Temuan Logam Emas di Candi Losari, Magelang Mencuat Sejarah

Sinta R. · 3 min baca · 1 jam lalu · 29 dibaca
Bisik.id
Temuan Logam Emas di Candi Losari, Magelang Mencuat Sejarah

Gambar atau konten salah?

Magelang, 21 April 2026 – Saat pekerja memugar Candi Losari di Dusun Losari, Desa Salam, Kabupaten Magelang, mereka menemukan potongan logam yang diduga berisi emas. Temuan ini menambah nilai sejarah yang sudah kaya pada situs bersejarah tersebut.

Logam tersebut terletak di bawah lantai candi, di lapisan yang berjarak tiga lapisan dari permukaan. Pekerja tidak hanya menemukan logam, tetapi juga dua arca dan sebuah kotak peripih. Semua arca yang ditemukan memiliki bentuk yang sama, yakni arca Dewa Surya.

“Kita waktu pembongkaran di lapis 9 atau berapa itu ditemukan dua blok arca (arca Dewa Surya). Itu di bawah lantai, itu 3 lapis dari lantai ditemukan arca. Kemudian kita gali lagi sampai ke tanah aslinya, kita temukan peripih atau kotak peripih, bersamaan ada selembar (diduga) emas (bentuk persegi),” kata Restu Hidayat, juru pugar Candi Losari.

Restu menjelaskan bahwa selembaran logam tersebut berukuran kurang lebih 1 cm. “Kemarin itu cuman selembaran itu kurang lebih 1 cm (emasnya). Sekarang dibawa ke kantor BPK Bugisan. Karena kita tahu di sini kurang keamanannya, jadi kita bawa ke kantor,” ujarnya.

Peripih yang ditemukan terpisah dari wadahnya. “Kotak peripihnya itu berpisah. Dugaan kita itu sudah dicuri dari zaman dulu. Yang jelas arcanya itu sama semua kelimanya (saat ekskavasi ditemukan 3 arca dan saat pemugaran ditemukan 2 arca),” tambah Restu.

Proses pemugaran saat ini masih berada pada tahap pembuatan fondasi atau kaki candi. “Proses pemugaran saat ini dalam tahap pembuatan fondasi atau kaki candi. Pada bagian pondasi bawah candi, dilakukan pengecoran mengingat debit air dari bawah sangat tinggi atau deras,” jelas Restu.

Restu juga memberi perkiraan waktu penyelesaian. “Iya (antisipasi biar tidak ambles). Kurang lebih sampai bulan Oktober. Sampai target 14 lapis. Kemungkinan nanti ada di tahap kedua lagi (sampai berwujud candinya),” ujarnya.

“Itu sama semua (bentuk arcanya) cuman beda ukurannya beda tipis, paling 1 cm. Iya, peripih sama yang ada arca,” kata Restu, menegaskan kesamaan bentuk arca yang ditemukan pada dua tahap berbeda.

Menurut Junawan, penanggung jawab kegiatan rekonstruksi, temuan logam masih belum dianalisis secara laboratorium. “Kalau emasnya belum, ini baru kita daftarkan ke konservasi dulu memang warnanya kekuningan. Tapi, secara pasti kan belum dianalisis di laboratorium,” ujarnya.

Junawan menjelaskan lebih detail tentang logam tersebut. “Ya, logam berwarna kekuningan. Cuman satu keping, lembaran bentuk kotak kecil (peripih). Ya batu putih seperti kalau lihat kotak peripih. Masih di dalam (peripih logam kuningnya), tapi tutupnya (peripih) terpisah, tidak dalam kondisi tertutup. Itu wadahnya, sama tutup batunya, posisi tutupnya sudah tidak menyatu dengan wadahnya,” tambahnya.

Logam yang ditemukan berukuran sekitar 1,5 × 1,5 cm, hampir persegi, dengan ketebalan setengah milimeter. “Kalau emasnya belum, ini baru kita daftarkan ke konservasi dulu memang warnanya kekuningan. Tapi, secara pasti kan belum dianalisis di laboratorium,” ulang Junawan, menegaskan masih belum ada konfirmasi lab.

Temuan artefak berharga ini disimpan di kantor BPK Wilayah X di Bugisan, Prambanan, Klaten. “Temuan artefak berharga tersebut kemudian disimpan di Kantor BPK Wilayah X di Bugisan, Prambanan, Klaten,” sampaikan Restu.

Proses pemugaran Candi Losari masih berlangsung. Saat ini, pekerjaan fokus pada pembuatan fondasi. Karena debit air bawah candi sangat tinggi, pekerja menggunakan semen untuk mengisi ruang bawah candi dan mencegah kerusakan. Pekerjaan ini diperkirakan selesai pada bulan Oktober 2026, saat target 14 lapis akan tercapai.

Selain logam, dua arca dan peripih juga menjadi bagian penting dalam rekonstruksi. Semua arca yang ditemukan memiliki bentuk yang serupa, meskipun ukurannya sedikit berbeda, paling tidak 1 cm. Peripih yang terpisah menunjukkan kemungkinan pencurian di masa lalu, namun belum ada bukti pasti.

Dengan temuan logam ini, Candi Losari menambah nilai sejarahnya. Meskipun logam masih belum teruji di laboratorium, peneliti berharap bahwa logam tersebut memang berupa emas. Proses konservasi dan analisis lebih lanjut akan dilakukan setelah logam tersebut dipindahkan ke laboratorium yang sesuai.

Temuan ini menegaskan kembali pentingnya pemugaran dan pelestarian situs bersejarah di Indonesia. Candi Losari, yang terletak di daerah yang rawan lahar dari letusan Gunung Merapi, menjadi contoh bagaimana arkeologi dan konservasi dapat bekerja sama untuk melestarikan warisan budaya. Dengan proses yang cermat dan hati-hati, situs ini diharapkan dapat dipulihkan menjadi tempat yang aman dan informatif bagi generasi mendatang.

Candi LosariMagelangtemuan logamemasperipiharca Dewa Suryapemugaran

Komentar

Memuat komentar...