Susu Kental Manis: Memakai Susu, Bukan Gula Saja, Benar-Benar

Dedi S. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Susu Kental Manis: Memakai Susu, Bukan Gula Saja, Benar-Benar

Gambar atau konten salah?

Susu kental manis telah menjadi bagian penting dalam banyak hidangan tradisional di Indonesia. Dari campuran kopi, olesan roti bakar, hingga topping martabak dan dessert, produk ini dikenal karena rasanya yang manis dan nikmat.

Namun, belakangan ini susu kental manis kembali menjadi topik hangat di media sosial. Banyak orang bertanya apakah produk ini benar-benar mengandung susu, mengingat rasa manisnya yang terasa dominan.

Salah satu alasan utama perdebatan ini berasal dari tekstur kental susu kental manis. Tekstur tersebut terbentuk melalui proses evaporasi, di mana sebagian besar air di dalam susu dihilangkan saat dipanaskan perlahan.

Proses penguapan air membuat padatan susu menjadi lebih terkonsentrasi, sehingga hasil akhirnya menjadi lebih padat dan creamy. Gula tidak hanya menambah rasa manis, tetapi juga berfungsi sebagai penghambat mikroorganisme, memperpanjang umur simpan produk.

Menurut Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2019, susu kental manis termasuk produk susu dengan kadar lemak susu minimal 8 persen dan kadar protein minimal 6,5 persen. Standar ini diambil dari Codex Alimentarius, acuan internasional untuk produk susu kental manis.

Regulasi ini juga merujuk pada Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 Tahun 2016, yang menjelaskan bahwa susu kental manis diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu.

Sebagai contoh, salah satu produk susu kental manis memiliki komposisi susu hingga 35 persen, yang terdiri dari campuran susu skim bubuk, susu sapi segar (12%), lemak susu, laktosa, dan buttermilk bubuk.

Dengan demikian, susu kental manis tetap merupakan produk susu, bukan sekadar gula berperisa susu seperti yang sering disalahpahami di media sosial.

Meskipun mengandung gula, kandungan susu dalam susu kental manis tidak hilang. Protein susu, lemak susu, laktosa, dan beberapa mineral alami masih tetap ada. Hanya saja, tambahan gula membuat rasa dan profil gizinya berbeda dibanding susu segar.

Rasa manis yang kuat sering membuat orang mengira bahwa kandungan susunya hilang sepenuhnya. Padahal, yang terjadi adalah karakter manis gula menjadi lebih dominan dibanding rasa susu itu sendiri.

Oleh karena itu, anggapan bahwa susu kental manis sama sekali tidak mengandung susu tidak sepenuhnya benar. Produk ini merupakan olahan susu dengan tambahan gula, sehingga cara konsumsinya berbeda dengan susu segar.

Mengenai konsumsi, tidak ada masalah selama porsinya diperhatikan. Banyak makanan tradisional Indonesia juga menggunakan bahan ini sebagai pelengkap rasa.

Membaca label gizi dapat membantu memahami berapa banyak gula dalam satu sajian. Jika dikonsumsi sesuai takaran saji, satu sajian susu kental manis umumnya masih tidak membuat asupan gula harian melebihi batas anjuran.

Jika ingin memakai susu kental manis untuk campuran kopi atau dessert, gunakan secukupnya agar rasa manis tidak berlebihan. Hal ini juga sejalan dengan Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021, yang melarang pernyataan atau visualisasi susu kental manis disajikan sebagai hidangan tunggal berupa minuman susu maupun sebagai satu satunya sumber gizi.

Pada akhirnya, susu kental manis merupakan produk yang mengandung susu, namun tidak dirancang sebagai pengganti susu harian karena komposisi gizinya yang berbeda. Memahami perbedaan tersebut penting agar konsumsi susu kental manis tetap lebih bijak dan tidak menimbulkan salah paham mengenai kandungan gizinya.

Susu kental manis tetap menjadi pilihan populer dalam masakan Indonesia. Meskipun manis, produk ini tetap membawa unsur susu yang penting, sehingga konsumen dapat menikmati rasa tanpa khawatir kehilangan nutrisi dasar.

Susu kental manisBPOMCodex AlimentariusGulaSusuKonsumsiRegulasi

Komentar

Memuat komentar...