12 Anak Little Aresha Terdeteksi Penyimpangan, 18 Gizi Kurang

Sinta R. · 2 min baca · 29 hari lalu · 45 dibaca
Bisik.id
12 Anak Little Aresha Terdeteksi Penyimpangan, 18 Gizi Kurang

Gambar atau konten salah?

Selasa, 19 Mei 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengumumkan hasil skrining perkembangan dan gizi anak-anak yang pernah dititipkan di daycare Little Aresha. Kepala Bidang Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, membuka konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta dengan data yang cukup mengkhawatirkan.

Menurut Aan, skrining dilakukan pada 153 anak oleh psikolog klinis yang memanfaatkan pedoman Stimulasi, Deteksi, Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam kondisi perkembangan normal. “Hasilnya ini 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak berada dalam kategori meragukan, dan 122 anak berada dalam kondisi perkembangan normal,” ungkapnya.

Para korban yang terdeteksi penyimpangan kemudian dirujuk ke puskesmas untuk pemeriksaan komprehensif. Aan menjelaskan bahwa penyimpangan tersebut terbagi dalam beberapa kategori. “Memang penyimpangan itu ada beberapa kategori, mulai dari yang speech delay atau keterlambatan bicara,” jelasnya. Ia menambahkan, “Kemudian gejala ke arah autis, ADHD itu tadi banyak gerak, jadi lebih hiperaktif gitu dibanding dengan teman sebayanya atau seusianya, sehingga ini yang perlu dirujuk.”

Selain perkembangan, Dinkes Yogyakarta juga menilai status gizi anak. Nutrisionis melakukan pengukuran antropometri pada 149 anak yang menjalani skrining pertumbuhan. Hasilnya, 18 anak mengalami masalah gizi pada tahap berat badan dan gizi yang kurang. “Jadi, ini tidak bisa disebut sebagai gizi buruk ya, jadi sangat jauh berbeda. Ini baru suatu kondisi tahap awal dari kekurangan gizi pada anak balita,” kata Aan. Ia menegaskan bahwa meski secara fisik tidak semua anak tampak kekurangan, pengukuran berbasis standar antropometri dapat mengidentifikasi anak dengan berat badan kurang dan gizi kurang.

Dalam proses rujukan, Aan menyatakan bahwa dari 18 anak yang dirujuk ke Puskesmas, 9 anak sudah hadir. Sisanya, 9 orang lainnya, masih berada di tahap pemeriksaan psikologis sehingga belum dapat datang ke Puskesmas. “Kalau kita lihat secara fisik bahkan ada yang tidak tampak kekurangannya, tapi karena kita melaksanakan pengukuran tumbuh kembang ini berdasarkan standarnya, antropometri, sehingga bisa diketahui ada beberapa anak berat badannya kurang dan gizi kurang,” tambahnya.

Untuk memastikan penanganan optimal, Dinkes Yogyakarta akan mendampingi dan menindaklanjuti kasus tersebut bersama tim kesehatan setempat. “Jadi, kalau misalnya pada saat dilaksanakan di Puskesmas dibutuhkan untuk rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya rumah sakit, sudah disiapkan Rumah Sakit Pratama, RSUD Kota Yogyakarta, dan apabila ternyata dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi lagi, RSUP Dr Sardjito juga sudah siap,” tegas Aan. Ia menegaskan koordinasi dengan rumah sakit tersebut, khususnya untuk psikolog dan dokter anak. “Kita sudah melaksanakan koordinasi dengan rumah sakit tersebut, khususnya untuk psikolog dan juga untuk dokter anaknya. Jadi, Insya Allah kalau memang dibutuhkan rujukan yang lebih tinggi sudah siap dilayani,” pungkasnya.

Dengan langkah ini, pihak Dinkes Yogyakarta berharap anak-anak yang terpapar daycare Little Aresha dapat menerima evaluasi dan intervensi yang tepat. Penanganan dini diharapkan dapat memperbaiki jalur perkembangan dan mencegah dampak jangka panjang bagi anak-anak yang terdeteksi.

Pemerintah Kota YogyakartaDinas KesehatanDaycare Little Areshaskrining perkembangangizi anakpenyimpangan perkembanganintervensi dini

Komentar

Memuat komentar...