Sanggar Teosofi Surabaya: Sejarah Spiritual Tahun 1927
Gambar atau konten salah?
Sanggar Penerangan Teosofi Surabaya terletak di Jalan Serayu No. 11, Kelurahan Darmo, Surabaya. Bangunan tua ini sering menjadi bahan spekulasi karena simbol-simbolnya yang tampak misterius. Namun, di balik keunikan tersebut, sanggar ini menyimpan sejarah panjang pemikiran spiritual yang menekankan pencarian kebenaran dan pengetahuan murni.
Bangunan ini berdiri sejak era kolonial, tepatnya pada tahun 1927. Sejak itu, ia telah menjadi saksi bisu bagi perubahan sosial dan budaya di kota ini. Arsitekturnya menggabungkan elemen klasik dengan simbol-simbol esoterik, menciptakan suasana yang mendalam bagi para pengunjung.
Di dalam ruang utama, lantai bermotif catur menandai area meditasi. Papan putih yang dulu digunakan untuk ceramah masih terpatri, sementara di langit-langit terukir hexagram—bintang segi enam—yang menjadi titik fokus bagi praktik meditasi. Setiap detail interior dirancang untuk memperkuat fungsi spiritual sanggar.
Ruang utama dihiasi meja bertaplak hijau, di atasnya terletak palu dan lonceng. Di dinding, prinsip “Satyan Nasti Paro Dharma” terpampang, menegaskan bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran. Simbol-simbol ini bukan bagian dari praktik rahasia, melainkan representasi nilai spiritual dan filosofi universal.
Koh Gun, pemandu di sanggar, menjelaskan bahwa bangunan ini bukan sekadar cagar budaya. Ia menegaskan bahwa sanggar ini adalah pusat studi sains spiritual yang mempelajari hakikat ketuhanan yang tersembunyi di dalam hati manusia, sejalan dengan konsep Nur Ilahi, Roh Kudus, atau Ingsun Sejati.
“Ya, jadi, teosofi itu melajarin fisika yang quantum, dinamika quantum yang nggak kelihatan itu, dipelajarin. Oke, jelas ya, sekarang, ya,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, 14 April 2026. Ia menekankan bahwa landasan saintifik pergerakan ini sangat dalam, melampaui fisik bangunan itu sendiri.
“Jadi, teosofi itu ilmu murninya. Nah, nanti kita keliling ya. Jadi, ilmu murni itu kalau kamu mau pakai putih, ya putih. Kalau mau dipakai hitam, ya hitam,” tuturnya. Koh Gun menggambarkan bagaimana ajaran ini dapat disalahgunakan jika jatuh ke tangan yang salah.
“Sesuatu yang dipakai untuk kepentingan buruk itu pasti hitam, kalau menurut teosofi,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya logika agar manusia tidak terjebak dalam kepentingan ego pribadi ketika berspiritual.
“Jadi, sebenarnya yang bermasalah itu bukan teosofinya. Tapi yang udah menyimpang‑menyimpang lainnya dan berkekuatan besar dominan. Akhirnya teosofinya kecantol,” jelasnya. Ia juga menjelaskan perbedaan Teosofi dengan Freemason dan Illuminati, yang sering disalahpahami masyarakat karena kemiripan simbol atau kerahasiaan organisasinya.
Dalam perspektif sejarah dan spiritualnya, Teosofi memandang manusia memiliki tujuh lapisan tubuh, mulai dari fisik hingga Atma—percikan Tuhan. Koh Gun menekankan bahwa Teosofi adalah ilmu murni yang netral, dan ia mengajak pengikutnya untuk mempraktekkan meditasi sebagai cara menjaga kesadaran dari satu momen ke momen berikutnya.
Sanggar ini juga berupaya mencari titik temu antaragama. Melalui pendekatan Spiritual Science, ia mengkritik keras komersialisasi agama dan ketidakadilan gender yang sering terjadi akibat politisasi ajaran. Ia menegaskan bahwa agama seharusnya menjadi pakaian luar, sementara pencarian kebenaran sejati dimulai dari dalam diri melalui bakti sosial, pengetahuan murni, dan kesadaran batin yang dalam.
Dengan sejarah yang kaya dan filosofi yang mendalam, Sanggar Penerangan Teosofi Surabaya tetap menjadi tempat bagi mereka yang ingin mengeksplorasi dimensi spiritual di luar batasan tradisional. Bangunan tua ini, yang telah berdiri sejak 1927, terus menampilkan simbol-simbol yang mengajak pengunjung untuk merenung dan menelusuri hakikat kehidupan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
PDIP Gelar Peringatan Bung Karno, Patung Baru di Istana
Puasa Asyura: Tradisi Menyembuhkan Dosa Setahun Di Bumi Islam
BOSP 2026 Tahap 2: Pastikan Laporan dan Realisasi 50%
PHR Buka Program Magang Lulusan D3-D4-S1, Pendaftaran 15–19 Juni
Bupati Subandi Tekankan Peran Orang Tua di Era Digital
Polrestabes Tutup Jalan Malam 1 Suro untuk Acara Silat
Berita Terbaru
Alwi Farhan Juara Tunggal Putra Australian Open 2026
Putri Thailand Bajrakitiyabha Meninggal, Pemakaman Resmi
PDIP Gelar Peringatan Bung Karno, Patung Baru di Istana
Puasa Asyura: Tradisi Menyembuhkan Dosa Setahun Di Bumi Islam
Bandung Zoo Pindah ke Faunaland, Harga Tiket Dipantau
Nadeo Argawinata Tahan Borneo FC, Kontrak Baru 2029
Sabar/Reza Gagal Juara Australia Open 2026, China Juara Umum
MrBeast Capai 500 Juta Subscriber, Live Stream Terbuka 600 Ribu Penonton