Susu MBG 50% Segar, 49% Rekombinasi Dijual di Minimarket

Hendra M. · 5 min baca · 2 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Susu MBG 50% Segar, 49% Rekombinasi Dijual di Minimarket

Gambar atau konten salah?

Susu Sekolah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di media sosial. Banyak pengguna internet yang melaporkan menemukan produk susu tersebut dijual di minimarket, meskipun pada kemasannya tertulis jelas bahwa susu itu tidak untuk diperjualbelikan. Temuan ini memicu komentar dan rasa penasaran publik.

Di tengah diskusi, satu detail pada label menjadi perhatian. Komposisi yang tercantum menyebutkan bahwa susu tersebut mengandung 50 persen susu segar. Artinya, hanya separuh isi kemasan yang benar-benar berasal dari susu sapi segar. Pertanyaannya muncul: apa bedanya dengan susu yang 100 persen berasal dari susu segar?

Di pasaran, ada berbagai jenis susu. Ada produk yang berasal dari susu segar, ada yang disebut susu rekombinasi, dan ada juga yang dibuat melalui proses rekonstitusi. Susu segar adalah susu yang langsung diperoleh dari perahan sapi dan kemudian diproses agar aman dikonsumsi, biasanya lewat pasteurisasi atau sterilisasi. Proses ini membunuh bakteri berbahaya tanpa mengubah komposisi alami susu.

Sementara itu, susu rekombinasi dibuat dengan mencampurkan kembali padatan susu yang sudah diproses sebelumnya. Contohnya, susu bubuk dilarutkan dengan air, lalu ditambahkan bahan lain seperti lemak susu, gula, atau bahan tambahan lain untuk membentuk minuman yang menyerupai susu segar. Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut proses ini sebagai recombined milk, yaitu susu yang dibuat dari bahan susu seperti susu bubuk, lemak susu, atau protein susu yang dicampur kembali dengan air dalam proporsi tertentu.

Produk minuman susu yang mencantumkan persentase tertentu dari susu segar sering kali merupakan campuran antara susu dengan bahan lain, baik air maupun padatan susu yang telah diproses sebelumnya. Meski terlihat sama, ada perbedaan jelas antara susu segar dan susu rekombinasi jika dilihat komposisinya.

Susu segar sudah mengandung air dalam jumlah besar secara alami. Sekitar 85 hingga 90 persen susu sapi sebenarnya adalah air. Sisanya terdiri dari protein, lemak susu, gula alami berupa laktosa, serta vitamin dan mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan vitamin B. Dalam susu sapi murni, biasanya terdapat sekitar 3-7 gram protein, 4-7 gram lemak, dan kalsium sekitar 100 miligram. Gula yang terkandung juga adalah laktosa. Komposisi ini terbentuk secara alami dan telah lama dikenal sebagai sumber nutrisi penting, terutama untuk pertumbuhan tulang.

Sementara itu, susu rekombinasi dibuat dengan mencampurkan kembali komponen susu yang telah diproses sebelumnya, misalnya susu bubuk, dengan air hingga kembali menjadi susu cair. Dalam proses ini produsen menyesuaikan jumlah air dan bahan susu agar komposisinya mendekati susu cair pada umumnya.

Produk susu sekolah program MBG menunjukkan pada label bahwa sekitar 50 persen susu segar dan sekitar 49 persen susu rekombinasi. Artinya, sebagian besar isi minuman tetap berasal dari bahan susu, hanya saja sumbernya terdiri dari susu segar dan susu yang dikombinasikan ulang dari padatan susu, air, dan lemak.

Beberapa produk susu campuran dari susu segar dan susu rekombinasi biasanya menambahkan kembali vitamin, mineral, lemak, protein, dan zat gizi lainnya melalui proses fortifikasi. Tujuannya menyesuaikan nilai gizinya hingga setara dengan susu segar.

Kenapa Susu Sekolah Program MBG tidak memakai susu segar 100 persen? Penggunaan susu campuran bukan hal baru dalam program pangan berskala besar. Pendekatan ini umum digunakan ketika produk harus diproduksi dalam jumlah sangat besar dan didistribusikan secara luas. Salah satu pertimbangan utama berkaitan dengan ketersediaan bahan baku susu segar di dalam negeri.

Menurut Badan Gizi Nasional, produksi susu segar dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan susu segar nasional. Artinya, sebagian besar kebutuhan susu segar di Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Bahkan sebelum program Makan Bergizi Gratis berjalan, sekitar 80 persen kebutuhan susu di Indonesia sudah dipenuhi melalui impor.

Situasi ini membuat penggunaan susu rekombinasi menjadi solusi yang sering dipakai dalam industri pangan. Susu rekombinasi biasanya dibuat dari komponen susu seperti susu bubuk yang kemudian dilarutkan kembali dengan air, lalu dicampur dengan susu segar dalam proporsi tertentu sehingga kandungan gizinya setara dengan susu segar. Cara ini memungkinkan produksi minuman susu dalam jumlah besar tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan susu segar.

Produk susu sekolah dalam program MBG juga masih berada dalam koridor regulasi pangan yang berlaku. Produk tersebut mengacu pada ketentuan Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam regulasi tersebut, pada kategori 01.1.2 Susu Cair Plain, terdapat jenis produk Susu Lemak Penuh Rekombinasi. Produk ini dibuat dari rekombinasi bahan susu seperti susu bubuk atau komponen susu lainnya yang kemudian dibentuk kembali menjadi minuman susu dengan karakteristik dasar kadar lemak susu tidak kurang dari 3 persen, total padatan susu bukan-lemak tidak kurang dari 7,8 persen, dan kadar protein tidak kurang dari 2,7 persen. Dengan kata lain, penggunaan susu yang berasal dari kombinasi susu segar dan susu rekombinasi seperti pada susu sekolah program MBG masih sesuai dengan klasifikasi produk susu yang diatur dalam regulasi BPOM tersebut.

Video Kepala BGN Tegaskan Tak Menjual Susu Berlabel MBG di Minimarket menunjukkan bahwa produk susu UHT dengan label 'Susu Sekolah Program MBG' kedapatan dijual di minimarket. Bukan soal harga maupun kandungannya, melainkan karena ada keterangan 'gratis' dan tidak untuk diperjualbelikan. Kok bisa ada di minimarket?

Reaksi publik menyoroti ketidaksesuaian antara label dan distribusi. Banyak yang bertanya mengapa produk yang bertanda 'gratis' dan tidak untuk diperjualbelikan dapat ditemukan di toko ritel. Hal ini menimbulkan kebingungan tentang mekanisme distribusi dan penegakan regulasi. Meskipun produk tersebut tidak dimaksudkan untuk dijual, penjualan di minimarket menunjukkan adanya pelanggaran prosedur distribusi dan pengawasan.

Perlu diingat bahwa program MBG dirancang untuk menyediakan susu gratis kepada anak-anak sekolah. Susu tersebut biasanya disalurkan melalui lembaga pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat yang bekerja sama dengan pihak sekolah. Jika produk tersebut beredar di minimarket, kemungkinan ada pihak yang tidak mengikuti prosedur resmi. Hal ini menjadi perhatian bagi pihak berwenang untuk menindaklanjuti dan memastikan distribusi sesuai dengan ketentuan.

Dalam konteks ini, penting bagi konsumen dan masyarakat umum untuk memahami perbedaan antara susu segar dan susu rekombinasi, serta bagaimana regulasi mengatur produk susu. Meskipun produk susu rekombinasi dapat memiliki nilai gizi yang setara dengan susu segar, proses produksi dan komposisi tetap berbeda. Memahami hal ini membantu masyarakat membuat keputusan yang lebih baik mengenai produk susu yang mereka konsumsi.

Kesimpulannya, susu sekolah program MBG yang dijual di minimarket menimbulkan pertanyaan tentang distribusi dan regulasi. Produk tersebut mengandung 50 persen susu segar dan 49 persen susu rekombinasi, sesuai dengan regulasi BPOM. Namun, penjualan di minimarket menunjukkan pelanggaran prosedur. Masyarakat perlu memahami bahwa susu rekombinasi dapat memiliki nilai gizi setara susu segar, namun proses produksinya berbeda. Penegakan regulasi dan pengawasan distribusi menjadi kunci untuk menjaga integritas program MBG dan memastikan produk susu yang tepat sampai ke tangan anak-anak sekolah.

Susu Sekolah Program MBGSusu segarSusu rekombinasiDistribusi minimarketRegulasi BPOMImpor susuProgram Makan Bergizi Gratis

Komentar

Memuat komentar...