Thailand Hadapi Panas Ekstrem, Seperti Gurun Sahara 2070

Kartika D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Thailand Hadapi Panas Ekstrem, Seperti Gurun Sahara 2070

Gambar atau konten salah?

Thailand diperkirakan akan mengalami panas super ekstrem yang hampir setara dengan kondisi Gurun Sahara pada tahun 2070. Riset‑riset iklim menandakan bahwa pemanasan global secara bertahap mendorong sebagian wilayah keluar dari batas suhu yang selama ini mendukung kehidupan manusia.

Perhatian ini disampaikan oleh Direktur Climate Connectors, Tara Buakamsri, ketika membahas artikel Too-Hot-to-Live-In karya Owen Mulhern serta studi 2020 Future of the Human Climate Niche oleh Xu dan timnya. Penelitian tersebut menguraikan konsep “relung iklim manusia”, yaitu kisaran suhu sempit tempat manusia berkembang selama ribuan tahun, sekitar 11‑15 derajat Celsius.

Menurut The Star pada hari Rabu, 22 April 2026, banyak wilayah kini sudah melampaui kisaran tersebut, meski masih dapat ditoleransi. Kekhawatiran muncul ketika suhu rata‑rata tahunan menembus 29 derajat Celsius. Saat ini, kondisi ekstrem itu hanya terjadi di sekitar 0,8 % daratan Bumi, terutama di Sahara. Namun, dalam skenario emisi tinggi, wilayah tersebut dapat meluas dan memengaruhi sepertiga populasi dunia.

Thailand termasuk negara rentan. Dengan suhu rata‑rata tahunan sekitar 26 derajat Celsius, negara itu sudah mendekati ambang berbahaya. Proyeksi menunjukkan bahwa pada akhir abad ini suhu berpotensi melampaui 29 derajat Celsius, mengarah pada karakteristik iklim gurun yang memengaruhi kelayakan hidup dan aktivitas ekonomi.

Tanda‑tandanya sudah terlihat. Setiap periode Maret hingga Mei, suhu di Thailand sering melampaui 40 derajat Celsius. Pada gelombang panas 2016, NASA mencatat suhu permukaan di beberapa wilayah mencapai 12 derajat Celsius di atas rata‑rata. Lebih dari 50 kota memecahkan rekor suhu harian, dengan Mae Hong Son mencatat 44,6 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah negara itu pada saat itu. Bahkan gelombang panas ringan di masa depan diperkirakan bisa setara dengan gelombang panas ekstrem saat ini.

Dampaknya luas, mulai dari kesehatan hingga ekonomi. Suhu tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan penyakit menular, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, masyarakat berpenghasilan rendah, dan pekerja luar ruang. Di pedesaan, risiko lebih besar karena keterbatasan akses pendingin.

Selain menurunkan hasil panen dan produktivitas kerja, panas ekstrem juga meningkatkan kebutuhan listrik. Ketergantungan pada energi fosil justru berpotensi memperparah krisis iklim. Penggunaan pendingin udara dinilai bukan solusi tunggal karena membutuhkan infrastruktur energi besar dan berisiko menambah emisi jika tidak beralih ke energi bersih. Ancaman ini juga berkaitan dengan kekeringan, banjir yang semakin sering, serta kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir dan pusat ekonomi Thailand.

Karena itu, tantangannya bukan sekadar menghadapi cuaca panas, melainkan merancang ulang kota, sistem energi, layanan kesehatan, dan ekonomi agar tetap tangguh. Meski begitu, masa depan belum sepenuhnya ditentukan. Ancaman suhu setara Sahara bukan tak terelakkan, melainkan peringatan atas konsekuensi saat ini. Jika emisi gas rumah kaca terus tinggi, ruang hidup manusia akan menyusut, terutama di negara tropis. Sebaliknya, jika emisi ditekan dan adaptasi dipercepat, dampak terburuk masih bisa dicegah.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa Thailand berada di garis depan perubahan iklim. Perubahan suhu yang signifikan akan menuntut kebijakan yang lebih agresif dan inovatif untuk melindungi kesehatan, ketahanan pangan, dan stabilitas ekonomi. Dengan tindakan yang tepat, negara ini masih memiliki peluang untuk mengurangi risiko dan menjaga kualitas hidup bagi warganya.

panas super ekstremThailandsuhu 29°Ckekeringanbencana ekonomienergi fosiladaptasi iklimkesehatan masyarakat

Komentar

Memuat komentar...