Warga Cimahi Solusi Air Tanpa PDAM: Water Harvesting Berhasil

Rudi H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Warga Cimahi Solusi Air Tanpa PDAM: Water Harvesting Berhasil

Gambar atau konten salah?

Cimahi sedang menghadapi musim kemarau panjang yang mengancam kekeringan dan krisis air bersih. Kota ini, yang luasnya 40,2 kilometer persegi, menjadi salah satu daerah di Jawa Barat yang paling rentan terhadap dampak kemarau.

Menurut pemetaan BPBD Kota Cimahi, semua kelurahan di wilayah ini memiliki potensi kekeringan tinggi. Mayoritas penduduk mengandalkan air tanah untuk semua kebutuhan, mulai dari memasak, mandi, hingga mencuci pakaian.

Air alternatif datang dari PDAM. Namun, ketika musim kemarau tiba, debit air yang disalurkan melalui pipa bawah tanah langsung menurun. Bagi warga yang tidak memiliki sumber air lain, situasi ini membuat mereka kebingungan.

Selama bertahun-tahun, pemerintah belum memberikan solusi yang memadai. Akibatnya, warga mulai mencari cara sendiri untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satu contoh inovasi datang dari warga di Jalan Bapa Ampi, RW 05, Kelurahan Baros, Kecamatan Cimahi Tengah.

Ketika ditanya pada Sabtu, 13 Juni 2026, Aries Wahyudi, ketua RW 05, menjelaskan: "Sejak lama, daerah kami ini selalu kekeringan kalau masuk musim kemarau. Kebanyakan disini kan pakainya air tanah, jadi ngebor sendiri," kata Ketua RW 05, Aries Wahyudi saat ditemui, Sabtu, 13 Juni 2026.

Ia melanjutkan: "Jadi lapangan ini dulu setiap hujan itu selalu banjir dan surutnya lama sampai akhirnya enggak bisa dipakai. Nah dari situ, kami berpikir bagaimana menyelesaikan banjir sekaligus kekeringan," imbuhnya.

Warga kemudian mengadopsi sistem water harvesting, yaitu memanen air hujan yang mereka tampung. Tanpa mengubah bentuk lapangan, mereka memanfaatkan area tersebut sebagai tempat penyimpanan air.

"Bisa dibilang sekarang bahasa modernnya itu water harvesting. Secara fisik, kami bekerja sama membangun sistem yang sebetulnya sudah ada agar air bisa terserap ke dalam tanah kemudian bisa kami pakai ketika kemarau," kata Aries.

Seorang warga yang memahami jalur air bawah permukaan memimpin proyek ini. Ia memulai dengan menegaskan jalur air yang sempat samar karena sedimentasi dan sampah. Selanjutnya, ia membuat lubang biopori di beberapa titik sebagai jalur masuk air dari langit kembali ke tanah.

"Secara teori, ini bukan soal menemukan sumber air, melainkan mencari konstruksi lapangan tanah yang tepat. Ada lapisan tanah yang mampu menyerap air dan ada yang kedap air. Ketika menemukan lapisan tanah yang gembur seperti pasir, air akan mudah terserap. Sebaliknya, jika berupa cadas atau tanah merah, air tidak akan terserap dengan baik. Nah kami hanya memanfaatkan prinsip alam itu," kata Aries.

Biopori yang dibangun memiliki diameter 60 sentimeter dan kedalaman sekitar empat sampai lima meter. Lubang ini bekerja selama musim hujan, menampung air buangan dari jalan dan rumah-rumah melalui saluran khusus. Tanah dan pasir ditahan agar tidak langsung masuk ke lapangan, sementara air bersih diarahkan ke biopori yang posisinya paling tinggi.

"Seluruh aliran air akhirnya terkumpul dan masuk ke titik-titik resapan tersebut karena sudah tepat mengenai jalur air bawah tanah, sampai sekarang alhamdulillah kami tidak pernah mengalami kekeringan," kata Aries.

Air yang masuk ke tanah kemudian dipanen menggunakan mesin jet pump. Hasilnya dimasukkan ke dalam toren berukuran jumbo, lalu dialirkan kembali melalui pipa agar dapat dimanfaatkan oleh warga.

"Kran utamanya ada 2, semua di lapangan. Jadi warga yang mau ambil air silakan datang ke lapangan. Dulu pernah dialirkan dengan pipa langsung ke rumah-rumah, cuma ternyata ada gesekan yang berpotensi menjadi konflik berkepanjangan sehingga kami putuskan di satu titik saja," ujar Aries.

Inisiatif water harvesting ini sudah berjalan sejak 2019. Meskipun tidak langsung sempurna, warga terus melakukan perbaikan demi hasil yang lebih baik.

"Pada 2019 kami memulai dengan memanfaatkan Program PPM Kota Cimahi. Kami membangun infrastruktur untuk mengatasi persoalan krisis air yang selama ini belum ada solusinya. Setelah ini sudah ada hasil maksimalnya, tentu kami akan merambah ke biopori di setiap gang RT supaya warga bisa semakin mudah mengakses air hasil water harvesting," ucap Aries.

Dengan sistem ini, warga di Cimahi kini dapat mengakses air bersih tanpa harus bergantung pada sumber eksternal. Inovasi sederhana ini menunjukkan bahwa solusi lokal dapat mengatasi masalah krisis air, bahkan ketika pemerintah belum memberikan bantuan yang memadai.

Komentar

Memuat komentar...