Unair Temukan Senyawa Antikanker dari Daun Apa‑Apa

Cahyo S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 96 dibaca
Bisik.id
Unair Temukan Senyawa Antikanker dari Daun Apa‑Apa

Gambar atau konten salah?

Peneliti Universitas Airlangga (Unair) menemukan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan sel kanker dari daun tanaman lokal yang dikenal sebagai Apa‑Apa (Flemingia macrophylla). Riset ini dipimpin oleh Prof. Dr. Mulyadi Tanjung dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair. Ia menegaskan bahwa pemilihan tanaman tidak dilakukan sembarangan.

“Dalam pemilihan riset ini, kami memperhatikan aspek ilmiah, pendidikan dengan melibatkan mahasiswa, dan aspek praktis agar ke depan bisa dikembangkan,” kata Mulyadi. Penelitian ini dimulai dengan memilih daun karena bagian tersebut mengandung senyawa aktif terbanyak.

Tim menemukan dua senyawa baru: deoksihomoflemingin dan 3‑hidroksiflemingin A. Kedua senyawa tersebut diuji pada sel kanker serviks dan sel kanker payudara di laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa senyawa tersebut sangat kuat dalam menghambat pertumbuhan sel kanker.

“Senyawa dari tumbuhan biasanya berasal dari metabolit sekunder untuk pertahanan diri. Kami melihat ada potensi dari tanaman ini,” ujarnya, dalam keterangan tertulis 16 April 2026.

Tanaman Apa‑Apa sudah lama dikenal masyarakat, terutama di Jawa Timur, sebagai obat tradisional untuk kesehatan reproduksi wanita. Selain itu, daun ini juga digunakan untuk perawatan kulit dan kadang dikaitkan dengan hal mistis. Penelitian ilmiah tentang tanaman ini masih terbatas, sehingga Mulyadi melihatnya sebagai peluang besar.

“Belum banyak penelitian yang membahas senyawa baru dari daun ini, jadi potensi risetnya besar,” katanya. Ia menambahkan bahwa senyawa yang ditemukan memiliki struktur kimia berbeda dari yang pernah dilaporkan sebelumnya. Uji awal menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.

Penelitian ini masih berada di tahap in vitro, yaitu uji di laboratorium. Rencana selanjutnya adalah uji in vivo pada hewan, kemudian uji klinis pada manusia. “Saat ini masih tahap awal, nanti akan dilanjutkan lagi untuk melihat potensi lainnya,” ujarnya.

Selain itu, tim meneliti kandungan flavonoid jenis calkon tergeranilasi yang memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan sel kanker bahkan pada tahap awal penyebaran, serta memicu kematian sel kanker.

Ia berharap temuan ini dapat menjadi alternatif pengembangan pengobatan kanker dan sekaligus memperkuat posisi riset Indonesia di tingkat global. “Ia berharap, temuan ini bisa menjadi salah satu alternatif pengembangan pengobatan kanker sekaligus memperkuat riset Indonesia di tingkat global,” jelas Mulyadi.

Ke depan, peneliti akan mengeksplorasi jenis Flemingia lain di Indonesia untuk memperluas potensi sebagai sumber obat antikanker. Dengan demikian, tanaman yang dulu hanya dipakai dalam pengobatan tradisional kini menunjukkan nilai ilmiah yang dapat mendukung pengembangan obat berbasis bahan alam.

Flemingia macrophyllasenyawa anti kankerdeoksihomoflemingin3‑hidroksiflemingin Aflavonoidpenelitian in vitropengobatan kanker

Komentar

Memuat komentar...