Rumah Pompa Belanda 1920 di Sidoarjo: Berkarat, Berfungsi
Gambar atau konten salah?
Di Sidoarjo, Jawa Timur, tersembunyi sebuah bangunan peninggalan Belanda yang telah berdiri lebih dari seratus tahun. Bangunan ini, yang merupakan rumah pompa dan pintu air, terletak di Desa Kedungcangkrin, Kecamatan Jabon. Sejak dibangun pada tahun 1920, ia menjadi saksi bisu pengelolaan sistem irigasi pada masa Hindia Belanda.
Di bagian atas dinding rumah pompa masih tertulis angka “1920”, menandai usia bangunan. Namun, kondisi bangunan kini memprihatinkan. Pintu air terlihat berkarat, sementara rumah pompa di sekitarnya tampak tidak terawat. Meski demikian, ciri khas arsitektur kolonial masih terlihat jelas dari ornamen bangunan, seperti dimensi pintu dan jendela yang besar serta penggunaan teralis besi.
Dr. Sudi Harjanto, pegiat sejarah dan budaya Sidoarjo, menjelaskan bahwa bangunan tersebut dulunya memiliki peran penting dalam menunjang sektor perkebunan, khususnya tebu. “Sejarah mencatat, Belanda memanfaatkan aliran Sungai Porong untuk mengairi area perkebunan tebu di Sidoarjo dan sekitarnya. Bahkan, mereka membuat kanal dan pintu air untuk memastikan pasokan air tetap stabil,” kata Sudi melalui telepon seluler, Jumat (24/4).
Menurut Sudi, sistem pintu air di Kedungcangkrin merupakan bagian dari jaringan irigasi besar yang menopang industri gula pada masa lalu. Tak heran, jika Sidoarjo pernah menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pabrik gula terbanyak.
Di lokasi tersebut, masih terlihat sembilan tuas pintu air yang meski berkarat, tetap berdiri utuh. Di sisi timur pintu air, terdapat bangunan rumah pompa dengan ornamen khas kolonial yang relatif masih terjaga, termasuk struktur dinding dan jendela. Sudi menambahkan, kawasan Kedungcangkrin juga pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan karena letaknya yang strategis di dekat Sungai Porong, yang dahulu berfungsi sebagai jalur transportasi utama.
“Selain ornamen kolonial, di dalam rumah pompa dulunya terdapat mesin besar yang oleh warga disebut roda gila. Namun kini mesin tersebut sudah tidak berfungsi,” kata Sudi.
Ia menjelaskan, konstruksi bangunan juga menggunakan teknik khas masa itu, seperti rangka atap berbahan besi dengan sistem tertentu, meskipun sebagian atap kini telah runtuh dimakan usia. Tak jauh dari lokasi, terdapat pintu air tersier yang diduga berfungsi untuk mengatur volume air serta mengendalikan banjir. Meski telah berusia lebih dari satu abad, struktur bangunan masih berdiri kokoh.
Sudi juga mengungkapkan, jalur aliran Sungai Porong yang ada saat ini merupakan hasil rekayasa pemerintah kolonial Belanda. Seiring waktu, beberapa aliran sungai tidak lagi difungsikan. “Dari situ kemudian muncul istilah ‘kali mati’, karena aliran airnya sudah tidak aktif atau sengaja ditutup,” jelasnya.
Bangunan bersejarah ini berada tidak jauh dari kawasan terdampak lumpur Lapindo. Meski menyimpan nilai sejarah tinggi, hingga kini belum ada upaya perawatan serius untuk menjaga kelestariannya.
Sunyono (67), salah satu warga Dusun Pajarakan, Desa Kedungcankring, mengaku bahwa peninggalan era kolonial Belanda itu ternyata masih difungsikan untuk kebutuhan pengairan. Pintu air itu diyakini merupakan bagian dari sistem pengairan Sungai Porong yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Informasi tersebut ia peroleh dari cerita turun-temurun warga terdahulu.
“Menurut cerita orang-orang dulu, ini pintu air dari Sungai Porong yang dibangun zaman Belanda,” kata Sunyono saat ditemui di lokasi. Ia menjelaskan, hingga saat ini pintu air tersebut masih berfungsi, terutama untuk mengalirkan air ke area persawahan. Namun, kondisi bangunan dinilai kurang terawat.
“Masih dipakai sampai sekarang, tapi perawatannya kurang maksimal. Bahkan beberapa peralatan di dalam rumah pintu air sudah ada yang hilang,” ujarnya.
Sunyono juga mengungkapkan, kawasan di selatan Sungai Porong pada masa lalu dikenal sebagai salah satu penyangga perekonomian di era kolonial. Hal itu, menurutnya, masih bisa dilihat dari keberadaan Pasar Gempol yang dulu cukup ramai. “Dulu wilayah sini termasuk penyangga ekonomi, salah satunya ya Pasar Gempol. Sekarang masih ada, tapi tidak seramai dulu,” tambahnya.
Meski demikian, keberadaan kanal dan pintu air tersebut masih memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Saat musim kemarau, aliran air dari kanal tersebut digunakan untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah desa. “Kalau kemarau, airnya masih dipakai untuk sawah di Kupang, Panggreh, Dukosari dan sekitarnya,” pungkasnya.
Bangunan ini mencerminkan warisan kolonial Belanda yang masih hidup di tanah Indonesia. Meskipun kondisi fisiknya menurun, fungsi pengairan yang masih berjalan menunjukkan bahwa struktur tersebut tidak sepenuhnya hancur. Namun, tanpa upaya perawatan dan pelestarian, bangunan berusia lebih dari satu abad ini berisiko semakin menua dan kehilangan nilai sejarahnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
Serenada Enchanting Valley: Konser Musik di Puncak Bogor
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Berita Terbaru
Mihailo Perovic Tinggalkan Persebaya, Tak Lagi Pakai Seragam
Raphinha: Brasil kuat menyerang, butuh pertahanan Piala Dunia
SPMB 2026 Jambi: Mulai 8 Juni, Jalur Afirmasi & Mutasi
Mandian Air Hangat vs Air Dingin: Manfaat bagi Tubuh
Kebakaran Rumah di Musim Kemarau, Asuransi Zurich Lindungi
Trans7 Mengajar Cipasung: Pelatihan Konten Digital Mahasiswa
Cucurella Siap Transfer ke Barcelona, Chelsea Tuntut
