Thailand: Istilah 'farang kee nok' Menuduh Backpacker Gembel
Gambar atau konten salah?
Di Thailand, orang tua punya istilah khusus untuk backpacker bule yang gembel dan tidak bermodal. Mereka menyebutnya Farang.
Istilah ini sering dipakai oleh masyarakat setempat ketika mereka melihat turis asing, terutama yang datang tanpa uang atau barang. Farang dianggap meresahkan, kasar, kotor, atau selalu meminta gratisan dan terlalu pelit untuk membayar.
Untuk menggambarkan backpacker gembel, orang Thailand menambahkan kata “kee nok” sehingga menjadi farang kee nok. Secara harfiah, ungkapan itu berarti “farang kotoran burung”.
Jika diterjemahkan secara langsung, artinya “orang asing kotoran burung”. Ungkapan ini merujuk pada fakta bahwa kotoran burung berwarna putih, sama dengan warna kulit orang Eropa.
Farang adalah istilah umum di Thailand untuk menyebut orang asing bangsa Barat dan turis asal Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru. Seperti di Indonesia, orang Indonesia sering menyebut bule untuk turis asing berkulit putih rambut pirang.
Asal usul kata farang kemungkinan mulai muncul di Thailand melalui jalur perdagangan, terutama selama periode Ayutthaya. Di sana, orang Thailand sering berinteraksi dengan pedagang Eropa dan Arab.
Beberapa orang mengatakan farang adalah singkatan dari kata Thailand farangset (Perancis) karena orang Prancis tiba di Siam dan Indochina pada abad ke-17. Ada juga teori bahwa istilah ini berasal dari faringsi (Persia) ketika pedagang Persia tiba di wilayah tersebut.
Catatan sejarah, termasuk surat-surat kerajaan dari era Raja Narai, menunjukkan bahwa istilah farang digunakan untuk merujuk kepada orang Portugis. Portugis merupakan orang Eropa yang pertama kali tiba pada tahun 1511 di Thailand.
Secara historis, masyarakat Thailand tidak membedakan kewarganegaraan seperti yang masyarakat modern lakukan saat ini. Karena itu, lebih mudah menggunakan farang sebagai istilah umum untuk menggambarkan orang-orang dari Eropa, khususnya mereka yang berkulit lebih terang.
Kata farang dapat berubah maknanya tergantung pada konteks dan nada situasional. Jika orang asing itu datang ke Thailand tanpa modal dan hanya mengemis-ngemis di jalan, maka jangan heran jika orang Thailand memanggil mereka dengan farang kee nok.
Istilah ini mencerminkan cara masyarakat Thailand memandang turis asing yang tampak tidak berdaya. Meskipun sederhana, kata ini membawa konotasi negatif yang kuat bagi yang bersangkutan.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Serenada di Enchanting Valley: Konser Dua Hari Buka Puncak
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
Serenada Enchanting Valley: Konser Musik di Puncak Bogor
Kemenpar Luncurkan Program Penertiban Akomodasi 2026
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Berita Terbaru
Kementerian Perhubungan Realisasi 32,27% Anggaran Tahun 2026
BEI: Indonesia Tetap Emerging Market, Batal Rumor Frontier
IHSG Turun 2%+; LQ45 Laba Naik 29,9%, Investor Fokus Fundamental
Rumor Pengunduran Purbaya Yudhi Sadewa, Reshuffle Kabinet?
Ossy Dermawan: Solusi Lahan Sawah di Jawa Tengah 2026
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
