Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.300 pada Pekan Ini

Agus P. · 3 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.300 pada Pekan Ini

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan terus melemah. Konflik yang memanas di Timur Tengah menjadi salah satu pemicunya. Mata uang Garuda bahkan berpotensi menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS pada pekan ini.

"Rupiah ini melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Karena saya sendiri memberikan target di minggu ini itu kemungkinan Rp 18.300-an," kata analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, pada Selasa, 14 Juli 2026.

Ada persoalan lain yang lebih mendasar. Secara historis, ketika rupiah sudah melemah, kecil kemungkinan nilainya bisa kembali menguat secara signifikan ke level beberapa tahun sebelumnya. Penyebab utamanya adalah permintaan dolar yang terus meningkat, terutama untuk membayar bunga cicilan atau utang luar negeri.

Belum lagi permintaan impor bahan bakar dan bahan baku produksi dalam negeri yang juga terus naik. Ini menciptakan permintaan rutin terhadap mata uang asing. Pada akhirnya, kondisi ini terus menekan rupiah.

"Kita harus lihat sejarah, dari tahun 2014 sampai tahun 2026 tidak pernah rupiah itu menguat, rupiah selalu melemah. Semakin tahun hutang pemerintah semakin besar, itulah yang membuat rupiah melemah," ujar Ibrahim.

Artinya, jika Indonesia tidak mengurangi jumlah utang dan ketergantungan impor, mau tidak mau harus betah melihat nilai dolar yang semakin hari semakin mahal. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) atau pemerintah bisa melakukan sejumlah upaya untuk menahan laju pelemahan rupiah.

"Kalau seandainya turun pun juga kemungkinan besar di Rp 17.800 itu sudah paling rendah. Artinya apa? Turun mencapai di level tahun 2025 sangat sulit. Nanti pun juga tahun 2027 turun di bawah harga di tahun 2026 sangat sulit. Karena memang benang merahnya itu dari 2014 sampai saat ini terus mengalami pelemahan," tegasnya.

Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, juga punya pandangan serupa. Secara historis, saat nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah mengalami depresiasi atau pelemahan, mata uang Garuda ini bisa kembali naik atau menguat secara signifikan ke level sebelumnya. Misalnya, dari posisi saat ini yang sudah di atas Rp 18.100 per dolar AS, kembali ke Rp 16.500 per dolar AS.

"Kita lihat selama beberapa tahun terakhir memang sulit untuk rupiah kembali ke titik semula ya. Katakanlah 16.500 seperti yang di APBN 2026 targetnya begitu," terang Tauhid.

Selain faktor historis, Tauhid menilai rupiah saat ini sudah sangat sensitif terhadap sentimen pasar global. Sektor produksi dan energi di Indonesia masih sangat bergantung pada impor.

"Jadi kita sudah sangat sensitif dengan isu geopolitik di tingkat global gitu ya. Jadi ini yang kemudian nggak bisa kekuatan domestik saja bisa mengantisipasi situasi itu," ujarnya.

Masalahnya, upaya yang diperlukan untuk mendorong rupiah kembali menguat sangat besar. Salah satu caranya adalah menaikkan suku bunga acuan BI atau BI-Rate lebih tinggi lagi. Tapi cara ini punya risiko sendiri, seperti membuat pertumbuhan ekonomi nasional melambat.

"Nah itu juga agak sulit sehingga dari titik keseimbangannya ya adalah rupiah tidak terlalu melemah tapi ekonomi masih bisa jalan begitu. Nah titik kesimbangan itu yang kemudian sulit karena tadi bisa saja di bawah Rp 18.000 tapi BI rate-nya harus naik lebih tinggi," ucap Tauhid.

"Konsekuensinya kredit mahal, cost of fund naik, kemudian kita harus bayar bunga utang lebih mahal dan sebagainya. Nah itu yang relatif kenapa agak berat untuk mendorong dolar di bawah 18.000 untuk saat ini," sambungnya.

Dari penjelasan kedua analis, terlihat bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar masalah sesaat. Ada pola jangka panjang yang sudah berlangsung sejak 2014. Ketergantungan pada impor dan besarnya utang pemerintah menjadi faktor struktural yang sulit diubah dalam waktu singkat. Kebijakan moneter seperti menaikkan suku bunga memang bisa menahan pelemahan, tapi konsekuensinya terhadap pertumbuhan ekonomi juga tidak bisa diabaikan.

pelemahan rupiahnilai tukar dolarkonflik timur tengahutang luar negeriketergantungan imporsuku bunga BItarget kurs rupiah

Komentar

Memuat komentar...