Venesia Siap Pakai Penghalang Besar, Biaya 100 Miliar Euro
Gambar atau konten salah?
Venesia di Italia terkenal dengan kanal-kanal yang berkelok‑kelok dan pulau‑pulau kecilnya. Namun, kota ini kini terancam karena permukaan air laut yang terus naik. Setiap kali pasang tinggi, air membanjiri jalan‑jalan, membuat pengunjung dan warga harus menunggu banjir berakhir.
Menurut laporan Universitas Salento yang diterbitkan pada 16 April 2024, perubahan ini menuntut solusi jangka panjang yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian menekankan perlunya menyeimbangkan pelestarian warisan budaya, kesejahteraan sosial, dan biaya pemeliharaan.
Para peneliti menyarankan dua langkah utama. Pertama, memasang Mose, sebuah penghalang banjir besar yang dapat memisahkan kota dari laguna. Kedua, mengelilingi laguna dengan bendungan pantai permanen. Jika tidak, skenario terburuk adalah kota terendam sepenuhnya, sehingga situs bersejarah harus dipindahkan dengan cara dibongkar dan dipasang kembali.
Walaupun belum terjadi, para ahli memperkirakan bahwa kenaikan ekstrem dapat terwujud pada abad ke‑22, bila kebijakan iklim saat ini tetap dan lapisan es Antartika runtuh. Venesia menyimpan banyak monumen penting, seperti Basilika Santo Markus bergaya Bizantium dan Istana Doge bergaya Gotik. Beberapa struktur dapat diselamatkan jika dipindahkan, namun budaya berbasis laguna, gaya hidup tradisional, dan sebagian besar kegiatan ekonomi akan hilang secara permanen.
Proyek semacam ini diperkirakan akan menelan biaya hingga Euro 100 miliar. Selain monumen, rumah‑rumah penduduk juga harus ditinggalkan, dengan kerugian properti pribadi mencapai Euro 6,5 miliar. Turis yang ingin melihat reruntuhan terendam hanya dapat melakukannya untuk waktu terbatas menggunakan perahu atau kapal selam.
“Ada hal‑hal yang dapat kita lakukan untuk menunda skenario ini, tetapi hal itu tidak akan berhasil selamanya, masa depan tampaknya tak terhindarkan,” kata Piero Lionello, yang memimpin penelitian di Universitas Salento, kepada The Times.
Sejak 2020, Venesia telah menerapkan Mose, sistem penghalang banjir di berbagai muara laguna yang melindungi kota dan pulau‑pulau sekitarnya dari pasang tinggi. Saat ini, rata‑rata permukaan air laut berada di antara 80 cm hingga 120 cm, membuat kota sangat rentan terhadap banjir.
Lionello menyatakan bahwa pada tahun 2100, permukaan laut rata‑rata di Venesia dapat naik antara 42 cm dan 81 cm. Meskipun Mose dan sistem penghalang lainnya dapat membantu jangka panjang, peneliti menegaskan bahwa tindakan cepat tetap penting untuk menghindari dampak jangka panjang terburuk.
Secara keseluruhan, upaya melindungi Venesia menuntut kombinasi teknologi, kebijakan, dan investasi besar. Tanpa intervensi yang tepat, warisan budaya kota ini berisiko hilang, sementara dampak ekonomi dan sosial akan dirasakan oleh generasi mendatang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Empat Anakan Harimau Sumatra Lahir di Taman Safari Prigen
Bandara Husein Sastranegara Dipertimbangkan Rute Luar Jawa
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Jatiluwih: Turis Asia Domestik Naik, Barat Turun Pasar Konflik
Pendaki Terjatuh di Gunung Semeru, Evakuasi Sempat Lama
Berita Terbaru
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
