SPTP Terapkan Teknologi APR untuk Pulihkan Terumbu Karang di Karimunjawa

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 38 dibaca
Bisik.id
SPTP Terapkan Teknologi APR untuk Pulihkan Terumbu Karang di Karimunjawa

Gambar atau konten salah?

PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) semakin memperkuat komitmennya terhadap ekonomi biru dengan memanfaatkan teknologi terumbu buatan yang dikenal sebagai Artificial Patch Reef (APR) di Karimunjawa, Jawa Tengah. Ini adalah bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang bertujuan untuk memulihkan ekosistem laut serta mendukung pariwisata dan ekonomi pesisir yang berkelanjutan.

Bersama Universitas Diponegoro (Undip), SPTP menyerahkan empat unit APR yang mampu menampung 600 koloni karang kepada nelayan yang tergabung dalam kelompok 'Omah Karang'. Teknologi ini dirancang untuk mempercepat pemulihan terumbu karang dan menjadi daya tarik wisata bahari yang ramah lingkungan.

Pada keterangan tertulis yang disampaikan oleh Corporate Secretary SPTP, Widyaswendra, dijelaskan bahwa penerapan teknologi APR diharapkan dapat memberikan manfaat baik untuk lingkungan maupun untuk masyarakat pesisir. "Kami berharap teknologi APR ini dapat memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus mendorong keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menikmati manfaat pariwisata Karimunjawa secara berkelanjutan," ujarnya pada 16 Desember 2025.

Peresmian pemasangan APR berlangsung di Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa, pada 10 Desember. Acara ini dihadiri oleh nelayan, pemerintah desa, kecamatan, serta perwakilan Balai Taman Nasional Karimunjawa. Sebelumnya, kelompok nelayan Omah Karang telah mengelola wisata adopsi karang dengan cara konvensional. Dengan penerapan APR-Coral Adoption, pengelolaan wisata kini lebih terstruktur dan terukur, serta mengurangi risiko kerusakan pada terumbu karang alami.

Untuk mendukung peningkatan usaha masyarakat, SPTP juga menyerahkan 10 set peralatan skin diving dan mesin vacuum untuk pengemasan ikan teri. Selain wisata bahari, hasil tangkapan seperti ikan teri bisa diolah menjadi produk khas Karimunjawa.

Widyaswendra menjelaskan bahwa program TJSL ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memberikan dampak yang positif pada masyarakat dan lingkungan. "Program TJSL ini tidak hanya fokus pada pelestarian ekosistem laut, tetapi juga pada upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat pesisir. Kolaborasi dengan akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk memastikan manfaat program ini dapat dirasakan dalam jangka panjang," tambahnya.

Wisata adopsi karang semakin menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda, sebagai bentuk wisata berkelanjutan yang menggabungkan rekreasi dan edukasi lingkungan. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan bawah laut, tetapi juga terlibat langsung dalam proses restorasi terumbu karang.

Prof. Dr. Munasik, penemu teknologi APR dari Pusat Penelitian Ekonomi Biru Undip, menjelaskan bahwa teknologi ini mempermudah pengelolaan wisata adopsi karang. "Penerapan APR memungkinkan penyediaan stok karang yang terkelola dengan baik serta mendukung atraksi transplantasi karang sesuai dengan prinsip konservasi," katanya.

Program TJSL SPTP juga berfokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Nelayan mendapatkan pelatihan dan sertifikasi SCUBA Diving dari tingkat Open Water Diver hingga Rescue Diver, serta pelatihan pengelolaan APR-Coral Adoption. Selain itu, para ibu nelayan di Dusun Nyamplungan mendapatkan pelatihan pengolahan hasil perikanan dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.

Dengan program ini, SPTP berharap Karimunjawa dapat terus menjadi destinasi wisata bahari yang unggul, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal.

ekonomi biruteknologi terumbu buatanKarimunjawaTanggung Jawab Sosial dan Lingkunganpariwisata berkelanjutannelayan Omah Karangrestorasi terumbu karangkolaborasi akademisi

Komentar

Memuat komentar...