bahwa pembongkaran terjadi setelah video viral. "Sepengetahuan saya tidak ada koordinasi sama sekali. Warga tahunya ya sudah dibongkar setelah viral di media sosial," tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi dan menunggu hasil penelusuran resmi. "Kalau tidak tahu, jangan membuat statement yang ngawur. Kita tunggu saja hasil penelusuran. Sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari pemerintah maupun tokoh masyarakat," ujarnya.

Farid menuntut bukti ilmiah jika situs tersebut hanyalah petilasan. Ia menegaskan bahwa jika memang makam, harus dihormati dan dikembalikan. "Kalau memang itu makam, ya harus dihormati dan dikembalikan. Tapi kalau tidak, mari dibuktikan secara jelas. Jangan hanya berdasarkan opini," imbuhnya.

Ia berharap pemerintah turun tangan untuk mengungkap kebenaran dan menindak pelanggaran, serta menuntut koordinasi sejak awal. "Harapan kami, kalau memang itu makam, bangunannya bisa dikembalikan. Dan kalau ada pelaku, perlu ada tindakan. Kenapa tidak koordinasi dari awal?" pungkasnya.

Kasus ini masih dalam proses investigasi. Kepentingan sejarah, kepemilikan, dan hak waris menjadi inti perdebatan. Hasil penelusuran resmi dan klarifikasi dari pihak terkait akan menentukan langkah selanjutnya. Sementara itu, masyarakat di Sidoarjo menunggu keputusan yang adil dan transparan.

Pasar WonocoloMakam WaliyullahPembongkaranPolisiDPRD SidoarjoViral VideoTionghoa

Komentar

Memuat komentar...