Survei 2025: Wanita Jepang Lajang Lebih Banyak Menolak Anak
Gambar atau konten salah?
Fenomena menurunnya minat memiliki anak masih terlihat di Jepang. Survei terbaru menunjukkan mayoritas wanita muda lajang tidak ingin punya anak. Bahkan, jumlahnya kini melampaui laki‑laki untuk pertama kalinya.
Survei yang dilakukan oleh Rohto Pharmaceutical Co pada 2025 menemukan lebih dari 60 % wanita muda di Jepang menyatakan tidak ingin memiliki anak. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak survei tahunan tersebut dimulai pada 2018.
Survei tersebut melibatkan 400 pria dan wanita lajang berusia 18‑29 tahun. Hasilnya, hanya 37,4 % responden mengatakan ingin memiliki anak, sedangkan 62,4 % menjawab tidak.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, pria yang tidak ingin punya anak naik 0,8 poin persentase dibanding tahun sebelumnya, menjadi 60,7 %. Sementara pada wanita, angkanya melonjak 11,6 % menjadi 64,7 %. Ini menjadi kali pertama persentase wanita melebihi laki‑laki.
Ketika ditanya soal kekhawatiran memiliki dan membesarkan anak, alasan yang paling banyak muncul adalah beban finansia. Sebanyak 63,2 % pria dan 71,7 % wanita menyebut faktor ekonomi sebagai kekhawatiran utama. Selain itu, gangguan terhadap perkembangan karier juga menjadi alasan kuat. Sebanyak 51,2 % pria dan 61,4 % wanita mengaku khawatir memiliki anak akan menghambat kemajuan karier mereka.
Temuan ini menunjukkan wanita masih merasakan tantangan lebih besar dalam menyeimbangkan pekerjaan dan pengasuhan anak.
Survei yang sama juga melibatkan 800 pria dan wanita yang sudah menikah berusia 25‑44 tahun, yang ingin memiliki anak. Hasilnya, 52 % pria dan 64,1 % wanita menyebut gangguan terhadap karier sebagai alasan cemas untuk punya anak dan membesarkannya. Sementara itu, sebanyak 53,3 % pria dan 66,8 % wanita mengaku pernah mempertimbangkan pindah pekerjaan atau berganti posisi, demi bisa membesarkan anak. Namun, sebagian besar orang yang memiliki masalah tersebut memilih untuk memendamnya sendiri. Sebanyak 43,8 % pria dan 41,4 % wanita menikah mengatakan mereka tidak berkonsultasi dengan siapa pun. Setelah itu, jawaban terbanyak kedua adalah pasangan, yakni 41,7 % pria dan 38,2 % wanita. Hanya sekitar 4 % responden yang mengaku berkonsultasi dengan atasan atau rekan kerja.
Hasil survei ini menggambarkan masih besarnya dilema antara membangun keluarga dan mempertahankan karier di Jepang. Banyak anak muda merasa harus memilih salah satu, bukan menjalani keduanya secara seimbang. Kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah rendahnya angka kelahiran Jepang dan populasi yang terus menua.
Secara keseluruhan, data ini menyoroti bahwa kebebasan finansial dan karier tetap menjadi penghalang utama bagi generasi muda Jepang dalam memutuskan memiliki anak. Dengan persentase wanita yang melebihi laki‑laki, tren ini menunjukkan perubahan pola pikir yang signifikan, meski masih banyak yang menahan diri karena ketakutan akan dampak ekonomi dan profesional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anne Hathaway Ungkap Katarak Dini, Mata Kiri Hampir Buta
Tantangan Teka‑Teki Matematika: Uji Pola dan Logika Anda
Air Putih Lebih Menarik: Tambah Lemon, Mint, Chia, Garam
Serangan Jantung Malam: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan
Bolot Di ICU, Komedian Terus Pantau Jantung Setelah Serangan
Diabetes dan Risiko Penyakit Gusi: Pentingnya Kontrol Gula
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
