Thai Airways Kurangi Penerbangan Mei 2026, Rencana Sementara

Rizki W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Thai Airways Kurangi Penerbangan Mei 2026, Rencana Sementara

Gambar atau konten salah?

Thai Airways, maskapai nasional Thailand, akan mengurangi dan membatalkan lebih dari 46 penerbangan pada Mei 2026. Penyesuaian ini mencakup rute domestik dan internasional.

CEO Thai Airways, Chai Eamsiri, menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menyesuaikan operasional dengan kondisi terkini. Ia menegaskan kebijakan itu bukan penutupan rute secara permanen. “Maskapai tetap beroperasi seperti biasa dan layanan di semua rute tetap tersedia bagi penumpang,” kata Chai dikutip dari The Nation, Minggu (26 April 2026).

Keputusan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga energi yang mengakibatkan permintaan perjalanan turun. Ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya hidup membuat calon penumpang cenderung menunda perjalanan, sehingga tingkat pemesanan di sejumlah penerbangan masih rendah, terutama menjelang keberangkatan.

Untuk meningkatkan efisiensi, maskapai mengurangi penerbangan dengan banyak kursi kosong dan menggabungkan beberapa layanan. Penumpang tetap memiliki pilihan perjalanan dan dapat mengubah jadwal penerbangan. “Prinsip kami adalah menyeimbangkan kelayakan bisnis dengan kenyamanan penumpang. Langkah pertama adalah mengganti pesawat berkapasitas besar dengan yang lebih kecil,” kata dia. “Jika diperlukan, frekuensi penerbangan akan dikurangi, misalnya dari setiap hari menjadi lima kali seminggu atau menggabungkan penerbangan dengan tingkat pemesanan rendah agar tidak membakar bahan bakar secara sia‑sia. Pembatalan penerbangan adalah opsi terakhir,” tambah Chai.

Secara total, pengurangan penerbangan yang dilakukan hanya sekitar 4‑5% dari keseluruhan jadwal pada Mei 2026 dan bersifat sementara. Perusahaan juga membentuk tim khusus untuk memantau situasi harian lintas divisi agar penyesuaian dapat dilakukan dengan cepat. Jika permintaan perjalanan kembali meningkat, terutama saat musim ramai, penerbangan akan dikembalikan ke jadwal normal.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi faktor utama. Sebelum akhir Februari 2026, harga bahan bakar aviasi berada di kisaran 90 USD (sekitar 1,5 juta rupiah) per barel, lalu melonjak hingga sekitar 240 USD (sekitar 4,1 juta rupiah) per barel atau hampir tiga kali lipat. Meski kini mulai turun, rata‑rata masih sekitar dua kali lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Perubahan ini mendorong maskapai memperketat pengelolaan biaya, termasuk menyesuaikan harga tiket sesuai biaya operasional. Chai menambahkan kinerja operasional Thai Airways pada kuartal pertama 2026 masih tergolong stabil.

Namun, ia mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi menekan industri penerbangan global jika berlangsung sepanjang tahun. Thai Airways menyatakan akan terus memantau perkembangan dan menyesuaikan strategi untuk menjaga stabilitas bisnis ke depan.

Perubahan jadwal ini mencerminkan upaya maskapai menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi dan fluktuasi harga energi. Dengan penyesuaian kapasitas dan frekuensi, Thai Airways berusaha menjaga layanan tetap tersedia bagi penumpang sambil meminimalkan pemborosan sumber daya. Hal ini menunjukkan bahwa maskapai masih beroperasi secara fleksibel, menyesuaikan diri dengan situasi pasar yang berubah.

Thai AirwaysPengurangan PenerbanganHarga Bahan BakarPermintaan PerjalananOperasionalKonflik Timur TengahEfisiensi

Komentar

Memuat komentar...