Tempe Tidak Menurunkan Testosteron Pria: Fakta Ilmiah

Rini S. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Tempe Tidak Menurunkan Testosteron Pria: Fakta Ilmiah

Gambar atau konten salah?

Tempe sudah lama menjadi bagian dari menu harian di Indonesia. Rasanya familiar, dan ia juga dikenal sebagai sumber protein nabati yang mudah diakses. Namun, belakangan muncul anggapan bahwa mengonsumsi tempe terlalu sering dapat menurunkan kadar testosteron pria, sehingga menimbulkan kemandulan. Anggapan ini biasanya dikaitkan dengan kandungan fitoestrogen dalam kedelai, yang dianggap mirip hormon estrogen pada tubuh manusia.

Secara sederhana, fitoestrogen dalam kedelai memang memiliki struktur yang menyerupai estrogen, namun aktivitasnya di dalam tubuh jauh lebih lemah. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility pada 01 Januari 2010 meneliti hubungan konsumsi kedelai dengan hormon pria. Hasilnya menunjukkan bahwa produk kedelai tidak berkaitan dengan penurunan kadar testosteron pada pria sehat.

Penelitian serupa dilaporkan dalam analisis yang dimuat dalam jurnal Reproductive Toxicology pada 01 Januari 2021. Penelitian tersebut meninjau berbagai studi klinis dan menyimpulkan bahwa konsumsi protein kedelai maupun isoflavon tidak memengaruhi kadar testosteron total maupun testosteron bebas pada pria. Dengan kata lain, keberadaan fitoestrogen dalam kedelai tidak serta merta mengganggu keseimbangan hormon pria.

Berapa banyak fitoestrogen yang sebenarnya masuk ke dalam tubuh ketika kita makan tempe? Dalam berbagai penelitian pangan, 100 gram tempe mengandung sekitar 50 hingga 55 mg isoflavon. Jumlah ini bisa sedikit berbeda tergantung jenis kedelai dan proses fermentasinya. Satu potong tempe biasanya hanya sekitar 30 hingga 50 gram, sehingga isoflavon yang masuk dari satu porsi tempe kira‑kira hanya 15 hingga 25 mg.

Beberapa penelitian pada manusia juga sudah melihat apakah asupan isoflavon dapat memengaruhi hormon pria. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi isoflavon dari makanan kedelai bahkan hingga lebih dari 75 mg per hari tidak menurunkan kadar testosteron pada pria. Tinjauan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Reproductive Toxicology pada 01 Januari 2021 bahkan menyimpulkan bahwa konsumsi protein kedelai maupun isoflavon tidak memengaruhi testosteron total maupun testosteron bebas pada pria.

Dengan demikian, jumlah fitoestrogen yang diperoleh dari makan tempe dalam porsi wajar setiap hari tetap aman dari kekhawatiran risiko kemandulan. Namun, kesuburan pria dipengaruhi oleh banyak faktor lain. Berat badan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola tidur, dan tingkat stres dapat memengaruhi produksi sperma. Paparan panas berlebih pada area testis atau meletakkan laptop di pangkuan dalam waktu lama juga diketahui dapat memengaruhi kualitas sperma.

Pola makan secara keseluruhan juga berperan. Asupan gizi yang kurang seimbang, terutama kekurangan protein, vitamin, dan mineral tertentu seperti zinc dan selenium, dapat memengaruhi kesehatan reproduksi pria. Karena itu, kesuburan pria biasanya dilihat dari berbagai aspek gaya hidup secara menyeluruh, bukan dari konsumsi satu jenis makanan saja seperti makan tempe setiap hari.

Tempe tetap menjadi sumber protein yang baik. Proses fermentasi membuat protein kedelai menjadi lebih mudah dicerna oleh tubuh. Dalam Tabel Komposisi Pangan Indonesia, sekitar 100 gram tempe mengandung sekitar 20,8 gram protein. Tempe juga menyediakan serat, zat besi, magnesium, serta beberapa vitamin B yang penting bagi metabolisme tubuh. Fermentasi oleh jamur Rhizopus membantu memecah sebagian komponen kedelai sehingga nutrisinya lebih mudah diserap. Proses ini juga menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh.

Karena itu, tempe tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehari‑hari sebagai salah satu sumber protein nabati yang baik dan harganya terjangkau. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan konsumsi tempe dalam jumlah wajar dapat menyebabkan pria menjadi mandul.

Tempe sering disebut-sebut sebagai superfood. Nutrisinya kaya, rasanya pun banyak disukai. Dan yang paling penting, harganya cukup ekonomis jika dibandingkan dengan sederet manfaatnya. Tempe tetap menjadi pilihan yang aman dan bergizi bagi siapa saja yang ingin menambah asupan protein nabati tanpa khawatir menurunkan kadar testosteron.

Secara keseluruhan, mitos bahwa tempe dapat menurunkan testosteron pria tidak didukung oleh bukti ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa isoflavon dalam tempe tidak memiliki efek signifikan terhadap hormon pria. Faktor-faktor lain seperti gaya hidup, pola makan, dan kesehatan umum memiliki pengaruh lebih besar terhadap kesuburan pria. Dengan pemahaman ini, konsumsi tempe dapat dipertahankan sebagai bagian dari diet seimbang tanpa khawatir menurunkan kualitas sperma atau hormon reproduksi.

tempeisoflavontestosteronkesuburan priaprotein nabatifitoestrogenmitos

Komentar

Memuat komentar...