Syawalan Pedurungan: Kupat Jembut Jadi Simbol Kebersamaan

Wulan M. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Syawalan Pedurungan: Kupat Jembut Jadi Simbol Kebersamaan

Gambar atau konten salah?

Tradisi Syawalan di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, menampilkan hidangan unik yang dikenal sebagai ketupat atau kupat jembut. Setiap tahun, warga mempersiapkan kupat ini saat Syawalan, yaitu tujuh hari setelah Lebaran Idul Fitri. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan yang diwarnai dengan pembagian kupat, doa, dan keceriaan anak-anak.

Menurut Munawir, imam Masjid Roudhotul Muttaqin di Pedurungan, kupat jembut muncul ketika penduduk di kampungnya mengungsi dari Purwodadi ke Pedurungan setelah Perang Dunia ke-2. “Terus perang selesai sekitar tahun 50-an. Warga pulang waktu itu menjelang puasa dan suasana masih dalam kesederhanaan, dibuatlah kupat yang sederhana dibelah tengahnya dan dikasih tauge dan dikasih kelapa,” ungkapnya pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Munawir tidak dapat mengidentifikasi siapa yang pertama kali menamai hidangan ini. Ia hanya menyatakan bahwa nama tersebut dipilih agar mudah diingat. “Saya sendiri kurang tahu itu nama dari mana. Tapi mungkin sebagai keunikan, warga menamakan itu, dan mungkin bisa mudah mengingat, itu dinamakan kupat jembut itu,” jelasnya.

Makna dibelainya ketupat juga dijelaskan oleh Munawir. “Tradisi ini memang ditandai dengan dibelahnya ketupat. Sebagai tanda melepaskan jabat tangan dan Lebaran telah selesai. Dan warga sudah saling memaafkan,” katanya. Pembelahan ini menjadi simbol penyatuan dan pengampunan setelah perayaan Idul Fitri.

Setiap tahun, warga Pedurungan mengadakan acara bagi-bagi kupat jembut setelah salat Subuh. Pada pukul 04.30, sejumlah nampan berisi kupat jembut—ketupat berisi tauge dan parutan kelapa—dibawa ke pelataran masjid. Warga duduk melingkar, termasuk anak-anak, lalu membaca doa bersama. Setelah doa, mereka berbaris di jalan pinggir masjid menunggu giliran.

Takmir masjid kemudian membagikan kupat jembut. Suara petasan menambah semarak suasana. Di tengah keramaian, seorang wanita bernama Yutatik (43) muncul dengan sejumlah pecahan uang Rp 2.000. Tanpa aba-aba, anak-anak langsung menyerbu dan berbaris menunggu uang tersebut. “Baris ayo berbaris,” seru Yutatik. Anak-anak mengikuti perintahnya dan bergantian menerima uang.

Yutatik menjelaskan bahwa tradisi ini merayakan kemenangan Idul Fitri. “Iya, Syawalan dalam merayakan 7 hari kemenangan Idul Fitri. Kita ikut melestarikan adat istiadat biar tetap berlangsung,” ucapnya setelah membagikan uang. Ia juga menambahkan bahwa dulu warga lebih banyak membagikan ketupat, namun kini sebagian memilih uang. “Dulu pakainya ketupat, sekarang kebanyakan pakai uang karena saya bukan orang sini asli, ikut meramaikan,” jelasnya.

Suatu warga, Eko Harianto, yang beruntung mendapatkan ketupat jembut, mengungkapkan isinya. “Ini dapat ketupat untuk Lebaran. Ini isinya ada tauge, sambal gudangan, sama ketupat isinya, ini rasanya gurih banget. Ini setiap tahun ada, semua warga antusias untuk merayakannya,” kata Eko.

Di sisi lain, Syifa (13) hanya mendapatkan satu buah kupat jembut. Ia menyebut rasanya enak. “(Dapat kupat jembut) Satu. (Rasanya?) Enak, gurih manis, asin, pedas,” ujarnya. Syifa juga mengaku rutin mengikuti tradisi Syawalan dan berharap dapat lebih banyak kupat di masa depan. “(Biasanya dapat berapa kupat?) Banyak sih biasanya dapat 10. Uangnya banyak juga biasanya (mendapat) sampai Rp 50 ribu,” tambahnya.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga. Anak-anak belajar tentang nilai kebersamaan dan rasa syukur, sementara orang dewasa menikmati momen kebersamaan yang sederhana. Tradisi ini tetap dipertahankan meski modernisasi membawa perubahan dalam cara berbagi, seperti penggantian ketupat dengan uang bagi sebagian warga.

Setiap Syawalan di Pedurungan menjadi perayaan yang dipenuhi keceriaan, doa, dan rasa persaudaraan. Kupat jembut, dengan isinya tauge dan sambal gudangan, tetap menjadi simbol kebersamaan yang tak lekang oleh waktu. Tradisi ini menegaskan bahwa meski zaman berubah, nilai-nilai kebersamaan dan pengampunan tetap relevan dan dihargai oleh generasi muda.

Tradisi SyawalanPedurunganketupat jembutIdul Fitripembagian uangkebersamaanpengampunan

Komentar

Memuat komentar...