Warga Ratte Paksa Jalan Setapak, 9 km 4 Sungai, Waktu 4 Jam
Gambar atau konten salah?
Sitti Halija, seorang wanita berusia 60 tahun, terpaksa ditandu sejauh 9 kilometer dari kampung halamannya di Desa Ratte menuju puskesmas di Desa Taramanu Tua. Jalan yang dapat dilalui kendaraan sangat terbatas, sehingga warga harus memilih jalur alternatif yang melewati hutan dan menyeberangi 4 sungai berbatu.
“Sakit orang tua, sudah tidak bisa jalan kaki dan naik motor. 9 kilo perjalanan ditandu, ada 4 sungai dilewati,” kata Aco Yaqub kepada wartawan pada hari Minggu, 12 April 2026. Ia menjelaskan bahwa perjalanan tersebut memakan waktu sekitar empat jam.
Rute yang dipilih dimulai dari Desa Ratte menuju Desa Taramanu Tua, yang sudah dapat diakses kendaraan. Namun, karena kondisi jalan umum yang lebih jauh dan sulit dilalui kendaraan roda empat biasa, warga memilih jalur setapak melalui hutan. “Kalau jalan umum susah tembus motor dan mobil hardtop, jauh dan lebih beresiko. Karena jalannya belum bagus dan licin kalau musim penghujan,” terang Yaqub.
Warga merasa lebih aman menempuh jalur setapak meski masih berupa jalan setapak. “Kondisi jalannya masih setapak karena melewati kawasan hutan. Warga lebih mudah melalui jalur itu meski berjalan kaki karena dekat dan lebih aman,” ujarnya. Ia menekankan bahwa keberadaan jalur alternatif ini sangat vital bagi warga setempat, termasuk anak sekolah.
“Setiap ada warga yang sakit harus ditandu lewati situ untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat,” tambah Yaqub. Ia juga menyebutkan bahwa anak sekolah biasa lewat jalur itu dan warga sering membawa bahan pokok lewat jalur tersebut.
Yaqub berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi jalan ini. “Pemerintah memberikan perhatian agar akses jalan menuju desa dapat segera diperbaiki. Termasuk membenahi akses jalan alternatif yang selama ini dilalui warga khususnya saat menandu pasien,” katanya. Ia menegaskan bahwa jalan utama masih belum dibangun, sementara jalan lain masih berupa tanah liat yang sulit dilalui.
Dalam potongan video pendek yang dilihat pada hari Minggu, 12 April 2026, terlihat sejumlah pria dewasa bergotong royong menandu pasien. Pasien ditandu menggunakan kain sarung dan bambu melewati jalan tanah yang licin. Warga juga terlihat kesulitan menyeberangi bebatuan besar di tengah sungai.
Kasus ini menyoroti tantangan akses kesehatan di daerah terpencil. Jalan yang buruk dan sulit dilalui membuat warga harus menempuh rute berbahaya dan memakan waktu. Peningkatan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan mendesak agar pasien dapat segera mendapatkan perawatan medis tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB 2026/2027: Jalur Zonasi Jadi Pilihan Utama di Makassar
BPJS Mudahkan Ganti FKTP Lewat Aplikasi Mobile JKN
SPMB SMA 2026 Sulsel Jalur Prestasi: Tata Cara & Jadwal
Gempa 6.7 di Sigi: Warga Kamarora Butuh Tenda Darurat
Film Unsane Kembali Diputar di Bioskop Trans TV 22.00 WIB
Hayarna Hakim Resmi Jadi Pengganti RMS di DPR RI 2026
Berita Terbaru
Pasar Beringkit Kembali Ayam Jago, Siap Pembukaan Baru
SPMB 2026/2027: Jalur Zonasi Jadi Pilihan Utama di Makassar
Badung Tambah Wahana ATV di Agro Techno Park, Fokus Kopi
Real Madrid Tanda Tangan Marc Cucurella dari Chelsea
India Gasifikasi Batu Bara, Kurangi Impor Energi, Mendukung
BPJS Mudahkan Ganti FKTP Lewat Aplikasi Mobile JKN
Real Madrid: Mourinho, Cucurella, Silva, Konate Tampil
Persela Lamongan Masuk Grup Timur Liga 2 2026/2027 Bergabung
Wapres Ajak Mahasiswa Lihat Makan Bergizi Gratis di Papua
