Porong Lama: Keramaian Mati Akibat Lumpur Lapindo Sidoarjo
Gambar atau konten salah?
Sidoarjo, wilayah yang dulu dikenal dengan keramaian dan aktivitas ekonomi, kini terasa hening. Semburan lumpur panas Lapindo yang dimulai pada tahun 2006 menenggelamkan pemukiman warga dan merusak akses jalan utama, membuat kawasan Porong lama menjadi sepi seperti kota mati.
Jalan Raya Porong lama, yang dulu menjadi pusat belanja masyarakat Sidoarjo bagian selatan, kini dipenuhi toko-toko yang tutup dan bangunan kosong. Aktivitas perdagangan yang pernah berlangsung 24 jam, dari pedagang kaki lima hingga rumah makan, telah berkurang drastis. Banyak pedagang terpaksa gulung tikar karena tidak ada pembeli.
Salah satu pedagang yang masih bertahan adalah Toko Cendrawasih milik Rio. Toko sepatu dan sandal ini tetap buka di tengah keramaian yang hilang. “Dulu di sepanjang jalan ini ramai sekali. Ratusan toko buka sampai malam melayani pembeli. Sekarang banyak yang tutup karena sudah tidak ada pembeli,” kata Rio pada Senin, 25 Mei 2023. Ia menambahkan bahwa setelah semburan lumpur Lapindo muncul, jumlah pengunjung ke pusat perdagangan Porong menurun drastis. Banyak pedagang akhirnya memilih gulung tikar karena terus merugi. “Kalau malam dulu ramai sekali, sekarang sepi seperti kota mati. Di sebelah utara sini tinggal toko saya yang masih bertahan,” ujarnya.
Rio mengamati bahwa di sebelah selatan masih ada beberapa toko material bangunan dan pakaian yang buka, namun aktivitas perdagangan jauh berbeda dibanding sebelum bencana lumpur terjadi. Hal senada disampaikan oleh Iswan Christanto, pemilik toko bahan bangunan di kawasan Porong lama. Ia mengaku omzet tokonya terus menurun sejak kawasan tersebut kehilangan pusat keramaian. “Pembeli sekarang jauh berkurang. Banyak pengusaha yang dulu buka toko di sini akhirnya tutup karena tidak kuat menanggung kerugian,” kata Iswan. Menurutnya, dampak lumpur Lapindo tidak hanya mematikan aktivitas perdagangan, tetapi juga membuat perekonomian masyarakat sekitar ikut terpuruk. Semburan lumpur juga menyebabkan hilangnya ribuan rumah warga, rusaknya lahan pertanian, hingga anjloknya harga tanah dan properti di kawasan terdampak. “Dulu Porong jadi pusat ekonomi masyarakat. Sekarang banyak usaha tutup gara-gara dampak lumpur,” tambahnya.
Selain dampak ekonomi, kawasan Porong juga merasakan penurunan tajam pada sektor pariwisata. Ula Muanisa, seorang pemandu wisata berusia 42 tahun, mengaku kondisi wisata Lumpur Lapindo saat ini jauh berbeda dibanding masa awal semburan. Menurutnya, jumlah wisatawan semakin sedikit dan pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari wisata lumpur ikut menurun tajam. “Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali,” kata Ula. Ia menjelaskan bahwa kunjungan wisatawan saat ini tidak menentu. Dalam satu minggu terkadang hanya satu kali mendapat tamu untuk dipandu berkeliling lokasi semburan lumpur. “Bahkan sekarang banyak pengunjung turun sendiri secara gratis, jadi kami tidak dapat penghasilan,” ujarnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ula mengaku terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar lokasi wisata lumpur. “Kadang harus cari tambahan jadi tukang ojek supaya kebutuhan rumah tangga tetap jalan,” tambahnya.
Mustofa, sesama pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo, menambahkan bahwa penurunan penghasilan mulai terasa sejak pandemi COVID-19 dan hingga kini belum kembali normal. “Memang benar penghasilan teman-teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai,” kata Mustofa. Menurutnya, pada hari biasa pendapatan warga hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. Bahkan tidak jarang mereka pulang tanpa membawa uang sama sekali. “Hari biasa sering tidak dapat apa-apa. Kalau Sabtu atau hari libur kadang agak ramai, tapi tetap tidak menentu,” jelasnya. Mustofa mengatakan meski sesekali ada rombongan tamu dari Surabaya, belum tentu seluruh pengunjung menggunakan jasa pemandu wisata atau ojek warga sekitar. “Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu,” ujarnya.
Di sisi lain, Sastro, warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, berharap pemerintah daerah ikut membantu mempromosikan wisata Lumpur Lapindo agar ekonomi warga sekitar kembali bergerak. “Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan,” kata Sastro. Ia berharap wisata Lumpur Lapindo bisa kembali dikenal luas sehingga jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan warga kembali membaik. “Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali,” tandasnya.
Lapindo, yang menimbulkan semburan lumpur panas sejak 2006, telah menimbulkan dampak jangka panjang bagi masyarakat Sidoarjo. Dari hilangnya pemukiman, kerusakan lahan pertanian, hingga penurunan nilai properti, dampak ekonomi terasa di setiap lapisan masyarakat. Sekarang, di tengah kesunyian Porong lama, para pedagang, pemandu wisata, dan warga berharap ada upaya promosi dan dukungan yang dapat mengembalikan kehidupan ekonomi yang pernah berdenyut di kawasan tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Konflik Gebby Vesta & Sopir Taksi Di Bali Berakhir Damai
Ayo ke Taman Nasional Luncurkan Aplikasi E‑Ticketing 93%
Bandung Minta Status Darurat Sampah, Proses Belum Disetujui
Indofest 2026: 80 Brand Outdoor di JCC, Target Rp60 Miliar
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Berita Terbaru
Pengumuman Hasil Seleksi SPMB Sumsel 2026/2027: Tanggal 6 Juni
Bulan Muharram: Larangan dan Amalan yang Harus Diikuti
Persela Lamongan Rekrut Statistik Sukses, Siap Liga 2 2026
Indonesia 3-0 Timor Leste, Poin Lengkap Grup A AFF U-19 2026
I Wayan Sutama: Dari Peternak Jadi Pengusaha Bengkel Mobil
Pemerintah Pertimbangkan Angkat KSPI Said Iqbal ke Kabinet
