Satu Sopir Makanan Jadi Jembatan Bisnis di Kota 60.000 Jiwa
Gambar atau konten salah?
Zhang Yu adalah satu-satunya sopir pengantar makanan di kota kecil berpenduduk 60.000 jiwa di China Timur. Ia memutuskan menjadi sopir meski biasanya orang di kota itu lebih memilih pekerjaan lain.
Awalnya Zhang Yu pindah ke kota besar untuk membuka restoran. Namun usaha tersebut gagal dan pada 2023 ia kembali ke kampung halamannya di Malingshan, Provinsi Jiangsu. Setelah kembali, ia menyadari bahwa tidak ada layanan pengantar makanan di kota itu.
Dengan sepeda motor listrik, Zhang mulai mengantar pesanan dari satu gerai ke gerai lain. Ia tidak hanya bekerja untuk satu tempat; ia melayani 30 toko makanan dan minuman serta 50 warung makan. Waktu kerjanya berbeda dari kebanyakan pekerja: ia bekerja 12 hingga 14 jam setiap hari dan menyelesaikan hampir 40 pesanan.
Keuntungannya cukup menggiurkan. Zhang meraup sekitar 10.000 yuan (sekitar Rp 25.212.800) per bulan. Jarak pengirimannya mencakup sekitar 5 km dari utara ke selatan dan 3 km dari timur ke barat. Mayoritas pelanggan adalah pedagang kecil dan pekerja migran yang memesan makanan untuk keluarga mereka.
Walaupun jadwalnya panjang, Zhang mengaku pekerjaan ini tidak terlalu menegangkan dibandingkan pengantar antar kota. Ia tidak harus menghadapi tenggat waktu ketat, dan beberapa pelanggan bahkan menawarkan minuman kepada dia.
Setelah aplikasi pengiriman makanan Meituan memperluas layanan ke daerah pedesaan, Zhang kembali menjadi kontraktor lokal, manajer stasiun, dan pengantar makanan untuk aplikasi tersebut. Ia juga berhasil membawa 70% tempat makan lokal ke platform Meituan.
Menjadi sopir sekaligus manajer tidak membuatnya lebih tenang. Ia harus terus online dan tidak bisa mengambil cuti satu hari pun. “Saya harus terus online. Saya tidak bisa mengambil cuti selama satu tahun karena pelanggan dan toko selalu mengirimi saya pesan untuk mengecek ketersediaan saya,” jelasnya.
Kasus ini menyoroti bagaimana satu individu dapat memenuhi kebutuhan layanan di komunitas kecil. Zhang Yu menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang dapat mengisi kekosongan pasar sekaligus menciptakan peluang bagi usaha lokal. Di kota yang hanya berpenduduk 60.000 jiwa, keberadaan satu sopir pengantar makanan menjadi jembatan penting bagi para pelaku usaha dan pelanggan yang membutuhkan layanan cepat dan terjangkau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
5 Restoran Tertua Indonesia Selama Lebih Dari Seabad
Galbitang: Sop Iga Korea, Menu Sederhana Menikmati Keluarga
Sambal Bawang Bu Rudy: Pedas Nendang, Mudah Dibuat di Rumah
Kopi Selai Kacang: Minuman Sehat, Creamy, Mudah Dibuat
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Jagakarsa: 7 Tempat Kuliner Tradisional yang Harus Dicoba
Berita Terbaru
Yonathan Baskoro Ketua PBPI Denpasar, Fokus Padel Turisme
ONIC vs BTR, Final MPL ID S17: Siapa Juara? Semangat Penuh
Probiotik Manis: Gula Tinggi, Risiko Diabetes, Konsumen
5 Restoran Tertua Indonesia Selama Lebih Dari Seabad
KAI Access: Subkelas Ekonomi Berbeda, Harga Tergantung Kode
Onic vs BTR: Grand Final MPL ID 2026, Hadiah Rp5 Miliar
Transmart Full Day Sale: Diskon 50%+20% Hingga 22.00 WIB
