Siswa SMA Lathifah Alya Raih Tiga Universitas Luar Negeri

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Siswa SMA Lathifah Alya Raih Tiga Universitas Luar Negeri

Gambar atau konten salah?

Lathifah Alya Agyunda, siswa kelas 12 di SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo, kehilangan kedua orang tua pada usia muda. Meskipun berat, ia terus berjuang untuk meraih impian belajar di luar negeri.

Sejak masa TK, ibunya sudah meninggal. Ketika Alya masuk SMA, ayahnya lalu meninggal tiga bulan pertama masa sekolahnya. “Ayah saya meninggal pada 3 bulan pertama saya di SMA, yang juga merupakan 3 bulan terberat saya di SMA,” ujarnya pada 14 April 2026.

Setiap hari menambah tantangan. Dari masalah kecil di lingkungan teman, keterbatasan ekonomi, hingga rasa malas dan keraguan diri. Namun, Alya tidak pernah menyerah. Ia belajar mengatur waktu, menjaga semangat belajar, dan mengandalkan doa serta dukungan dari keluarga.

Ayah dan ibu tidak lagi bersamanya, namun Alya tetap memegang mimpi mereka. Kakek, nenek, serta kakak perempuannya menjadi sumber kekuatan. Di SMAU CT Arsa, ia juga mendapat dukungan langsung dari Ketua yayasan, Anita Ratnasari Tanjung.

“Alhamdulillah beribu syukur Alya panjatkan karena bisa diterima di kampus luar negeri yang awalnya terdengar sangat mustahil. Tapi dengan usaha, doa, dan bantuan dari banyak pihak mulai dari Ibu Anita, bapak ibu guru, teman-teman, keluarga, dan diri saya sendiri, ternyata mimpi itu milik semua orang termasuk saya,” kata Anita.

Hasilnya, Alya berhasil diterima di tiga universitas luar negeri. Berikut rincian program yang dipilih:

  1. HAN University of Applied Science, Belanda – International Business
  2. Western Sydney University, Australia – Human Resources
  3. University of Wollongong, Australia – Sustainable Business

“Sekarang, saya masih menunggu beberapa universitas dan beasiswa lain seperti Turkiye Burslari, Brunei Darussalam Government Scholarship, dll. Mohon doanya,” tuturnya.

Meskipun kehilangan orang tua, Alya tetap menghidupkan mimpi mereka. Ia mengingat bahwa ibunya pernah mendapatkan beasiswa dan prestasi di sekolah, namun harus berhenti di SMA untuk bekerja. Kini, Alya bertekad menghidupkan kembali impian ibunya.

“Insya Allah, Alya akan hidupkan mimpi Ibu… semoga Ibu ikut senang,” harapnya.

Ally juga berbagi motivasi pribadi. Sejak kecil, ia bermimpi melihat dunia. Ia menegaskan dua motivasi terbesar: pertama, mimpi kecil ketika SD untuk melihat dunia lebih luas; kedua, fondasi bertahan yaitu menghidupkan mimpi ibunya.

“Untuk teman-teman yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya, terus genggam mimpi itu erat-erat, usahakan, dan langitkan banyak doa. Meskipun masalah ekonomi menghalangi, bukan berarti mimpi itu tidak akan pernah terwujud. Kamu punya kendali penuh, keep going!” pesan Alya.

Alya menyadari perjalanan masih panjang. Ia masih mencari dan menemukan cita‑cita yang paling spesifik. Namun, ia yakin ingin menjadi seseorang yang terus berkembang dan memberikan dampak positif melalui bidang yang relevan dengan studinya.

Dengan doa, usaha, dan dukungan keluarga serta komunitas, Alya menunjukkan bahwa kehilangan tidak harus menghentikan impian. Ia tetap melangkah, menunggu peluang berikutnya, dan berharap bisa menyalakan harapan bagi orang lain yang mengalami kesulitan serupa.

Lathifah Alya Agyundakehilangan orang tuabelajar di luar negeridukungan yayasanbeasiswaSMA Unggulan CT ARSA Foundationmotivasi pribadi

Komentar

Memuat komentar...