Satu Siswa Baru di SMPN 26 Bengkulu Tengah, MPLS Tetap Jalan

Ayu W. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Satu Siswa Baru di SMPN 26 Bengkulu Tengah, MPLS Tetap Jalan

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Bengkulu Tengah, suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 26 tahun ajaran 2026/2027 benar-benar berbeda. Biasanya, puluhan siswa baru memenuhi ruang kelas. Di sini, hanya satu orang.

Namanya Muhammad Yuda. Ia menjadi satu-satunya peserta didik baru. Meski begitu, Yuda tetap mengikuti seluruh rangkaian MPLS. Ia didampingi oleh beberapa siswa senior dan para guru.

"Hanya ada satu siswa baru yang diterima tahun ini. Namun kegiatan MPLS dan proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa," kata Kepala SMPN 26 Bengkulu Tengah, Sosnaidi, pada 14 Juli 2026.

Hari pertama MPLS, sekolah terasa sepi. Tidak ada keramaian seperti biasanya di awal tahun ajaran. Yuda mengikuti kegiatan bersama enam siswa kelas IX, dua siswa kelas VIII, dan satu siswa kelas VII yang sedang mengulang.

Jumlah peserta didik memang sangat sedikit. Tapi para guru tetap memberikan materi pengenalan sekolah, pembinaan karakter, dan kegiatan MPLS lainnya. Semua dilakukan seperti pada rombongan belajar pada umumnya.

Sosnaidi menjelaskan, sekolah sudah berusaha keras menarik minat masyarakat. Mereka melakukan sosialisasi ke sekolah dasar terdekat. Menawarkan program seragam gratis. Bahkan mendatangi rumah calon siswa secara langsung. Semua itu belum cukup. Jumlah pendaftar di SMPN 26 tetap rendah.

Sebagian besar lulusan sekolah dasar di sekitar justru memilih sekolah lain. Satu-satunya siswa baru tahun ini datang dari luar daerah. Yuda adalah lulusan Madrasah Ibtidaiyah di Lubuklinggau. Ia masuk melalui jalur mutasi.

Saat ini, SMP Negeri 26 Bengkulu Tengah memiliki 10 tenaga pendidik dan tujuh bangunan sekolah. Tapi jumlah siswa aktif hanya 10 orang. Rinciannya: enam siswa kelas IX, dua siswa kelas VIII, dan dua siswa kelas VII. Termasuk satu siswa yang mengulang kelas.

Kondisi ini menjadi tantangan besar. Sekolah harus berjuang mempertahankan layanan pendidikan. Meski demikian, pihak sekolah menegaskan proses belajar mengajar tetap berjalan sesuai jadwal. Mereka berharap kebijakan penerimaan murid baru ke depan bisa membantu pemerataan peserta didik. Khususnya bagi sekolah-sekolah yang mengalami nasib serupa.

Fenomena ini menunjukkan betapa timpangnya distribusi siswa di beberapa daerah. Sekolah dengan fasilitas lengkap dan jumlah guru memadai justru kekurangan murid. Sementara sekolah lain mungkin kelebihan. Upaya jemput bola dan program gratis belum cukup mengubah situasi. Diperlukan kebijakan yang lebih terarah agar sekolah seperti SMPN 26 Bengkulu Tengah tidak semakin sepi.

MPLSsiswa tunggalSMPN 26 Bengkulu Tengahkekurangan muriddistribusi siswapendidikantantangan

Komentar

Memuat komentar...