Tren Makanan TikTok Tetap Populer Meski Kontroversi
Gambar atau konten salah?
14 April 2026 – Tren makanan di platform TikTok selalu berganti, namun beberapa tetap bertahan lama. Meskipun sering menuai kritik karena dianggap berlebihan, tidak realistis, atau menyesatkan, tren‑trennya tetap menarik perhatian netizen. Faktor visual yang menarik dan rasa penasaran membuat konten ini terus ditonton dan dibagikan. Selain itu, algoritma TikTok yang mendorong interaksi seperti komentar dan reaksi memperkuat daya tariknya. Berikut lima tren makanan yang masih populer di TikTok meski menuai pro dan kontra.
- Resep Buatan AI – Konten resep yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan masih sering muncul. Instruksi memasak yang keliru dan tampilan makanan yang terlihat janggal menjadi bahan kritik. Namun, justru di situlah letak daya tariknya. Banyak pengguna menonton karena penasaran atau sekadar ingin melihat seburuk apa hasilnya. Algoritma TikTok memfasilitasi penyebaran karena konten yang memicu reaksi dan komentar cenderung lebih mudah viral.
- ASMR dan Mukbang – Tren ini sudah ada jauh sebelum TikTok populer. ASMR (Audio‑Sensory‑Meridian‑Response) dan mukbang berasal dari Korea Selatan pada akhir 2010‑an. Video menampilkan suara kunyahan, sensasi renyah, dan porsi makan berlebihan. Bagi sebagian orang, video ini menenangkan dan membuat mereka merasa ditemani saat makan. Kritik muncul karena dianggap boros dan dapat membuat orang kecanduan. Meski begitu, formatnya yang sederhana dan mudah dinikmati membuat tren ini tetap bertahan.
- Tren Matcha – Matcha sudah lama ada dan kembali populer pada 2024. Makanan dan minuman berbahan dasar matcha terus diolah menjadi berbagai kreasi, mulai dari minuman hingga dessert unik. Meskipun banyak yang mulai bosan karena hampir semua makanan memakai matcha, popularitasnya tetap terjaga. Warna hijau matcha yang estetik dan citra sebagai bahan makanan sehat turut mendorong tren ini. Kombinasi visual menarik dan pola makan sehat membuat matcha tetap menarik perhatian di TikTok.
- What I Eat in a Day – Konten ini menampilkan menu makan seseorang dalam sehari, lengkap dengan porsi dan jenis makanan. Kritik muncul karena dapat membentuk standar makan yang tidak realistis. Namun, konten ini tetap diminati karena sifatnya yang personal dan relatable. Banyak netizen terinspirasi untuk mencari menu makanan sehari‑hari atau sekadar ingin membandingkan pola makan. Sayangnya, tidak semua kreator memiliki latar belakang gizi, sehingga informasi yang disampaikan perlu disaring dengan bijak.
- Tanghulu – Camilan manisan asal China dan Korea, tanghulu, masih cukup diminati. Proses membuat tanghulu di rumah menjadi tren baru. Tampilan yang mengilap dan efek lapisan gula yang retak saat digigit membuat banyak orang penasaran. Konten ini sering dikaitkan dengan ASMR sehingga menarik perhatian penonton. Namun, proses pembuatannya melibatkan gula panas yang cukup berisiko, terutama bagi pemula. Meski begitu, banyak orang tetap mencoba karena terlihat sederhana di video dan hasilnya tampak menarik.
Keberlanjutan tren makanan ini dapat dijelaskan melalui tiga faktor utama. Pertama, visual yang menarik membuat video mudah diingat dan dibagikan. Kedua, rasa penasaran memicu penonton untuk menonton ulang atau mencoba sendiri. Ketiga, algoritma TikTok memprioritaskan konten yang memicu interaksi, sehingga video dengan komentar dan reaksi tinggi lebih sering muncul di halaman utama.
Di balik popularitasnya, kritik tetap ada. Resep AI sering kali tidak akurat, mukbang dapat menimbulkan perilaku makan berlebih, dan konten “What I Eat in a Day” kadang menampilkan pola makan tidak sehat. Selain itu, proses pembuatan tanghulu melibatkan risiko luka bakar. Oleh karena itu, konsumen harus menyaring informasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan pribadi.
Kesimpulannya, tren makanan di TikTok tetap bertahan karena kombinasi visual menarik, rasa penasaran, dan algoritma yang memfasilitasi penyebaran. Kreator harus tetap sadar akan dampak sosial dan kesehatan dari konten yang mereka bagikan, sementara penonton perlu kritis dan selektif dalam menilai apa yang mereka konsumsi secara visual maupun nutrisi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tujuh Tempat Makan Legendaris di Cilandak Menjelajah Rasa
Tahu Walik Aci: Camilan Renyah dan Kenyal dari Banyuwangi
Chicken Katsu: Rasa Renyah di Rumah Bersama Saus Mentai
Tujuh Langkah Menjaga Dapur Rapi Saat Memasak Tips Praktis
Tahu Walik: Gorengan Teriak dari Banyuwangi Camilan
Kopi Kekinian 5 Racikan di Kafe Jakarta: Mont Blanc & Coconut
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
