UTBK SNBT 2026: 871.496 Peserta, 1.500+ Netra Fasilitas

Sigit W. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
UTBK SNBT 2026: 871.496 Peserta, 1.500+ Netra Fasilitas

Gambar atau konten salah?

871.496 peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SNBT 2026 di seluruh Indonesia. Ujian berlangsung dari 21 April 2026 hingga 30 April 2026. Di antara mereka, sejumlah peserta disabilitas Netra berjuang menyelesaikan rangkaian soal di lokasi ujian. Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menjadi pusat UTBK menyiapkan fasilitas khusus, mulai dari aplikasi pembaca layar hingga ruang ujian yang mudah diakses dan pendamping khusus.

Berikut rangkuman cerita perjuangan para peserta disabilitas Netra di UTBK SNBT 2026.

Marisya Hanida, yang bercita‑cita masuk jurusan Psikologi di Universitas Indonesia, merasa terbantu dengan kesiapan fasilitas di kampus. “Fasilitas pendukung ujian bagi kami difabel tunanetra yang disediakan UI sudah sangat memadai dalam mendukung kelancaran pengerjaan UTBK,” tuturnya seperti dikutip dari laman UI.

Di Universitas Negeri Padang, Rayhan Hidayat, alumni SMAN 1 Tilatang Kamang, mengakui perjalanan pribadinya. Ia sempat terkurung selama setahun setelah kehilangan penglihatan karena glaukoma di kelas 2 SMA. Keluarganya berhasil membangkitkan semangatnya. “Awalnya dia sempat drop, tidak mau keluar rumah. Tapi kami terus menyemangati,” ungkap sang kakak ipar, dikutip dari laman UNP. Rayhan kini memilih program studi Pendidikan Luar Biasa di UNP.

Aldi Sulaiman, lulusan SMKN 7 Padang, juga mempersiapkan diri dengan matang. Sejak lahir hanya mampu menangkap bayangan cahaya, ia tidak membiarkan keterbatasan menghalangi cita‑cita. “Saya memilih kuliah untuk kehidupan yang lebih baik,” tegas Aldi. Seperti Rayhan, ia menargetkan Pendidikan Luar Biasa di UNP.

Shakina Aliya Bilbina, asal Mojokerto, mematangkan persiapannya sejak SMA. Ia memilih program studi S1 Pendidikan Luar Biasa di Unesa karena ingin mendedikasikan diri bagi sesama. “Motivasi saya masuk PLB adalah ingin membantu anak-anak tunanetra lainnya agar bisa membaca Braille,” ungkap Shakina usai menyelesaikan ujiannya seperti dikutip dari laman Unesa.

Ahmad Saikun Najib, alumnus SLB Negeri 1 Kota Blitar, menunjukkan kemandirian luar biasa di UB. Ia menuntaskan seluruh soal secara mandiri berkat perangkat pembaca layar (screen reader) yang disediakan panitia di gedung FISIP UB. “Untuk alat pendukung, kami menggunakan perangkat pembaca layar, sehingga sangat membantu untuk mengerjakan secara mandiri,” ujarnya usai menyelesaikan ujian dikutip dari laman UB. Najib berharap dapat masuk Universitas Negeri Malang atau Universitas Negeri Surabaya untuk mendapatkan pekerjaan layak dan menjadi inspirasi bagi adik kelasnya. “Saya ingin mencari pekerjaan yang layak agar bisa membahagiakan kedua orang tua saya. Saya juga ingin agar orang tua, guru, atau adik-adik kelas saya bisa terinspirasi jika saya bisa lolos di UTBK ini,” jelas Najib.

Darrel Zaki Atalia, peserta disabilitas Netra di UB, mengakui gugup di awal sesi. Namun proses pengerjaan soal berjalan lancar berkat fasilitas pendukung. “Alhamdulillah awal saja sempat deg-degan tapi kemudian lancar. Dengan alat itu kita bisa mandiri untuk mengerjakan soal‑soal,” pungkas Zaki.

Fasilitas pendukung di setiap kampus penyelenggara sangat lengkap. Universitas Indonesia menyiapkan perangkat Non‑Visual Desktop Access (NVDA) dan headset di gedung lama Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom Ul). Pendampingan langsung juga diberikan oleh petugas di lokasi. “Kami berusaha memastikan peserta tunanetra memiliki pengalaman ujian yang sama dengan peserta lainnya. Mulai dari pendampingan teknis hingga penyediaan perangkat NVDA dan headset, semua dipersiapkan agar ujian berjalan lancar, nyaman, dan setara,” ujar Penanggung Jawab Lokasi (PJL) UTBK Fasilkom Ul, Ika Purnamasari, SKep, dikutip dari laman UI.

UNP, satu-satunya pusat UTBK di Sumatera Barat, menempatkan peserta di ruang khusus yang dirancang untuk kenyamanan dan konsentrasi maksimal. Panitia menyediakan perangkat pembaca layar dan headset. “Fasilitas yang disediakan meliputi ruang khusus dan pendamping. Infrastruktur teknis seperti jaringan dan perangkat audio telah disiapkan agar peserta dapat mengerjakan soal secara mandiri melalui perintah suara,” kata Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, dikutip dari laman Unesa. Selain itu, fitur pembesaran layar (zoom) bagi kategori low vision juga disiapkan sebagai komitmen inklusif.

Unesa memusatkan pelaksanaan UTBK bagi peserta disabilitas Netra di Training Center, Gedung Rektorat Kampus 2 Lidah Wetan. Ruang ujian terpisah dari peserta reguler menjaga konsentrasi. Teknologi asistif menjadi prioritas, dengan setiap unit komputer dilengkapi infrastruktur teknis dan perangkat audio. Peserta dapat mengerjakan soal melalui perintah suara tanpa kendala teknis.

UB menekankan inklusivitas di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Selain fasilitas fisik, panitia melatih staf dan pengawas tentang kesadaran disabilitas. “Kami menekankan pentingnya ketelitian pengawas dalam memverifikasi identitas peserta, khususnya bagi peserta disabilitas. Pengawas harus benar‑benar memahami karakteristik masing-masing peserta agar pelayanan tetap sesuai prosedur sekaligus menjunjung prinsip inklusivitas,” ujar Koordinator Pelaksana UTBK UB, Arif Hidayat, MM, dikutip dari laman UB. “Kami memastikan panitia paham cara berinteraksi dengan peserta daksa, netra, atau yang lainnya, tanpa harus memaksakan bantuan jika mereka merasa bisa mandiri,” tambah perwakilan Subdirektorat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusif (SLDPI) UB, Mahalli, SSos MSos.

UTBK SNBT 2026 berlangsung selama 195 menit. Fasilitas pendukung di setiap kampus dirancang agar peserta disabilitas Netra dapat mengerjakan soal secara mandiri dan nyaman. Dari perangkat pembaca layar hingga ruang ujian yang mudah diakses, semua dipersiapkan agar pengalaman ujian setara dengan peserta reguler.

Para peserta, meski menghadapi keterbatasan penglihatan, tetap menunjukkan semangat dan tekad tinggi. Mereka memanfaatkan teknologi asistif, mendapatkan pendampingan, dan berusaha mengatasi setiap rintangan. Keberhasilan mereka menegaskan pentingnya fasilitas inklusif dalam sistem pendidikan nasional.

UTBK SNBT 2026disabilitas netrafasilitas pendukungteknologi asistifinklusivitas pendidikanUniversitas Indonesiapendidikan luar biasa

Komentar

Memuat komentar...