160 Ribu Usulan Titik Internet Indonesia Menunggu Anggaran
Gambar atau konten salah?
Di Indonesia masih banyak daerah yang belum terhubung dengan internet. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat telah menerima sekitar 160 ribu usulan titik pembangunan layanan internet dari berbagai wilayah di Tanah Air.
Usulan‑usulan tersebut menandakan kebutuhan konektivitas yang tinggi, khususnya di daerah yang belum terlayani secara memadai. “Sekarang itu di BAKTI, kami ada sekitar 160 ribu usulan. Bayangkan, seluruh Indonesia,” ujar Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, saat ditemui di Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (12 Juni 2024).
Menurut Fadhilah, tidak semua usulan dapat direalisasikan. Pembangunan layanan internet harus mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk ketersediaan anggaran dan penilaian lokasi yang diusulkan. “Jadi kami bangun tergantung satu, apakah betul mereka perlu internet atau enggak. Yang kedua anggaran. Jadi kalau anggaran sudah ada, kapasitas ada, kita bangun,” katanya.
Usulan pembangunan titik akses internet biasanya berasal dari pemerintah daerah maupun masyarakat. “Penempatan titik akses adalah usulan dari masyarakat, dari pemda. Biasanya dari bupati, dinas Komdigi, ada juga yang dari gubernur langsung,” ujarnya.
Biaya pembangunan infrastruktur konektivitas internet bisa berbeda‑beda di setiap wilayah, tergantung kondisi geografis dan teknologi yang digunakan. “Ada antara 1 miliar sampai ada yang 3 miliar di Papua,” ujarnya.
Karena itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi tidak harus selalu dilakukan oleh BAKTI. Pemerintah daerah yang memiliki kemampuan pendanaan juga dapat membangun sendiri layanan konektivitas bagi masyarakatnya. “Kalau anggarannya tersedia, sebenarnya nggak harus selalu dibangun oleh BAKTI. Boleh oleh Pemda. Kan ada beberapa yang memang sudah dibangun oleh Pemda,” kata Fadhilah.
BAKTI saat ini telah menyampaikan usulan kebutuhan pembangunan konektivitas secara nasional kepada pemerintah. Usulan tersebut mencakup pemetaan wilayah blank spot, kebutuhan pendanaan, hingga pilihan teknologi yang dapat digunakan. “Seluruh Indonesia, kemarin saya sampaikan ada sekitar 2 ribu titik. Kita sampaikan bahwa blank spot-nya seperti ini, kondisi pembiayanya yang diperlukan adalah sekian, teknologinya ini, nanti tinggal pemerintah yang memprioritaskan apakah akan dibangun tahun 2027-2028,” paparnya.
Di pihak lain, operator seluler juga turut memiliki kewajiban mendukung pembangunan jaringan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). “Dan nggak harus melalui anggaran BAKTI karena ada juga melalui komitmen pembangunan. Kalau misalnya frekuensi diambil oleh salah satu operator seluler, mereka harus membangun wilayah 3T, itu sudah ditetapkan,” ujar Fadhilah.
Dengan kombinasi usaha pemerintah, BAKTI, dan operator, upaya memperluas jangkauan internet di Indonesia terus berlanjut. Namun, realisasi masih bergantung pada prioritas anggaran dan kesiapan teknis di masing‑masing daerah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Ancelotti Jadi Pelatih Brasil, Siap Hadapi Piala Dunia 2026
Indonesia Wakil Final Australian Open 2026, Tantangan China
160 Ribu Usulan Titik Internet Indonesia Menunggu Anggaran
Transmart Sale: Diskon 70% peralatan makan hingga 22.00
17 Mobil Volkswagen Safari Berbaris di Taman Kerta Gosha
Banda Aceh Serahkan Ambulans Toyota Hiace di Posyandu
Menteri Kesehatan Batasi Kenaikan Harga Obat 20% di Jakarta