Rahmi Hidayati Bahas Sejarah Kebaya di Depok Sesi Diskusi

Wahyu T. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 94 dibaca
Bisik.id
Rahmi Hidayati Bahas Sejarah Kebaya di Depok Sesi Diskusi

Gambar atau konten salah?

Kebaya telah menjadi pakaian tradisional yang semakin dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk generasi muda yang memakai kebaya sebagai simbol kebanggaan ketika bepergian atau bersantai. Pada 22 April 2026, sebuah sesi Diskusi Cerita Kebaya diadakan oleh Tlatah Waktu dan Rumah Cinta Wayang di Depok, Jawa Barat. Rahmi Hidayati, pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, menjadi narasumber utama dan berbagi pengetahuan mendalam tentang sejarah serta makna kebaya tradisional.

Ini adalah sesuatu yang penting, karena kalau nggak sharing, orang-kadang mikir 'ah ribet pakai kebaya, ngapain sih'. Apalagi anak-anak muda, tapi yang datang hari ini ternyata anak-anak muda, senang banget!” ujar Rahmi sambil tersenyum lebar di depan audiens yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan penggemar budaya.

Menurut kajian akademis yang dipelajari oleh Rahmi dari UGM, evolusi kebaya di Indonesia sangat berkaitan dengan perjalanan sejarah penyebaran Islam. Awalnya, penduduk kepulauan Indonesia memakai pakaian yang cukup terbuka atau memilih kemben tradisional. Dengan masuknya Islam, masyarakat diajarkan cara menutupi aurat, yang pada masa itu mencakup bahu, dada, dan lengan. “Jadi harus berlengan bajunya. Untuk menyesuaikan dengan ajaran agama, nenek moyang kita menggunakan selendang panjang untuk menutupi bagian atas tubuh. Dari lilitan selendang inilah, cikal bakal bentuk kebaya mulai tercipta,” tambahnya.

Di tengah perbincangan, Rahmi menegaskan bahwa masih banyak kesalahpahaman tentang apa yang sebenarnya merupakan kebaya. Banyak orang menganggap setiap pakaian berbahan brokat sebagai kebaya, padahal tidak. Ia menegaskan tiga esensi dasar kebaya berikut:

  • 1. Bukaan Depan: Kebaya otentik ditandai dengan bukaan di bagian depan, mencerminkan praktik leluhur dalam menyilangkan selendang. Pakaian dengan kerah tertutup di depan dan ritsleting di belakang tidak termasuk kebaya.
  • 2. Simetri Sisi: Potongan di sisi kiri dan kanan kebaya harus simetris sempurna.
  • 3. Lengan: Kebaya wajib memiliki lengan, baik panjang, tiga perempat, maupun pendek, karena tujuannya menutupi tubuh.

Berbagai jenis kebaya yang populer di Indonesia juga dibahas secara rinci. Berikut tujuh contoh kebaya yang memiliki ciri khas masing-masing:

  1. Kebaya Kartini – Terinspirasi dari selendang yang diikat elegan di tengah tubuh, kebaya ini menampilkan kancing rapi di bagian dada. “di Lombok, di Batak, Jogja, eh itu di Kudus, tempatnya Kartini, di mana-mana dipakai gitu. Nah, model kebaya Kartini itu bukan berarti dia muncul karena Kartini, tapi kebaya model itulah yang selalu dipakai sama Kartini, makanya disebutnya kebaya Kartini,” jelas Rahmi.
  2. Kebaya Kutu Baru – Kebaya ini berasal dari kemben, di mana selendang diikat di sisi kiri dan kanan kemben, dan bagian tengah berbentuk persegi. Bagian tengah berbentuk persegi mewakili kemben asli nenek moyang kita, yang kini disebut “kutu baru.”
  3. Kebaya Encim – Gaya ini muncul dari perpaduan budaya dengan tetangga Tionghoa. “Aslinya dari kita, tapi mereka buat menjadi lebih bagus dan cantik dengan bordir-bordir buatan tangan,” kata Rahmi. Ujung kebaya Encim biasanya meruncing di depan dengan motif floral cerah.
  4. Kebaya Labuh – Memiliki siluet A dengan potongan lebih panjang hingga lutut, sering dikombinasikan dengan tenun songket.
  5. Kebaya Sunda – Menonjolkan garis leher berbentuk V atau segitiga yang meruncing ke bawah, berbeda dengan garis leher persegi pada Kebaya Kutu Baru. Kebaya Sunda tetap menggunakan penutup kancing di bagian tengah.
  6. Kebaya Basiba (Sumatera Barat) – Di Minangkabau, kebaya ini dikenal dengan bahan kain berkilat, kancing langsung di tengah tanpa tambahan “lidah” seperti Kebaya Kartini, serta penampilan sopan.
  7. Kebaya Janggan – Menonjolkan kerah tinggi khas dan kancing asimetris yang melintasi dari sisi kanan ke kiri dada. “Dari dulu ini dipakai di keraton-keraton seperti Yogyakarta dan Solo, biasanya dikenakan oleh para Abdi Dalem,” tambah Rahmi. Kerah dan kancing miring ini juga dipengaruhi oleh model baju pendeta atau pakaian tradisional Tiongkok.

Semua kebaya tersebut mencerminkan sejarah dan gaya yang beragam di seluruh nusantara. Rahmi menekankan pentingnya mengenali pakem kebaya saat mengunjungi istana kerajaan atau ketika ingin memotret foto Instagram yang sempurna dengan pakaian tradisional di tempat wisata. Ia menegaskan bahwa memakai kebaya yang sesuai dengan pakem tidak hanya menambah keindahan visual, tetapi juga menghormati warisan budaya yang telah diwariskan.

Diskusi ini menyoroti bahwa kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan simbol sejarah, nilai, dan identitas. Dengan pemahaman yang tepat tentang esensi dan variasi kebaya, generasi muda dapat melestarikan tradisi ini sambil mengekspresikan diri mereka secara kreatif. Kebaya tetap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, menghubungkan nilai-nilai budaya dengan kehidupan sehari-hari yang modern.

KebayaRahmi HidayatiDiskusi Cerita KebayaKomunitas Kebaya IndonesiaEvolusi KebayaIslamKebaya Kartini

Komentar

Memuat komentar...