Simpan Daging Kurban: Cara Aman, Segar, dan Bebas Bakteri

Agus P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Simpan Daging Kurban: Cara Aman, Segar, dan Bebas Bakteri

Gambar atau konten salah?

Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen spesial bagi banyak keluarga di Indonesia. Daging kurban yang diserahkan kepada orang yang membutuhkan menjadi bahan utama dalam berbagai hidangan tradisional. Namun, setelah daging tersebut dibawa ke rumah, banyak orang yang belum menyadari pentingnya cara penyimpanan yang benar. Penyimpanan yang tidak tepat dapat menurunkan kualitas, mengurangi kesegaran, dan bahkan meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri berbahaya.

Berikut ini adalah panduan lengkap tentang bagaimana menyimpan daging kurban agar tetap aman dan tahan lebih lama. Panduan ini disusun berdasarkan rekomendasi dari para ahli kesehatan hewan dan makanan, serta pengalaman praktisi dapur di Indonesia.

  1. Jangan biarkan daging terlalu lama di suhu ruang. Setelah daging kurban diterima, banyak orang yang langsung membagi porsi atau menunda penyimpanan karena masih ingin membeli bumbu. Padahal, semakin lama daging berada di suhu ruang, semakin besar peluang bakteri berkembang biak. Idealnya, daging kurban segera ditangani dan tidak didiamkan lebih dari 2 jam setelah diterima.

  2. Pisahkan daging dan jeroan. Cara distribusi daging juga memengaruhi kebersihan dan keamanannya. Daging dan jeroan sebaiknya dipisahkan agar tidak saling mencemari. Bahkan jeroan merah dan jeroan hijau dianjurkan menggunakan wadah berbeda. Jeroan hijau seperti usus dan babat memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi karena berhubungan langsung dengan saluran pencernaan hewan.

    “Jeroan hijau direbus terlebih dahulu sebelum dibagikan.” drh Ira Firgorita, Ketua Kelompok Substansi Pengawasan Keamanan Produk Hewan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan, menekankan hal ini dalam webinar yang diselenggarakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 21 Mei 2026.

  3. Hanya perlu dikeringkan dengan tisu dapur. Banyak orang langsung mencuci seluruh daging kurban begitu sampai di rumah. Padahal, tidak semua daging perlu dicuci terlebih dahulu. Menurut drh Ira, daging yang diterima dalam kondisi bersih dan kering sebenarnya tidak perlu dicuci lagi sebelum disimpan.

    Jika daging terlihat terkena tanah, rumput, bulu hewan, atau tercampur isi jeroan, maka perlu dibersihkan menggunakan air mengalir. Setelah dibersihkan, daging harus ditiriskan lalu dikeringkan menggunakan tisu dapur agar kelembapannya berkurang. Kondisi yang terlalu lembap dapat mempercepat pertumbuhan bakteri selama penyimpanan.

  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh daging kurban. Kebersihan tangan sering terlupakan saat mengolah daging kurban. Tangan menjadi salah satu media paling mudah untuk memindahkan bakteri ke makanan lain, peralatan dapur, hingga permukaan kulkas.

    Selalu cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik sebelum dan sesudah memegang daging mentah. Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi risiko kontaminasi silang, terutama bila di dapur juga ada makanan matang atau sayuran segar. Selain tangan, talenan dan pisau untuk daging mentah juga sebaiknya dipisahkan dari alat yang digunakan untuk makanan matang.

  5. Gunakan wadah yang bersih dan food grade. Cara penyimpanan juga menentukan kualitas daging selama berada di kulkas atau freezer. Daging sebaiknya disimpan dalam wadah bersih yang tertutup rapat untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri dari bahan makanan lain.

    Pilih wadah berbahan food grade karena dirancang aman untuk kontak langsung dengan makanan. Wadah jenis ini umumnya tidak mudah melepaskan zat kimia berbahaya selama proses penyimpanan. Selain menjaga kualitas daging tetap baik, wadah tertutup juga membantu mencegah cairan daging menetes dan mencemari bahan makanan lain di dalam kulkas.

  6. Pisahkan daging sesuai porsi sekali masak. Retno Anggrina Khalistha Dewi, Ahli Madya Direktorat PMPUPO BPOM, mengingatkan daging kurban sebaiknya langsung dibagi dalam porsi kecil sebelum disimpan di freezer. Banyak orang masih menyimpan daging dalam satu bongkahan besar, sehingga saat akan dimasak seluruh daging harus dicairkan atau dipotong terlebih dahulu. Hal ini meningkatkan risiko kontaminasi baru.

    “Pastikan ketika kita mau simpan, disimpan dalam porsi sekali masak sesuai kebutuhan. Jangan kita simpannya masih gelondongan, begitu mau masak harus di-thawing dulu atau harus dipotong terlebih dahulu. Nah ini malah justru akan menimbulkan risiko kontaminasi baru,” ujarnya.

  7. Beri label agar tidak lupa urutan penyimpanan. Freezer yang penuh daging sering membuat orang lupa mana stok lama dan mana yang baru disimpan. Akibatnya, daging yang lebih dulu masuk justru tertinggal terlalu lama di bagian belakang freezer.

    Setiap wadah atau plastik daging sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan. Cara ini membantu menerapkan prinsip FIFO atau First in First out, yaitu stok yang disimpan lebih dulu sebaiknya digunakan lebih dulu. Prinsip FIFO membantu menjaga kualitas daging tetap baik sekaligus mengurangi risiko bahan makanan tersimpan terlalu lama tanpa disadari.

  8. Perhatikan suhu penyimpanan. Suhu penyimpanan menjadi faktor penting untuk memperlambat pertumbuhan bakteri pada daging segar.

    Untuk konsumsi dalam satu sampai dua hari, daging dapat disimpan di chiller dengan suhu sekitar 4 derajat Celsius. Sementara untuk penyimpanan lebih lama, freezer dengan suhu minus 18 derajat Celsius dinilai lebih aman dan dapat mempertahankan kualitas daging hingga beberapa bulan.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat memastikan daging kurban tetap aman, segar, dan bebas dari risiko bakteri berbahaya. Praktik sederhana seperti memisahkan jeroan, mencuci tangan, dan menggunakan wadah food grade dapat membuat perbedaan besar dalam kualitas dan keamanan makanan. Selain itu, menyimpan daging dalam porsi sekali masak dan memberi label tanggal membantu meminimalkan kontaminasi silang serta memudahkan pengelolaan stok di freezer.

Memang, menjaga kebersihan dan suhu yang tepat tidak hanya melindungi kesehatan keluarga, tetapi juga menghormati nilai sosial dan keagamaan yang melekat pada tradisi Idul Adha. Dengan persiapan yang matang, hidangan daging kurban dapat dinikmati dengan tenang dan penuh rasa syukur.

daging kurbanpenyimpanankontaminasi silangsuhu penyimpananlabel tanggalfood gradepembagian porsikualitas daging

Komentar

Memuat komentar...