Ragunan Lebaran 2026: Keramaian, Sampah dan Kekecewaan Pengunjung

Dian P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Ragunan Lebaran 2026: Keramaian, Sampah dan Kekecewaan Pengunjung

Gambar atau konten salah?

Jakarta, pengunjung memadati kawasan wisata Taman Margasatwa Ragunan selama libur Lebaran 2026. Di tengah keramaian, beragam pengalaman muncul. Beberapa merasa nyaman, sementara yang lain kecewa.

Pada 24 Maret 2026, penulis mengunjungi Ragunan. Di gerbang utara, perjalanan berjalan lancar, namun di dalam kebun binatang suasana berbeda. Dua wajah itu dirasakan oleh pengunjung.

Anggi Wisnu Pratama, 30 tahun, berasal dari Pondok Gede, mengendarai sepeda motor. Ia tiba di Gerbang Utara Ragunan hanya dalam 45 menit. Ia berkata: “Enggak macet alhamdulillah, aman. Menurut saya kepadatan sedang lah, masih di batas nyaman. Kalau biasanya kan wah udah nggak kebayang nih Ragunan kayak gimana,”

Wisnu memuji perjalanan tanpa macet, kepadatan sedang, masih nyaman. Ia mengakui kebersihan kurang karena banyak pengunjung, petugas kewalahan, namun tetap aman. “Wajar kalau kebersihan mungkin kurang, namanya lagi banyak kayak gini kan, jumlah petugas nggak sesuai sama pengunjung. Kan manusiawi lah, tapi sejauh ini aman,” tambahnya.

Berbeda dengan pengalaman Anita Carolina, 22 tahun, asal Depok. Ia berangkat siang pukul 12.00 WIB, tidak terjebak macet, tapi di dalam Ragunan terasa sumpek, pusing. “Sumpek banget sih, Mas, sampai agak pusing juga,” kata Anita.

Data menunjukkan total kunjungan 69.890 orang, terdiri dari 19.674 anak dan 50.216 dewasa. Kendaraan 65 bus, 3.296 roda empat, 8.093 roda dua, dan 54 sepeda.

Anita menyoroti masalah kebersihan dan kesadaran pengunjung terhadap lingkungan dan kesejahteraan hewan. Ia sangat kecewa dengan sampah di area terbuka hijau. “Pertegas soal buang sampah dan ngerokok sih. Sampah masih berserakan di mana-mana dan masih banyak yang ngerokok, padahal banyak anak-anak, lansia, dan ibu hamil,” kata dia.

Meskipun Ragunan menerapkan Perda No. 2 Tahun 2005 DKI Jakarta dan Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010, yang menetapkan kawasan bebas rokok, masih banyak pengunjung merokok dan membuang sampah sembarangan.

Situasi ironis terjadi ketika pengunjung memperlakukan satwa dengan tidak empati. Anita melihat sampah botol di kandang, hewan dilempar popcorn, dan seseorang mengeluh ke kolam biawak. “Tadi saya lihat di kandang ada sampah botol, jujur kecewa banget. Bahkan ada hewan dilemparin popcorn, dan ada yang ngeludah ke dalam kolam biawak. Saya ngeri hewan-hewannya pada stres dilempar-lemparin sampah,” ujar Anita.

Anita ragu untuk menyinggung hal itu secara terbuka karena takut konflik dengan pengunjung yang agresif. Ia berharap masyarakat memiliki kesadaran kolektif lebih tinggi untuk menjaga ruang publik ini, memastikan tempat ini tetap menjadi destinasi wisata yang ramah bagi semua makhluk hidup.

Pengalaman ini menyoroti perbedaan pandangan pengunjung terhadap Ragunan. Sementara sebagian merasakan tempat ini menyenangkan, yang lain menilai bahwa keramaian dan kurangnya pengawasan menyebabkan ketidaknyamanan dan dampak negatif bagi hewan serta lingkungan. Keberlanjutan taman ini bergantung pada kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan, menghormati aturan, dan menghargai satwa yang menjadi tamu utama di sana.

RagunanKepadatanKebersihanSampahRokokSatwaLingkungan

Komentar

Memuat komentar...