Tidur Tidak Teratur Di Bandung, Risiko Jantung Meningkat

Putri N. · 3 min baca · 14 hari lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Tidur Tidak Teratur Di Bandung, Risiko Jantung Meningkat

Gambar atau konten salah?

Di kota Bandung, seorang pria pernah tidur pada pukul 11 malam, lalu di hari berikutnya baru bisa terlelap pada pukul 1 dini hari. Pola tidur yang berubah‑ubah seperti ini sering dianggap sepele, padahal dokter spesialis jantung, Douglas Zuckermann, menegaskan bahwa jadwal tidur yang tidak teratur dapat berdampak buruk bagi kesehatan jantung.

Menurut Douglas, kurang tidur membuat tubuh kehilangan waktu penting untuk proses pemulihan alami setiap malam. “Hal ini menyebabkan peningkatan hormon stres, seperti kortisol, peningkatan tekanan darah saat tidur, dan peradangan yang lebih banyak, semua itu memberi tekanan ekstra pada jantung dan pembuluh darah. Jika ini terus terjadi, jantung akan bekerja lebih keras dan meningkatkan risiko terkena masalah, seperti tekanan darah tinggi dan penyakit jantung,” kata Douglas.

Hal ini berhubungan erat dengan ritme sirkadian, jam internal 24 jam yang mengatur suhu tubuh, pelepasan hormon, dan pola tidur. Ketika ritme ini terganggu, tubuh tidak dapat menyesuaikan diri dengan siklus siang‑malam alami. “Jadwal tidur yang tidak teratur mengganggu jam biologis utama tubuh Anda, atau ritme sirkadian, yang mengatur fungsi vital seperti detak jantung dan tekanan darah,” jelas ahli kardiologi, Cynthia A. Kos, DO, FACC. “Gangguan ini dapat menyebabkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik, membuat tubuh Anda tetap dalam keadaan ‘bertarung atau lari’, yang meningkatkan stres pada jantung Anda seiring waktu.”

Selain itu, tekanan darah malam hari yang biasanya turun secara alami menjadi masalah. “Penurunan tekanan darah (penurunan alami tekanan darah selama tidur) pada malam hari adalah bagian dari ritme sirkadian alami tubuh, dan pasien yang tidak mengalami penurunan tekanan darah berisiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular,” kata ahli kardiologi, Caroline Ball, MD, FACC. Ketika tekanan darah tidak turun, arteri menahan beban lebih lama, menambah risiko penyakit jantung.

Kurang tidur juga memengaruhi kebiasaan sehat sehari‑harinya. “Kurang tidur juga dapat memengaruhi kepatuhan Anda terhadap kebiasaan yang menyehatkan jantung lebih sulit untuk membuat pilihan makanan yang baik dan berolahraga secara teratur ketika Anda lelah,” jelas Ball. Ketika lelah, orang cenderung memilih makanan tinggi kalori atau minuman berkafein, yang menambah beban metabolik.

Metabolisme tubuh pun terganggu. Ketidakteraturan tidur mengubah cara tubuh memproses gula dan mengatur nafsu makan. Studi menunjukkan keteraturan tidur rendah berkaitan dengan tekanan darah tinggi, sindrom metabolik, dan indeks massa tubuh yang lebih tinggi. Semua faktor ini meningkatkan risiko penyakit jantung.

Inflamasi kronis juga menjadi risiko tambahan. “Kurang tidur mengganggu keseimbangan hormon tubuh, meningkatkan peradangan, dan mengganggu metabolisme glukosa, yang semuanya dapat membebani sistem kardiovaskular dan berkontribusi pada perkembangan penyakit,” kata Douglas. Peradangan kronis merupakan faktor kunci dalam pembentukan plak di arteri, yang dapat memicu aterosklerosis.

Douglas juga menambahkan bahwa terlalu lama tidur dapat menimbulkan masalah serupa. “Di sisi lain, Douglas mengatakan, terlalu lama tidur juga bisa mengganggu proses metabolisme dan ritme sirkadian, yang berpotensi menyebabkan regulasi glukosa darah yang memburuk, tekanan darah tinggi, dan peningkatan peradangan. Semua itu bisa berkontribusi pada penyakit jantung.”

Secara keseluruhan, pola tidur yang tidak teratur—baik terlalu singkat maupun terlalu lama—menyebabkan ketidakseimbangan hormon, tekanan darah, metabolisme, dan peradangan. Semua kondisi ini menambah beban pada jantung dan pembuluh darah, meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Menjaga jadwal tidur yang konsisten menjadi langkah sederhana namun penting untuk kesehatan jantung.

tidur tidak teraturritme sirkadiantekanan darah tinggiperadangan kronishormon stresmetabolisme glukosapenyakit jantung

Komentar

Memuat komentar...