Welin Kusuma: 14 Gelar S1, 3 S2, Tak Pernah Lupa Belajar
Gambar atau konten salah?
Welin Kusuma, seorang pria berusia empat puluh‑dua tahun, telah menempuh pendidikan sepanjang hidupnya tanpa pernah melewatkan satu semester pun. Sejak tahun 1999, ia terus menambah gelar, hingga kini memiliki 14 gelar S1 dan 3 gelar S2, serta puluhan gelar profesi.
“Selalu, pasti saya terdaftar, selalu terdaftar (sebagai mahasiswa) gitu. Jadi kalau nggak S1 ya S2 gitu ya, atau barengan gitu. Jadi nggak pernah kosong, karena menurut saya, ini ya, saya ingin eksplor untuk tahu macam‑macam ilmu gitu,” kata Welin kepada detikEdu (12/5/2026).
Setelah lulus dari satu program studi, Welin langsung mendaftar ke program lain. Namun, proses pendaftaran terkadang terhambat karena sistem PDDikti yang memeriksa NIK. “Kalau misalnya sudah lulus, saya langsung daftar lagi gitu. Kecuali kalau memang sekarang ini agak sulit kadang kan, karena ada sistem di PDDikti itu dia ngecek NIK. Jadi kalau belum yudisium itu nggak bisa daftar lagi,” ungkap Welin. “Tapi kalau setelah sudah yudisium, langsung saya daftar gitu,” tambahnya.
Saat ini, Welin sedang menempuh S1 Teknologi Pendidikan di Universitas Terbuka (UT) sambil mengikuti sertifikasi profesi dan bekerja. Ia pernah menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta. “Saya awalnya ngambil di swasta. Waktu itu saya ambil di Surabaya, itu Universitas Surabaya, universitas swasta. Tapi setelah itu saya juga ngambil yang di negeri, ada di Unair gitu, lalu ada ITS,” ungkapnya.
Motivasi Welin bermula dari pengalaman orang tua yang ingin kuliah namun tidak mampu. Mereka hanya bisa mengambil kursus, namun Welin melihat nilai belajar yang tinggi. “Saya lihat, oh ternyata dengan kita belajar itu banyak gunanya ternyata. Kalau kita lulus salah satu bidang atau beberapa bidang, kita bisa menyelesaikan banyak permasalahan gitu ya,” ujarnya.
Welin pernah menghadapi tantangan saat harus menyelesaikan skripsi dan tesis secara bersamaan. Keduanya memerlukan waktu dan tenaga, sementara ia juga bekerja. Ia bahkan menerima surat peringatan drop‑out. Namun, tekadnya tetap kuat. “Satunya 19 semester, satunya 10 semester. Cuma saya tetap tahu, kan saya komit, oh saya memang sudah ngambil gitu ya, effort‑nya sudah luar biasa. Jadi saya atur waktunya, jadi setiap semester saya ada target, harus lulus paling nggak satu program studi gitu. Jadi setiap semester saya pasti berkurang bebannya gitu, dan terakhir‑akhirnya saya berhasil lulus semua juga,” terangnya.
Ia mengingat bahwa era ketika ia memulai kuliah belum dimudahkan oleh internet. “Saya mulainya dari zaman sebelum ada internet, di ‘99 kan internetnya masih belum terkenal gitu ya. Jadi orang‑orang tertentu aja yang pakai. Waktu itu saya belum ada juga, jadi belum punya akses ke internet. Jadi ngerjainnya manual gitu,” ujar Welin. “Cuma memang sudah ada komputer gitu ya. Jadi sudah ada komputer, nge‑print lumayan sih pakai komputer bisa nge‑print gitu ya,” lanjutnya.
IPK tertinggi yang pernah ia capai adalah 3,9 di program S1 Ekonomi Manajemen di STIE Urip Sumoharjo, yang kini dikenal sebagai Institut Kesehatan dan Bisnis Surabaya (IKBIS). Welin menyatakan keinginannya untuk melanjutkan ke jenjang S3. Namun, setelah menikah dan memulai keluarga pada Februari 2026, ia masih mempertimbangkan pilihan studi selanjutnya. “Apakah nuntut gitu ya, nanti sudah ada keluarga, lalu harus kuliah lagi gitu ya. Cuma memang saya carinya kuliah yang, kalau bisa nggak ini ya, nggak terlalu memberatkan,” kata Welin. “Jadi waktunya bisa disambi, dan saya lihat banyak kok sekarang yang kuliahnya dari perguruan tinggi negeri pun ada yang buka kelas, yang bisa online gitu. Jadi lebih condong ke hybrid sih, jadi ada tetap mukanya tapi ada juga yang online‑nya,” imbuhnya.
Welin menunjukkan contoh nyata bahwa pendidikan tidak terbatas pada satu jalur atau satu institusi. Ia terus menambah pengetahuan, menyesuaikan diri dengan teknologi baru, dan tetap menjaga komitmen terhadap studi meski dihadapkan pada pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Keputusannya untuk belajar terus, bahkan setelah menempuh banyak gelar, menegaskan bahwa motivasi berasal dari pengalaman pribadi dan keinginan untuk memecahkan masalah melalui ilmu. Dengan pendekatan fleksibel dan tekad kuat, Welin tetap menjadi contoh bagi siapa saja yang ingin mengejar pendidikan tanpa batasan waktu dan tempat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
