35% Pelari Mengalami Gangguan Pencernaan Saat Lomba
Gambar atau konten salah?
Untuk banyak pelari, tiba‑tiba mules saat hendak atau sedang berlari sangat mengganggu. Masalahnya, toilet di lokasi lomba sering terbatas, sehingga pelari harus bergantian menggunakan fasilitas yang ada.
Fenomena ini bukan sekadar sugesti. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai runner's trot atau gangguan pencernaan yang muncul saat berlari, khususnya pada olahraga endurance seperti half marathon (HM) dan full marathon (FM).
Dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, menjelaskan bahwa istilah medisnya adalah exercise‑induced gastrointestinal distress dan sering dikaitkan dengan runner's trot yang lebih familiar di kalangan pelari.
Menurut beliau, fenomena ini dialami oleh 30‑50 persen pelari jarak jauh, namun masih jarang dibicarakan secara terbuka karena dianggap memalukan. “Fenomena yang dialami 30‑50 persen pelari jarak jauh, tapi masih kurang dibicarakan terbuka karena dianggap memalukan,” kata Dr. Andi saat dihubungi pada Kamis, 28 Mei 2026.
Dalam literatur, Dr. Andi menambahkan bahwa situasi kebelet BAB saat lomba disebabkan oleh tiga faktor utama:
- Splanchnic ischemia – saat berlari intensitas tinggi, tubuh memprioritaskan aliran darah ke otot kerja dan kulit untuk mengeluarkan panas. Aliran darah ke usus bisa turun hingga 80 persen. Usus yang “kekurangan oksigen” menjadi lebih sensitif, motilitasnya kacau, dan permeabilitasnya meningkat.
- Mechanical jostling – gerakan berulang yang mengguncang organ pencernaan. Dalam satu marathon, pelari melakukan lebih dari 40.000 langkah. Agitasi mekanis ini sangat signifikan bagi usus.
- Perubahan hormonal – tubuh mengalami lonjakan katekolamin (adrenalin) dan motilin selama olahraga intensitas tinggi yang langsung merangsang kontraksi usus.
Bagaimana seharusnya pelari menanggapi kondisi ini? Beberapa pelari mungkin akan terus memaksa menyelesaikan balapan, meskipun rasa mules sudah menjalar. Yang lain memilih untuk did not finish (DNF). Keduanya keputusan pribadi yang valid, tegasnya Dr. Andi.
Namun, sebagai dokter olahraga yang memprioritaskan keselamatan, ia mengingatkan adanya red flags yang seharusnya membuat pelari berhenti, bukan sekadar memperlambat pace, di antaranya:
- Munculnya darah di tinja, baik warna merah segar maupun hitam seperti aspal. Ini bisa jadi indikasi ischemic colitis, komplikasi yang jarang tapi serius.
- Nyeri perut hebat yang bukan sekadar kram.
- Pusing berat, mata berkunang‑kunang, atau hampir pingsan.
- Tanda dehidrasi berat (urine sangat pekat, tidak berkeringat padahal panas).
- Demam atau muntah berulang.
Tanpa red flags ini, dan jika pelari memang siap menanggung “konsekuensi”, secara medis biasanya tidak sampai membahayakan jiwa. Namun, mengejar podium dengan mengabaikan sinyal tubuh adalah pertaruhan, tutupnya Dr. Andi.
Kesimpulannya, gangguan pencernaan saat berlari adalah masalah yang cukup umum namun sering disembunyikan. Mengetahui penyebabnya dan mengenali tanda-tanda peringatan dapat membantu pelari membuat keputusan yang lebih aman selama lomba.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Menyundul Bola Aman? Dokter Saraf Buka Suara
Rodri Bangkit dari Cedera Horor, Bawa Spanyol ke Final Piala Dunia
Hyrox Bukan Lari Biasa, Butuh Latihan Total Tubuh
Lamine Yamal Tumbuh 10 Cm dalam Setahun
Dokter: Risiko Cedera Hyrox Tak Main-Main
Tuchel Izinkan Pemain Bercinta, Dilarang Saat Hari Pertandingan
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
