Sitting Aktif Mentally Kurangi Risiko Demensia 20 Tahun
Gambar atau konten salah?
Selama bertahun‑tahun, banyak peneliti berpendapat bahwa duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko demensia. Namun, temuan baru menunjukkan bahwa apa yang dilakukan saat duduk dapat memengaruhi risiko tersebut.
Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Preventive Medicine pada 01 Maret 2026 menemukan bahwa mengganti perilaku duduk pasif secara mental dengan perilaku duduk aktif secara mental dikaitkan dengan pengurangan risiko demensia yang signifikan.
Menurut kutipan dari laman NYPost, perilaku duduk yang aktif secara mental meliputi membaca, bekerja di kantor, dan aktivitas lain yang membuat otak tetap terlibat saat duduk. Sebaliknya, perilaku pasif secara mental mencakup menonton televisi atau aktivitas layar lainnya yang tidak terlalu melibatkan otak.
Para peneliti Swedia menganalisis data lebih dari 20.000 orang dewasa berusia antara 35 dan 64 tahun. Mereka dilacak selama 19 tahun, dari 01 Januari 1997 sampai 01 Januari 2016. Peserta menjawab pertanyaan tentang kebiasaan duduk, aktivitas fisik, dan perilaku gaya hidup lainnya. Diagnosis demensia diidentifikasi melalui catatan kesehatan dan kematian di Swedia.
Hasilnya, mengganti perilaku duduk pasif dengan perilaku duduk aktif secara mental atau aktivitas fisik dapat mengurangi risiko demensia pada orang dewasa lanjut usia. Meskipun penelitian berbasis di Swedia, temuan ini kemungkinan dapat digeneralisasi ke populasi global yang lebih luas. Peneliti utama, Dr. Mats Hallgren dari Institut Karolinska, menekankan bahwa studi tersebut menyoroti perbedaan besar antara kebiasaan duduk pasif dan kebiasaan duduk yang melibatkan pikiran dalam hal kesehatan otak.
“Meskipun semua posisi duduk hanya melibatkan pengeluaran energi minimal, hal itu dapat dibedakan berdasarkan tingkat aktivitas otak,” kata Hallgren. “Cara kita menggunakan otak saat duduk tampaknya merupakan penentu penting fungsi kognitif di masa depan dan, seperti yang telah kami tunjukkan, dapat memprediksi timbulnya demensia,” tambahnya.
Menurutnya, perilaku kurang gerak adalah faktor risiko umum, namun dapat dimodifikasi untuk banyak kondisi kesehatan, seperti demensia. “Studi kami menambahkan pengamatan bahwa tidak semua perilaku kurang gerak itu sama; beberapa dapat meningkatkan risiko demensia, sementara yang lain mungkin bersifat melindungi,” tambahnya. “Penting untuk tetap aktif secara fisik seiring bertambahnya usia, tetapi juga aktif secara mental, terutama saat kita duduk.”
Penelitian ini memberikan petunjuk penting bagi pedoman kesehatan masyarakat dan strategi pencegahan untuk mengurangi demensia. Dengan menekankan pentingnya aktivitas mental saat duduk, hasil ini menambah pemahaman tentang cara sederhana namun efektif untuk menjaga fungsi otak di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anne Hathaway Ungkap Katarak Dini, Mata Kiri Hampir Buta
Tantangan Teka‑Teki Matematika: Uji Pola dan Logika Anda
Air Putih Lebih Menarik: Tambah Lemon, Mint, Chia, Garam
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Diabetes dan Risiko Penyakit Gusi: Pentingnya Kontrol Gula
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
