Tradisi unik menghiasi momen turnamen sepak bola besar dunia di Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Kecamatan Kediri, Tabanan. Sepanjang jalan di banjar ini, bendera negara-negara peserta turnamen berkibar dengan meriah. Tradisi ini bukan sekadar hiasan, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya warga setempat selama lebih dari satu dekade.
Kelihan Banjar Kebon, Agus Krisna Amertha Yoga, menjelaskan bahwa kebiasaan memasang bendera negara peserta ini sudah berlangsung sejak tahun 2012. Saat itu, perhelatan Euro atau Piala Eropa menjadi pemicu pertama. Para pemuda yang tergabung dalam Sekeha Teruna Teruni (STT) punya ide untuk meramaikan suasana dengan memasang bendera. Ide sederhana ini ternyata disambut hangat oleh seluruh warga.
Dua tahun kemudian, tepatnya saat Piala Dunia 2014, tradisi ini mulai terlihat lebih semarak. Antusiasme para pemuda tidak surut. Mereka kembali memasang bendera, dan kali ini sambutan dari masyarakat semakin positif. "Semangat para pemuda mendapat sambutan positif dari masyarakat sehingga kegiatan terus berlanjut dan akhirnya menjadi tradisi setiap kali ada ajang sepak bola besar dunia," ujar Agus Krisna saat diwawancarai pada Minggu, 21 Juni 2026.
Puncak dari kemeriahan ini terjadi pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Saat itu, suasana di Banjar Kebon benar-benar berbeda. Puluhan bendera dengan berbagai ukuran menghiasi pinggir jalan. Tiang-tiang khusus dipasang di sepanjang bahu jalan sejauh sekitar satu kilometer. Setiap tiang digunakan untuk menggantung bendera negara peserta. Tidak hanya itu, para pemuda juga membangun posko bertema Piala Dunia di kawasan perbatasan banjar. Posko ini menjadi pusat berkumpul dan berdiskusi bagi para pecinta sepak bola.
"Suasana saat itu begitu meriah. Dukungan masyarakat juga sangat besar. Bahkan beberapa warga yang lebih tua meminta para pemuda memasang bendera di depan rumah mereka," tegas Agus Krisna.
Meskipun tradisi ini merupakan bentuk apresiasi terhadap negara-negara asing yang bertanding, Agus Krisna menekankan bahwa semangat nasionalisme tetap dijaga. Pihak banjar memiliki aturan tegas terkait hal ini. Setiap bulan Agustus, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pemasangan bendera Merah Putih harus lebih banyak dan berukuran lebih besar dibandingkan bendera negara lain. "Jangan sampai ketika bulan kemerdekaan justru bendera Merah Putih sedikit dipasang. Itu tidak boleh, saya wajibkan agar bendera yang dipasang harus lebih banyak dan lebih besar," tegasnya kembali.
Sementara itu, Ketua STT Ardhya Gharini, I Made Bagus Narendra Putra, menjelaskan proses di balik tradisi ini. Seluruh pemasangan bendera dilakukan secara gotong royong oleh para pemuda. Kegiatan dimulai dengan mencari bambu yang cocok untuk dijadikan tiang. Bambu ori dipilih karena batangnya tebal dan kuat, sehingga mampu menopang bendera berukuran besar. Setelah bambu siap, para pemuda bersama-sama memasang tiang dan bendera negara jagoan masing-masing. "Walaupun setiap orang memiliki tim favorit berbeda, proses pemasangan tetap dilakukan secara kolektif sebagai bentuk kebersamaan," beber Narendra.
Ukuran bendera yang dipasang pun bervariasi. Mulai dari 3 x 5 meter hingga 7 x 5 meter. Untuk Piala Dunia 2026, mayoritas bendera yang menghiasi Banjar Kebon berasal dari negara-negara unggulan seperti Portugal, Argentina, Jerman, Brasil, Belanda, Spanyol, dan Prancis. Biaya pembuatan bendera juga beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung ukuran dan bahan. Namun, demi efisiensi, sebagian bendera yang masih layak pakai dari turnamen empat tahun sebelumnya tetap digunakan kembali.
Menariknya, tradisi ini juga mengikuti dinamika kompetisi. Ketika sebuah negara gagal melaju ke babak berikutnya, bendera negara tersebut biasanya akan diturunkan. Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya soal estetika, tetapi juga soal kebersamaan dan penghormatan terhadap jalannya pertandingan.
Secara keseluruhan, tradisi pemasangan bendera di Banjar Kebon ini adalah cerminan bagaimana sepak bola bisa menyatukan warga. Dimulai dari inisiatif pemuda, tradisi ini tumbuh menjadi kebiasaan yang dihormati dan dirawat oleh seluruh komunitas. Ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol antusiasme dan kebersamaan yang telah mengakar kuat di desa tersebut.
tradisisepak bolabenderabanjar kebonpiala duniagotong royongnasionalisme