Wing Seong Fatty's Tutup 28 Juni 2026, Akhir 100 Tahun
Gambar atau konten salah?
Wing Seong Fatty's akan menutup pintunya pada 28 Juni 2026, menandai akhir hampir satu abad beroperasi di Singapura. Restoran ini, yang sudah berusia 100 tahun, tidak memiliki penerus yang akan melanjutkan tradisi kuliner keluarga.
Sejak didirikan di Albert Street pada tahun 1926, Wing Seong Fatty's tumbuh menjadi salah satu restoran Cantonese tertua di kota. Pendiri memulai usaha ini bersama putra yang kemudian dikenal pelanggan dengan julukan “Fatty”. Nama tersebut menjadi identitas restoran hingga kini. Pada tahun 1987 restoran berpindah ke Albert Complex, dan sejak 1999 beroperasi di Burlington Square.
Restoran ini menjadi tempat favorit bagi awak maskapai internasional. Pilot dan pramugari Qantas seringkali mampir untuk menikmati hidangan khas Cantonese. Seorang pengamat di HARS Aviation Museum menulis, “Restoran ini lebih dari sekadar tempat makan, tetapi bagian sejarah,” menegaskan ikatan emosional yang kuat antara restoran dan komunitas penerbangan.
Pihak restoran mengumumkan keputusan tutup melalui akun media sosial resmi. Mereka menegaskan, “kami tidak memiliki penerus untuk melanjutkan usaha ini.” Alasan utama adalah usia pemilik yang sudah lanjut usia dan generasi muda keluarga memilih jalur karier yang berbeda. Tanpa penerus, bisnis keluarga tidak dapat dilanjutkan.
Penutupan ini diumumkan pada 18 Mei 2026 oleh CNA Lifestyle, menandai akhir era restoran warisan keluarga. Pihak restoran mengucapkan terima kasih kepada pelanggan setia, “kami sangat berterima kasih atas dukungan pelanggan selama ini.” Banyak pengunjung yang merasa sedih dan berharap restoran tetap dikenang.
Masalah yang dihadapi Wing Seong Fatty's mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak restoran keluarga di Singapura. Biaya operasional yang terus meningkat dan perubahan gaya hidup masyarakat membuat keberlangsungan usaha menjadi sulit. Restoran ini dikenal dengan menu Cantonese klasik dan suasana lawas yang menarik pelanggan.
Penutupan Wing Seong Fatty's menandai akhir sebuah era bagi warisan kuliner keluarga di Singapura. Restoran ini telah menjadi bagian penting dalam sejarah kuliner kota, dan keputusannya mencerminkan realitas bisnis keluarga di era modern. Banyak pelanggan berharap warisan ini tetap dikenang, meski pintu restoran akhirnya akan tertutup.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tujuh Tempat Makan Legendaris di Cilandak Menjelajah Rasa
Tahu Walik Aci: Camilan Renyah dan Kenyal dari Banyuwangi
Chicken Katsu: Rasa Renyah di Rumah Bersama Saus Mentai
Tujuh Langkah Menjaga Dapur Rapi Saat Memasak Tips Praktis
Tahu Walik: Gorengan Teriak dari Banyuwangi Camilan
Kopi Kekinian 5 Racikan di Kafe Jakarta: Mont Blanc & Coconut
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
