Waktu Tepat Ngemil Manis, Panduan Ahli Gizi Maya Feller
Gambar atau konten salah?
Para pecinta makanan manis sering kali bingung: mau menikmati dessert atau takut berat badan naik. Menurut seorang ahli gizi, kebingungan ini bisa diatasi dengan mengetahui kapan waktu terbaik untuk ngemil manis.
Menikmati kue, cookies, atau camilan manis tidak sepenuhnya dilarang. Yang penting adalah mengontrol porsi dan memilih waktu yang tepat. Menurut Maya Feller, “Idealnya, makanan manis boleh dikonsumsi antara waktu makan siang dan makan malam, dan sebaiknya tidak terlalu malam karena tubuh membutuhkan proses metabolisme untuk mengolah gula,” jelas Maya Feller, seorang ahli gizi sekaligus penulis, seperti dikutip Wolipop dari Huffpost.
Waktu terbaik lainnya adalah setelah makan utama yang sudah seimbang. Menggabungkan gula dengan nutrisi lain membantu tubuh memprosesnya lebih efisien, sehingga gula tidak langsung menumpuk di darah.
Selama siang hingga sore, tubuh biasanya lebih aktif. Aktivitas fisik membantu metabolisme berjalan lebih optimal, termasuk proses pengolahan gula yang masuk. Maya Feller menambahkan, “Kamu cenderung lebih aktif di siang hari, sehingga tubuh punya lebih banyak waktu untuk mengolah gula tersebut.”
Berbeda dengan ngemil manis menjelang tidur. Saat tubuh tidak banyak bergerak, metabolisme gula menjadi kurang maksimal. “Jika setelah makan manis kamu langsung berbaring tanpa aktivitas, tubuh tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan insulin untuk bekerja optimal,” jelas Feller.
Insulin adalah hormon yang memindahkan gula dari aliran darah ke dalam sel untuk diubah menjadi energi. Tanpa aktivitas, proses ini dapat terhambat, sehingga kadar gula darah dapat naik dan berpotensi memicu masalah kesehatan jangka panjang.
Selain itu, konsumsi gula sebelum tidur juga dapat mengganggu kualitas tidur. Hal ini membuat lebih sulit terlelap dan meningkatkan risiko resistensi insulin.
Feller menegaskan bahwa gula bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. “Gula pada dasarnya adalah karbohidrat, dan tubuh kita membutuhkannya. Gula adalah sumber energi utama bagi otak,” jelasnya.
Namun, diet seimbang tetap menjadi kunci utama. Mengonsumsi gula dalam jumlah berlebihan tanpa memberi waktu tubuh untuk memprosesnya dapat membuat sistem tubuh kewalahan.
Dia juga mengingatkan bahwa pola makan sehat bukan terpaku pada ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’, tapi lebih pada nutrisi seimbang dan kebutuhan tubuh. “Jika kamu makan gula sedikit lebih banyak dari yang direncanakan, itu bukan akhir segalanya. Pola makan adalah proses, bukan sesuatu yang hitam-putih. Beri diri ruang untuk tetap fleksibel,” tutupnya.
Secara keseluruhan, menyisipkan manisan dalam diet tidak harus dihindari, asalkan kita memperhatikan porsi, waktu, dan keseimbangan nutrisi. Mengatur kebiasaan ngemil dengan bijak dapat membantu menjaga berat badan tetap stabil sambil tetap menikmati cita rasa manis.
dhm/dhm
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Utang Amanah: Jangan Tunda Bayar, Ini 5 Doa Pelunas dari Rasul
Ruben Onsu Rindu Jalan-Jalan Bareng Anak, Aturan Hak Asuh Masih Sulit Terwujud
Ruben Onsu: Tantangan Waktu Bersama Anak Setelah Perceraian
Porter Bandara Hang Nadim Viral Setelah Minta Uang Pas Check‑In
Banjir di Jalan Bunga Mawar Medan, Wali Kota Kunjungi
Jokowi: Prosedur PSI, Tidak Langsung Jadi Dewan Pembina
Berita Terbaru
Ramalan bintang cinta Sabtu 20 Juni 2026
Minyak Goreng Bantuan di Wonogiri Berbau Seperti Minyak Tanah
Utang Amanah: Jangan Tunda Bayar, Ini 5 Doa Pelunas dari Rasul
Cuaca Cerah di Bandung, Akhir Pekan Nyaman untuk Semua
Numerologi 20 Juni 2026: Arti Angka Universal 9 dan Pengaruhnya
Zodiak Libra 20 Juni 2026: Ramalan Asmara, Karier, dan Keuangan Hari Ini
BBMKG: Hujan Ringan Guyur Sebagian Besar Bali, Tabanan dan Gianyar Cerah
Vallensia Fahira Siap Revans di Debut MMA Asian Games
Cuaca Surabaya Cerah, Suhu Capai 33 Derajat
