5 Kebiasaan Sepele Picu Gagal Ginjal di Usia Muda

Wahyu T. · 4 min baca · 6 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
5 Kebiasaan Sepele Picu Gagal Ginjal di Usia Muda

Gambar atau konten salah?

Gagal ginjal kini tidak hanya menyerang orang tua. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda yang terkena penyakit ini. Penyebabnya sering kali adalah kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele, tetapi perlahan-lahan bisa merusak ginjal.

Jika kebiasaan ini terus dilakukan, risiko kerusakan ginjal akan meningkat. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kebiasaan-kebiasaan tersebut sejak dini agar ginjal tetap sehat.

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang bisa memicu gagal ginjal pada usia muda:

1. Pola Makan Tidak Sehat

Makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan kemasan yang tinggi gula, garam, serta lemak jenuh kini sangat mudah ditemukan. Makanan-makanan ini sangat mudah dijangkau, terutama oleh anak muda.

"Trennya (makanan cepat saji) memang sasarannya ke anak muda. Alangkah baiknya dari orang tua sudah membiasakan (anaknya) makan sehat, hidup sehat," jelas spesialis jantung dan pembuluh darah dr Antonia Anna Lukito, SpJP(K), FIHA.

Padahal, jenis makanan ini bisa membebani ginjal. Spesialis penyakit dalam, dr. Yunia Indah Dewi, SpPD, mengatakan makanan yang mengandung natrium tinggi akan mengikat lebih banyak cairan yang dialirkan bersama darah ke jantung. Hal ini pada akhirnya meningkatkan tekanan darah.

"Tekanan darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dan tidak diobati akan merusak ginjal," katanya.

Selain itu, menurut dr Nguyen Quang Huy dari Departemen Penyakit Dalam Umum di Tam Anh Hospital, minuman manis seperti soft drink dan bubble tea berkontribusi pada obesitas serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 merupakan salah satu penyebab utama gagal ginjal kronis.

Sementara itu, alkohol memberi tekanan tambahan pada ginjal selama proses metabolisme dan dapat merusak sel-sel ginjal secara langsung.

Ia mencatat, makanan yang mengandung bahan pengawet yang tidak diizinkan dapat membawa logam berat seperti timbal atau kadmium. Logam berat ini bisa menyebabkan nefritis tubulointerstisial, yaitu kondisi peradangan yang dapat menyebabkan atrofi dan gagal ginjal.

2. Kurang Minum Air

Aktivitas yang padat sering kali membuat banyak anak muda lupa minum air putih. Namun, perlu diketahui, terlalu sedikit minum dapat menyebabkan urine menjadi lebih pekat. Kondisi ini meningkatkan risiko batu ginjal dan penumpukan racun.

Selain itu, menahan buang air kecil memungkinkan bakteri berkembang biak dan berpotensi menyebabkan infeksi saluran kemih berulang yang dapat merusak ginjal seiring waktu.

dr Huy merekomendasikan orang dewasa untuk mengonsumsi 2-2,5 liter air per hari. Ia juga menyarankan untuk membatasi asupan minuman manis, alkohol, tembakau, dan zat stimulan. Merokok dan menggunakan zat stimulan dapat menyempitkan pembuluh darah, mengurangi aliran darah ke ginjal, serta meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan proteinuria.

3. Penggunaan Obat yang Tidak Tepat

Anak muda sering kali menggunakan obat pereda nyeri dan antibiotik tanpa petunjuk tenaga medis untuk mengatasi keluhan ringan, seperti sakit kepala atau pilek. Jika dikonsumsi dalam dosis berlebihan atau dalam jangka waktu lama, obat-obatan tersebut dapat bersifat toksik bagi ginjal.

Selain itu, mengonsumsi suplemen atau obat tradisional yang asal-usulnya tidak jelas juga dapat membuat tubuh terpapar zat berbahaya atau bahan yang tidak diatur keamanannya.

4. Kurang Aktivitas Fisik

Usia muda sering kali dikaitkan dengan gaya hidup minim aktivitas, misalnya terus-menerus bekerja di depan laptop dan jarang berolahraga.

Padahal, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Ketiga kondisi ini merupakan faktor utama penyebab penyakit ginjal. dr Huy menganjurkan untuk berolahraga setidaknya 30 menit sehari selama lima hari dalam seminggu guna menjaga kesehatan tubuh.

5. Kurang Tidur

Tak jarang anak muda mengerjakan tugas atau lembur hingga larut malam sehingga harus begadang dan kurang tidur. Kebiasaan ini dapat mengganggu ritme biologis tubuh serta menghambat proses perbaikan alami pada ginjal.

Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar hormon yang berdampak buruk bagi tubuh. Pada akhirnya, hal ini dapat merusak ginjal.

Gejala Awal Sakit Ginjal

Gejala awal penyakit ginjal sering kali tidak disadari. Namun, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), Dr dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, munculnya busa atau perubahan warna pada urine bisa menjadi alarm bagi tubuh.

Urine yang berbusa menjadi tanda adanya albumin (protein) dengan kadar yang cukup tinggi. Sementara itu, urine yang berwarna kemerahan menandakan adanya sel darah merah (eritrosit).

"Kalau sudah berbusa, berwarna, itu sudah tinggi berarti (kadar kebocorannya). Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya," tambahnya.

dr Pringgodigdo menyarankan untuk memeriksakan urine setidaknya satu kali dalam setahun. Pemeriksaan urine atau urinalisis dapat dilakukan untuk mendeteksi masalah kesehatan, seperti infeksi dan gangguan ginjal.

Pemeriksaan urine dilakukan menggunakan stik plastik tipis yang dilengkapi strip berbahan kimia. Stik tersebut dicelupkan ke dalam wadah berisi sampel urine. Nantinya, strip akan berubah warna jika terdapat zat tertentu dengan kadar di atas batas normal.

Kebiasaan-kebiasaan seperti pola makan tidak sehat, kurang minum, penggunaan obat sembarangan, kurang gerak, dan kurang tidur adalah faktor risiko yang bisa diubah. Mengenali gejala awal seperti urine berbusa atau berubah warna, serta melakukan pemeriksaan urine rutin setahun sekali, bisa membantu mendeteksi masalah ginjal sejak dini sebelum berkembang menjadi gagal ginjal.

gagal ginjalanak mudakebiasaan tidak sehatpola makankurang minumobat sembarangangejala awal

Komentar

Memuat komentar...