Sungai Bengawan Solo Melonjak, TMA 85,13 mdpl Siaga Merah
Gambar atau konten salah?
Di Solo, debit air Sungai Bengawan Solo melonjak tajam pada Rabu (15 April 2026) siang. Pantauan di Tinggi Muka Air (TMA) di pompa Jurug menunjukkan nilai 85,13 mdpl, yang menempatkan sungai ini di kategori Siaga Merah.
Petugas di rumah pompa Jebres 3, Robertus Sugeng Sarwono, menjelaskan bahwa kenaikan status dari Siaga Kuning ke Siaga Merah terjadi cukup signifikan sejak pagi. “Saat ini dari pantauan ketinggian air 85,13 mdpl. Kalau menurut pantauan meteran di pompa Jurug, tadi jam 06.00 WIB pagi itu mulai naik. Dari Siaga Kuning langsung naik ke Siaga Merah. Memasuki Siaga Merah 84,96 mdpl,” ujar Robertus saat ditemui di lokasi, Rabu (15 April 2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi Siaga Merah bertahan hingga siang hari. “Sampai jam 13.00 WIB (Siaga Merah). Tapi ini sekarang sudah mulai ada penurunan, sudah mulai surut sedikit,” lanjutnya.
Menurut Robertus, kenaikan debit dipicu oleh hujan lebat di wilayah Solo Raya sejak semalam dan aliran air tambahan dari anak sungai di hulu. “Pertama karena air hujan yang cukup tinggi. Terus ada kiriman-kiriman juga dari wilayah bagian selatan, seperti Sukoharjo dan sebagian Kartasura. Itu yang sangat berpengaruh,” jelasnya.
Relawan Joko Widodo alias Bang Toyib, yang berada di lokasi, melaporkan penurunan debit mulai terasa sejak pukul 11.00 WIB. “Sejak tadi pukul 11.00 WIB, air sudah turun pelan‑pelan. Tadi turun sekitar 5 cm setelah kenaikan Siaga Merah pagi tadi,” ucapnya.
Bang Toyib menegaskan bahwa lonjakan debit ini merupakan yang tertinggi sepanjang tahun 2026, disebabkan curah hujan tinggi dan merata di hulu. “Ini karena curah hujan tinggi merata di hulu. Tahun ini, ya ini yang paling tinggi sampai merah. Sebelumnya paling banter cuma sampai Siaga Kuning,” pungkasnya.
Sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa, sering menjadi indikator penting bagi masyarakat di sekitarnya. Kenaikan TMA yang drastis menandakan potensi banjir yang perlu diwaspadai. Pemerintah daerah dan petugas pemantau terus memantau pergerakan air, sementara masyarakat di sekitar Jurug diminta untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri terhadap kemungkinan banjir.
Dalam situasi ini, pemahaman tentang status Siaga dan respons cepat dapat membantu mengurangi dampak negatif. Kenaikan debit yang signifikan menegaskan pentingnya sistem pemantauan yang akurat dan koordinasi antara petugas lapangan dan pihak terkait.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
1 Muharam 1448 H Jadi Hari Libur Nasional, Banner dan Ucapan
Sumur Puter Sunan Kudus: Cerita Tersesat di Gang Sempit
Sumur Puter di Kudus, Mitra Barang Hilang? Belum Ada Bukti
Sumur Puter di Kudus: Warisan Air Sunan yang Terlupakan
BEM Solo Raya Demonstrasi di DPRD Solo, Aksi Berakhir Damai
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
