Salat Idul Adha: Syarat, Rukun, dan Niat di Indonesia

Wulan M. · 2 min baca · 27 hari lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Salat Idul Adha: Syarat, Rukun, dan Niat di Indonesia

Gambar atau konten salah?

27 Mei 2026 diperkirakan menjadi hari Rabu pada Idul Adha 2026 atau 1447 H, menurut Surat Keputusan Menteri dan Kalender Islam terbitan Kemenag RI. Pada hari raya ini, salah satu ibadah yang paling utama adalah pelaksanaan salat Id. Banyak orang bertanya, bagaimana posisi ibadah ini dalam syariat Islam?

Menurut laman NU Online, salat Idul Adha memiliki syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkan yang sama dengan salat lainnya. Yang membedakannya hanyalah waktu pelaksanaan, jumlah takbir, dan tidak diawali dengan kumandang adzan serta iqamah. Ibadah ini menjadi momen sakral bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk memperkuat keimanan sebelum prosesi penyembelihan hewan kurban.

Hukum pelaksanaan salat Idul Adha adalah sunnah muakkadah, artinya amalan yang sangat dianjurkan dan mendekati wajib. Meskipun tidak sampai derajat wajib, ibadah ini memiliki tempat mulia karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya sejak pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriah hingga akhir hayat beliau.

Allah SWT menegaskan anjuran ini secara langsung dalam firman-Nya di Al-Qur’an: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2). Artinya: "Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS Al-Kautsar [108]: 1-2) Para ulama menafsirkan bahwa perintah “laksanakanlah salat” merujuk pada salat Idul Adha. Oleh karena itu, bagi yang tidak memiliki udzur syar'i, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan salat sunah Idul Adha.

Berikut bacaan niat lengkap untuk salat Idul Adha yang dapat dihafal sesuai posisi masing-masing:

  1. Niat Salat Idul Adha sebagai Imam
    أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
    Latin: Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'ataini imâman lillâhi ta'âlâ.
    Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah ta'ala.”
  2. Niat Salat Idul Adha sebagai Makmum
    أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالَى
    Latin: Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'ataini ma'mûman lillâhi ta'âlâ.
    Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah ta'ala.”
  3. Niat Salat Idul Adha Sendiri (Munfarid)
    أُصَلِّيْ سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
    Latin: Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'ataini lillâhi ta'âlâ.
    Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah ta'ala.”

Setiap niat di atas wajib hadir di hati bersamaan dengan takbiratul ihram, sehingga salat sah. Dengan memahami hukum dan bacaan niat ini, umat dapat melaksanakan salat Idul Adha dengan penuh kesadaran dan ketenangan.

Persiapan yang matang, baik secara spiritual maupun fisik, akan membantu kita menyambut hari raya kurban nanti. Bagikan informasi bermanfaat ini kepada keluarga dan teman dekat, dan nikmati Idul Adha dengan penuh keikhlasan.

Idul Adha bukan sekadar perayaan, melainkan ajakan untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta melalui ibadah yang telah ditegaskan sejak masa Nabi. Dengan mengikuti salat Idul Adha, umat Muslim dapat menegaskan komitmen mereka terhadap nilai-nilai keimanan dan kepedulian sosial yang melekat pada hari raya kurban.

Salat Idul AdhaIdul AdhaNiat SalatSunnah MuakkadahKurbanRukun SalatIbadah Kurban

Komentar

Memuat komentar...