Video Menari Hendrik Irawan, 6 Juta Harian MBG Viral

Ayu W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Video Menari Hendrik Irawan, 6 Juta Harian MBG Viral

Gambar atau konten salah?

Video yang menampilkan mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG) bernama Hendrik Irawan menari menari menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut, Hendrik terlihat menari sambil menunjukkan pendapatan harian sebesar Rp 6 juta dari program tersebut.

Hendrik Irawan, pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Batujajar, Bandung Barat, menjadi sasaran amarah publik. Meskipun ia sudah mengirimkan permohonan maaf dan klarifikasi, dapur MBG miliknya tetap ditutup sementara.

Hendrik mengaku telah merogoh kocek hingga Rp 3,5 miliar untuk membangun SPPG tersebut. Ia juga menyebut dirinya belum balik modal meski mendapat Rp 6 juta sehari selama 24 kali dalam satu bulan.

Berapa sebenarnya biaya membangun SPPG atau dapur MBG? Pada Februari 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) mengunggah di Instagram bahwa mitra SPPG dipilih melalui seleksi ketat dan wajib memiliki kesiapan modal antara Rp 2,5-6 miliar.

“Pembayaran Rp 6 juta per hari bukan keuntungan per porsi makanan, melainkan pembayaran atas kesiapan fasilitas (availability payment): dapur, peralatan, tenaga kerja, utilitas, dan standar higienitas, termasuk saat hari libur sebagai bentuk standby readiness,” jelas BGN pada 26 Maret 2026. Angka tersebut adalah pendapatan kotor, bukan laba bersih. Mitra menanggung investasi awal, biaya operasional, perawatan, serta risiko evaluasi kontrak tahunan yang bisa saja tidak diperpanjang jika tidak memenuhi standar.

“Mengapa negara tidak membangun sendiri? Karena jika harus membangun ribuan fasilitas sekaligus, dibutuhkan belanja modal hingga puluhan triliun rupiah di awal. Melalui skema kemitraan, pembangunan dapat dipercepat, risiko operasional dialihkan kepada mitra, dan APBN tidak terbebani investasi besar di muka,” tambah BGN. “Tidak ada margin keuntungan pada komponen makanan.”

Perhitungan riil pendapatan SPPG adalah Rp 6.000.000 dikali 313 hari operasional (termasuk minggu libur), menghasilkan Rp 1.878.000.000 per tahun. Untuk mendapatkan insentif tersebut, mitra wajib membangun SPPG sesuai Juknis 401.1 tahun 2026. Estimasi nilai investasi awal yang dikeluarkan mitra mencapai antara Rp 2,5 Miliar hingga Rp 6 Miliar, tergantung harga tanah daerah. Dengan investasi tersebut dan pendapatan kotor Rp 1,8 Miliar per tahun, titik impas (Break Even Point) baru akan tercapai dalam waktu 2 hingga 2,5 tahun. Pada tahun pertama dan kedua, mitra belum menikmati keuntungan bersih karena digunakan untuk menutupi modal investasi dan depresiasi alat.

SPPG diminta merekrut 47 tenaga kerja dari masyarakat sekitar, dengan prioritas kelompok miskin ekstrem. Pembangunan SPPG mengacu pada standar nasional dengan ketentuan ketat untuk menjamin keselamatan, ketahanan bangunan, serta kelayakan operasional.

Menurut laman Kementerian Pekerjaan Umum, bangunan SPPG berukuran 20 x 20 meter membutuhkan lahan minimal 800 m², sementara ukuran 10 x 15 meter membutuhkan lahan minimal 300 m². Bangunan dirancang dengan ketahanan terhadap gempa hingga nilai Sds ≤ 0,800g serta ketahanan angin hingga 39 meter per detik. Struktur yang digunakan meliputi struktur modular baja, rangka hollow, maupun pasangan bata terkekang, sesuai dengan karakteristik wilayah.

Dapur SPPG dilengkapi sistem pengolahan limbah IPAL, sistem ventilasi udara, sistem pemadam kebakaran, genset cadangan listrik, serta sistem pengawasan CCTV dan jaringan teknologi informasi (ICT). Semua spesifikasi ini dirancang untuk memastikan SPPG beroperasi secara aman, higienis, dan berkelanjutan.

Video yang menampilkan Hendrik menari menari memicu perdebatan tentang transparansi dan keuntungan program MBG. Klarifikasi BGN menegaskan bahwa pembayaran harian adalah kompensasi atas fasilitas dan kesiapan operasional, bukan laba bersih. Sementara itu, perhitungan investasi dan pendapatan menunjukkan bahwa mitra masih harus menunggu beberapa tahun sebelum mencapai titik impas. Program ini tetap menekankan pentingnya tenaga kerja lokal, standar keselamatan, dan keberlanjutan operasional dalam upaya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Makan Bergizi GratisHendrik IrawanSPPGBadan Gizi Nasionalinvestasi awalbreak evenstandar keselamatan

Komentar

Memuat komentar...