Video Viral Influencer Meniru Disabilitas, Maaf Terbit

Rini S. · 2 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Video Viral Influencer Meniru Disabilitas, Maaf Terbit

Gambar atau konten salah?

Seorang influencer menayangkan video di media sosial yang menampilkan gerakan menyerupai penyandang disabilitas. Video tersebut menjadi viral dan memicu kritik tajam dari banyak warganet.

Konten yang menampilkan gerakan tersebut ternyata juga merupakan bagian dari promosi produk kecantikan milik merek ternama. Banyak pengguna media sosial menganggap video itu tidak sensitif terhadap kelompok disabilitas, apalagi jika dipakai sebagai bahan hiburan atau personal brand.

Netizen mengekspresikan kemarahan mereka. Salah satu komentar berbunyi, "mungkin pengen ngerasain jadi disabilitas," sementara yang lain menambahkan, "dan yang endorse dia uga pada stres. kok bisa marketing ke kol yang konten bullying diskriminasi buat teman-teman disabilitas dan dibuat katanya becandaan? gak waras,".

Fenomena ini menarik perhatian dr Adam Prabata, seorang dokter umum yang aktif mengedukasi masyarakat lewat media sosial. Menurutnya, candaan yang menjadikan disabilitas sebagai bahan humor berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi penyandang disabilitas.

Ia menjelaskan bahwa konten semacam itu tidak hanya dapat melukai perasaan individu yang menjadi sasaran stereotip, tetapi juga berisiko memperkuat stigma sosial terhadap kelompok disabilitas. Berdasarkan sejumlah penelitian, dr Adam menyebut paparan terhadap konten yang merendahkan atau mengejek disabilitas dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan psikologis seperti kecemasan hingga depresi pada penyandang disabilitas.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2024 dalam Journal of Media Psychology. Studi itu menunjukkan bahwa humor bertema disabilitas dapat memperkuat stereotip negatif, mengurangi empati audiens, serta memicu tekanan emosional bagi penyandang disabilitas.

Dr Adam menegaskan, "Meskipun pembuat konten mengklaim hanya bercanda, korban sering mengalami ejekan, cyberbullying, dan celf censorship karena takut diejek lebih lanjut. Cukup, semoga tidak ada lagi humor-humor seperti ini," pada 4 Juni 2026.

Setelah menuai polemik, pemilik akun @violettaaxandrea mengirimkan permintaan maaf kepada publik. Ia mengakui penyesalan atas tindakannya dan berjanji tidak akan lagi membuat konten serupa di masa mendatang.

Kasus ini menyoroti pentingnya kesadaran akan dampak sosial media. Konten yang tampak ringan dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi kelompok yang sudah rentan. Kesadaran akan sensitivitas dan empati menjadi kunci dalam menciptakan ruang digital yang lebih inklusif.

influencerdisabilitaskonten viralnetizenstigma sosialdampak psikologismedia sosial

Komentar

Memuat komentar...